About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Minggu, 21 Desember 2014

Teknik Panning



Baru beli sudah gaya. Sok-sokan belajar teknik di lapangan yang sulitnya luar biasa. Tapi toh bisa juga. Namanya cinta. Dibarengi mau dan upaya. Tidak sia-sia.

Jangan malu terus belajar. Masih ada lebih banyak hal yang perlu dikejar. Karena bagaimanapun sebuah samar, suatu saat akan bersinar.

Bias pada Lensa



Bias cahaya.
Tertangkap mata.
Kupadu di atas lensa.
Sebuah karya.

Begitu Saja



Tak cukup hanya tahu apa yang baik, tapi lebihkan dengan melakukan.
Tak baik hanya berpaling dari apa yang buruk, tapi beranjaklah lebih jauh.

Karena harap tak cukup hidup dalam mimpi.
Karena hidup tak cukup diam dalam batas asa.
Karena diam tak selalu baik.
Karena baik tak selalu diam.

Takdir tak selalu tentang yang terpikir untuk diperjuangkan.
Karena terkadang, kita berjuang begitu saja dalam hidup.
Karena segala sesuatu dapat menjadi begitu berarti, dengan cara, ya -- begitu saja.

Minggu, 14 Desember 2014

Alam, Salam!


Im ready for hunting some good places. With good friends. In a good mood. Bismillah. Hope I can tell you guys, some critical point of view in Tangerang City. My city my love. Whatever. However.

Cerah. Cerah. Cerah. Saya begitu bergairah. Semoga langit hari ini tidak marah. Ayolah.

Alam. Alam. Alam. Sepagi ini, telah kuberi salam. Dimanapun engkau mendekam, kudoakan diam-diam. Siang pun malam. Masa kini pun masa silam.

Tuhan. Tuhan. Tuhan. Terima kasih atas keberkahan. Meski sering lupa kami berjalan, tapi cinta teruntuk semesta menempati lubuk terdalam dan bertahan.

Karya Langit


Pelukis dapat menggores elok panorama. Penulis menguntai buih rupawan melalui kata. Pemusik mendentingkan alun irama. Talenta-talenta.

Sepertinya, tak ada dua saat mereka berkarya. Mempesona. Menggerak jiwa.

Akan tetapi, ketika Tuhan menampakkan diri, kalah sudah tak terbantah lagi. Indah tanganNya sudah harga mati. Tak tertandingi. Setinggi apapun bakat alami, karyaNya selalu menduduki peringkat tertinggi. Teduhkan hati, mendalam mencintai.

Meringkuk Ia Karena Rindu


Melepas rindu, seorang anak menarik sebuah baju dari lipatan terbawah sudut lemari kayu. Berbaring dalam iringan lagu, memeluk baju peninggalan ayahnya dahulu. Sebuah ruang hampa menjadi hantu. Bayangan-bayangan lemah berkelibat satu per satu. Menenggelamkan bisu.

Sang anak yang tak biasa menangis, mulai tersedu. Pejam matanya menikmati bau dari ingatan masa lalu. Kata orang dewasa, ada keindahan dalam rindu. Tapi kini, melemahkan hatinya yang sekuat batu.

Anak kecil yang malang. Bukannya membuka mata, ia meringkuk lebih dalam dan menghilang. Membiarkan jiwa melayang. Kepada sosok ayah tercinta yang entah kapan akan pulang.

Pagi!



Di sebelah sana, seorang nenek menyapu halaman meski subuh masih menggantung. Di bagian timur, anak bayi tertidur pulas di atas dipan pada rumah yang mengapung. Ada juga sepasang muda-mudi yang meski bukan muhrim, asyik bermesraan karena cinta tak terbendung. Dan tepat di sini, saya tersenyum menatap mentari sambil mengetik kata tak terhitung.

Pada puisi, saya mengabdi. Atas dasar hati, saya diilhami. Dengan tema nurani, deret aksara ini diharapkan melesat, melesak, mendiami para sanubari untuk mempercantik bumi pertiwi. Mari amini.

Ngomong-ngomong, sudah adakah yang mengeluh sedini ini? Entah karena emosi. Entah karena kelebihan halusinasi. Atau mungkin penuaan dini.

Sebelum mencaci, baiknya tengok sana-sini. Banyak yang mesti disyukuri. Lalu beralih mengejar mimpi. Waktu tak terbuang pasti, kehidupan yang baik menanti. Mari amini. Lagi.

Dan akhirnya saya ucapkan, selamat pagi! Lebarkan senyum, mari awali hari.

Jumat, 21 November 2014

Pak Tua yang Buta


Telah lama diam, sudah puas bermuka masam. Ia mengangkut gerobak kekecewaannya dan melemparnya ke tengah laut penuh air garam. Kulitnya hitam. Masa remajanya kelam. Luka mengusik wajahnya dalam-dalam.

Tapi waktu membuka. Ada hal-hal yang tak ia lihat dengan mata. Karena selama ini, ia buta. Tak terbayang sedikitpun seperti apa rupa dunia. Hampa.

Kini Tuhan telah mengangkat pilu. Ia mencoba bangkit dari sendu. Meski ragu, ia mencoba berjalan dengan kaku. Sendinya meronta satu per satu. Ia jatuh, dan merasa malu.

Tapi ada sesuatu. Telinganya menangkap keindahan yang ia sendiri tak tahu. Apa itu? Ada seling naik turun yang mendayu. Sebuah lagu. Tapi ia masih tak tahu.

Ia tercengang. Pikirannya melayang. Segala resah terbang. Hati rentanya mendadak tenang.

Diamnya selama ini menghilangkan segala bahagia yang seharusnya ada. Seandainya ia mau mencoba. Seandainya hidup ia lawan dengan lapang dada. Takkan ada kata sengsara.

Seperti bebungaan, wajah tuanya mekar bersemi. Seperti menemukan yang telah lama ia cari; terbukanya pintu hati.

Kamis, 20 November 2014

Mereka, yang Masih Jauh dari Dosa


Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka kelak akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu. –Umar bin Khattab

Aku masih dicukupkan menjadi seorang kakak. Tak terlalu berat beban pundak. Menjadi teman sepermainan, pun ibu kw dua sebagai pengarah, penunjuk apa yang tepat bagi jalur hidupnya kelak. Hanya saja, mesti tahu diri meletakkan kata ya dan tidak. Karena kendali emosi mereka masih jauh dari sempurna; begitulah anak-anak.

Tapi bagaimana rasanya menjadi sebenarnya ibu? Panut kalbu. Akankah melemahkan bahu? Ah, belum sampai waktu. Baiknya kuselipkan tanyaku meski imajinasi menggebu.

Aku hanya terlalu suka. Sungguh amat suka. Kepada wajah-wajah yang masih sangat berjarak dengan dosa.

Bagaimana Bisa



Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. -Q.S 2:45

Bagaimana bisa kita memilih keluh kesah daripada derum syukur?
Bagaimana bisa kita memilih menggunjing orang daripada berkaca?
Bagaimana bisa kita memilih bentakan daripada ajakan santun?
Bagaimana bisa kita memilih sombong daripada merundukkan hati?
Bagaimana bisa kita memilih mau menang sendiri daripada memberi sempat untuk mendengar?
Bagaimana bisa kita memilih amarah daripada bersabar?

Karena shalat yang tak terjaga. Bukan ketika dilihat. Bukan untuk meminta rasa kagum. Tetapi ketika kita menghadapNya, kita tidak sedang melapor, melainkan berbincang.

Ikat hati kepadaNya, maka tenang jiwa akan meluruhkan segala bentuk ego manusia.

Tetiba Rindu



Entah bagaimana aku menemukan kembali rinduku, kepadamu deretan syahdu. Telah lama kita tak bertemu, dan alasanku kerap waktu. Padahal engkau hidupku. Kepadamu, aku dapat menuangkan cairan-cairan dalam kepalaku.

Wahai baris kata, kini kita jumpa. Rinduku melata. Engkau, bagaimana? Ah, jangan bermuram durja. Aku tak pernah meninggalkanmu terlalu lama. Meski tak kugerakkan pena, hatiku senantiasa berkata-kata.

Sini, lihat, aku punya cara baru. Kurasa, kita akan sering bertemu. Aku pasangkan engkau kepada mahakarya Tuhan; potret-potret tertentu. Mungkin kita bisa bekerja lebih seru. Bagaimanapun, optimis aku. Dirimu dan potret-potret itu; entah seberapa banyak, semoga dapat mencerahkan pikir-pikir yang mulai mengkristal dan membatu. Hingga keluar dari buntu.

Dan ini kuperkenalkan satu. Potret mentari yang bersinar malu-malu.

Kamis, 30 Oktober 2014

Kepada Malam



Kepada malam
Aku terpikir apa-apa yang akan kau ucap jika dapat berkata


Akankah kau berpuisi, karena sepi

Mungkinkah kau bernyanyi?
Tapi sebaiknya tidak, ini waktu hening
Atau kau akan menceritakan sebuah kisah, kepada mereka yang gelisah
Dan bisa saja kau menatapku yang diam memperhatikanmu, memintaku menarik selimut, agar aku terjaga dari dingin yang menyulut
Tenang saja, telah kutenggelamkan diriku dalam hangat


Kepada malam

Andai kau dapat berbicara
Mungkin kita dapat berbincang hingga pagi memintamu beristirahat sejenak

Senin, 22 September 2014

Seorang Pengantin Wanita

Cinta adalah  sumber hidup. Ragam dalam dunia agar berwarna. Kebanyakan orang meyakini warna hidup terdapat pada merah, kuning, hijau, pun warna cerah lain. Kebanyakan orang lupa, hitam dan abu-abu juga merupakan warna. 

Kebanyakan orang berharap... warna hidup hanya ada ketika kita bahagia. Padahal, rasa sakit itu sendiri adalah warna. Keduanya berdampingan; memberi memori, mengajari, dan mewarnai.

Cinta. Satu hal yang terpikir ketika saya melihat sepasang pengantin. Pikiran saya akan melayang kepada bagaimana kiranya mereka mulai saling menjatuhkan hati. Seperti apa jatuh bangun keduanya dalam mempertahankan. Dan setelah segala, kuat cinta menjatuhkan pilihan untuk selalu meyakini, lalu kemudian membagi hidup berdua. 

Lalu saya menatap lekat pengantin wanita. Rona haru pun bahagia membuncah. Ah, saya dapat merasakan diri saya berada di sana. Suatu saat, suatu saat...

Menjadi pengantin wanita adalah pilihan hidup yang sama sekali berbeda dibanding pilihan hidup lain. Karena menjadi seorang pengantin wanita, artinya menyerahkan tidak hanya hati, tapi juga kesiapan untuk mendampingi, melindungi, dan mematuhi suami.

Duduk di sana, di sisi sang suami, artinya merelakan segala hidup untuk dibagi. Merelakan hati merasa bahagia dan terluka untuknya. Merelakan masa lalunya untuk diterima, masa kini dinikmati, dan masa depan dalam perencanaan bagi keluarga kecil yang akan dijalani.

Bagaimana seorang pengantin wanita berbahagia di sisi sang tercinta, begitu pula ia seharusnya akan selalu mencium tangan suaminya seperti apapun kehidupan membawa keduanya.

Bagaimana seorang pengantin wanita memahami, akan ada manusia-manusia baru dalam kehidupannya, dalam hubungan lebih dekat. Keluarga baru dalam cerita hidupnya, pun anak-anak yang akan lahir dari rahimnya. Manusia-manusia baru yang seharusnya juga ia cintai. Dan seharusnya pula ia berikan hal- hal terbaik bagi mereka.

Menjadi seorang pengantin wanita bukan kehidupan baru, melainkan meneruskan hidup. Hanya saja, ada seorang laki-laki yang melengkapi. Saling menuntun dan melanjutkan untuk selalu menjadi lebih baik satu sama lain.

Memutuskan menjadi seorang pengantin wanita sama sekali tidak sulit, ketika lelaki yang ia yakini telah dengan berani menyatakan dan meminta. Cukup katakan ya, dan ia telah memilih kehidupan yang lebih berwarna untuk dijalani.

Cukup diingat, warna adalah tentang terang pun pekat. Tapi percayalah, hidup bersama orang dan mereka yang kita cintai, adalah sebenar-benarnya cara menjalani hidup lebih baik.

Hanya sepasang pengantin yang memahami bagaimana cara menjalani hidup, yang akan bertahan hingga hanya perhentian nafas memisahkan.

Hanya sepasang pengantin yang saling menerima apapun dan bagaimanapun, tidak hanya saat itu, tapi juga di waktu-waktu selanjutnya, yang akan dimampukan saling menjaga hati dan diri masing-masing dari noda.

Karena hanya sepasang pengantin yang kekal cinta keduanya semasa hidup, yang tak ingin saling mengganti, yang akan kembali dipertemukan sebagai kesempurnaan dalam abadinya keindahan surga Illahi. Wallahua'lam bishawab. Insya Allah.

Semoga kita semua termasuk manusia-manusia yang tahu bagaimana cinta seharusnya berlaku. Dan mari mendoakan satu sama lain.
:)

Rabu, 23 Juli 2014

Tiada Henti, Sekali Lagi



Pada gemericik, aku tergelitik
Aliran air ini mengusik
Lamunanku menggubah diri menjadi irama musik

Menggoyang kepala kesana kemari
Menghentak jemari
Membangunkan para peri
Setelah seribu hari mati suri
Untuk kemudian ikut menari

Aku bersuka
Alam tak pernah kehilangan cara menentramkan lara
Sungguh aku benar-benar berdoa
Agar Kau jaga semesta, seribu tahun lebih lama

Bertahun aku dan para peri melagukan bahagia hati
Tanpa peduli nyanyian iri kerikil dan duri
Hingga lelah tak tertahan lagi
Kembali tertidur bertemankan mimpi-mimpi

Dalam dunia imaji
Aku masih menanti
Tiada henti
Sekali lagi

Minggu, 20 Juli 2014

Jagalah Hati



Dari detik ini, aku tak pernah tahu kapan kematianku ditetapkan. Tapi, mengingatnya adalah kebiasaan yang tak kubiasakan.

Siapa yang tidak takut mati? Pun beberapa dari kita berucap tak takut, hati kecil tak mampu dibohongi. Tidak, jangan dicela dulu. Bukan artinya menolak takdir Allah. Bukan artinya tak siap menerima segala hukuman atas dosa. Tapi, rasa takut itu berdasar kepada iman atas Allah. Atau atas Tuhan masing-masing. Kita merasa takut karena percaya akan kekuatan terbijak. Sekotor-kotornya manusia, hati kecil pasti percaya, ada zat yang telah mengatur baik buruk. Ada balasan atas yang lalu. Tapi kita, manusia, sengaja atau tak sengaja, lupa. Berdosa lagi. Berdosa lagi.

Jika surga dan neraka tak pernah ada. Masihkah kau sujud kepadaNya?

Bait yang selalu gue kagumi. Pemikiran menarik. Keberadaan surga dan neraka telah tetap dalam Al-Quran. Tapi seandainya tak ada, apa jadinya manusia? Ada saja, banyak kerusakkan.

Tapi tak usahlah dipusingkan. Untuk pahala dan dosa, itu tabungan kita. Untuk surga dan neraka, itu hadiah kita. Caranya, kita masing-masing yang tentukan. Iya, kita sendiri. Tolong dibold, italic, underline sekaligus. Kita sendiri. Bukan orang lain. Tapi gue tuh yah bingung, banyakkkkkkk yang repot ngurusin orang lain dan terbawa kata-kata orang lain atas diri kita sendiri.

Orang islam atau bukan, kerudungan atau engga, tua atau muda, pake peci atau pake topi koboy, laki-laki atau perempuan, itu bukan penentu kebaikan. Lalu apa? Hati. Allah telah tetapkan. Dari hati yang teramat benderang, sampai hitam kelam sekalipun, itu takdir Allah. Tapi banyak manusia yang sok tahu. Beda sedikit, dicela. Salah sedikit, dicela. Dan yang aneh ini, bener aja, dicela. Kebayang pas hisab nanti, mulut yang paling banyak ngaku dosa, hihihi.

Gue itu simpel. Engga suka sama yang kurang baik, itu aja. Mau dia beda agama, budaya, ras, negara, kasta, atau apapun, yang gue lihat pertama kali, insyaAllah pasti hati. Pembeda yang macem-macem itu buatan manusia. Tapi pembeda hati, itu buatan Allah.

Cuma hati yang mampu membuat kebaikan kita ingin dilihat atau tidak. Cuma hati yang mampu membuat mulut kita terjaga dari yang seharusnya tak terucap atau tidak. Cuma hati yang mampu membuat keputusan-keputusan hidup sudah benar atau belum. Cuma hati yang mengelola jiwa raga.

Tapi jangan salah kaprah. Jangan mentang-mentang yang penting hati, yang lainnya seenaknya.

Kasus satu.
"Ah, yang penting hati yang diliat, mabok gapapa dong, asal hatinya tetep baik."
Orang berhati baik, mana demen mabok. Ga baik buat kesehatan, dan dilarang sama agama. Tapi ada juga, misal, orang yang suka mabok tapi rajin sedekah. Nah, rajin sedekahnya sudah baik nih, yaa tinggal maboknya yang coba dihilangkan. Begitupun kasus lain di kehidupan. Yang sudah baik ditingkatkan, yang belum, dirubah agar baik.

Kasus dua.
"Nih kayak gue, gue tiap hari pake celana di atas mata kaki dan peci/hijab menutupi seluruh tubuh, udah pasti baiklah gue."
Baik kok pamer. Udah pasti baik kok sama anak suka pukul. Udah pasti baik kata-kata kok kayak engga pernah sekolah. Malu dong sama yang lihat peci kita/hijab kita. Sama nih, yang sudah baik ditingkatkan, yang belum, dirubah agar baik.

Got it, Guys?

Penampilan kita, sangat baik kalau dijaga, tapi akan jauh lebih baik disertakan dengan terjaga pula kata-kata, pun perilaku.

Sudahlah yuk, kita semua itu penuh dosa. Bedanya, banyak tidaknya. Boleh mengajak, tapi mohon, dengan cara yang baik, bukan mencela. Nabi Muhammad adalah sebaik-baik teladan.  Ingat itu aja. :) 

Seperti apapun orang lain, yuk ajak kepada kebaikan dengan cara yang baik pula. 

Seperti apapun kita dalam kata-kata orang lain, yuk pedulikan apa yang baik bagi kita saja. Yang tidak bermanfaat, cuekkin ajalah, jangan pusing sendiri.

Sebaik-baik penilai itu Allah ta'ala. Bagaimana ikhlas benar-benar menjadi penentu hati, karena ikhlas adalah poros setiap individu. Ikhlas dalam perilaku pun kata-kata, pasti membuat kita dengan sendirinya dicintai Allah. Pribadi yang dicintai Allah, hatinya akan menyetir kata-kata pun perbuatan kepada yang baik.

Yang membuat kita masih dilihat sebagai orang baik di mata manusia bukan karena kebaikan itu sendiri, tapi karena Allah masih menutupi aib kita. Coba Allah buka sedikiiiitt saja, mau dimana kita sembunyikan muka?

Jadi, yuk bareng-bareng, terus perbanyak istighfar atas gunungan dosa dan terus tingkatkan yang sudah baik.

Sembunyikan ibadah kita, sembunyikan aib sesama, seperti kita menyembunyikan aib diri sendiri.

Well, sudah kepada tingkatan apa hati kita? Sssst, cukup siapa sebagai penilai? Iyaaaaaaaa, Allah. Itu gaji pokok kita. Penilaian manusia, anggap bonus dari Allah. Namanya bonus, bisa ada bisa engga. :)

Jadi, masih takut mati? Bagus, dengan begitu, kita takut berbuat yang kurang baik. Dengan begitu, insyaAllah, kita lebih apik merawat hati.


Siap tidak siap, kematian itu dekat. Semoga ketika ia menyergap, hati kita pun telah taat.

Penutupnya, lagu Aa Gym cocok nih.

Jagalah hati, cahaya Illahi.
:)

Selasa, 15 Juli 2014

Teruntuk, yang Teramat



Kau manusia biasa, sekaligus istimewa.
Aku jatuh cinta padamu, berulang-ulang.
Rasanya seperti, aku ingin memberi segala mampuku.
Bahkan, hal-hal yang aku tak mampu, aku ingin memampukan diri; teruntukmu.

Kau tidak selalu lebih baik dari manusia lain, tapi kau tetap selalu lebih baik dari 
mereka, bagiku.
Hanya karenamu aku menjadi terang sekaligus pekat, jenius pun bodoh, hidup dan mati.

Wahai engkau, kecintaanku yang teramat.
Ketika waktu tiadamu tiba, engkau tahu pasti akan remuklah hatiku, padamlah inspirasiku.
Karena hanya dengan terbayang perginya engkau, aku mati suri.
Tapi kau pun tahu pasti, lapangku adalah cahaya.
Aku takkan larut dalam duka.

Dan sampai saat itu tiba, aku masih ingin kau lihat, aku perjuangkanmu.
Cintaku bukan sekadar kata, nyanyian, atau doa.
Tapi cintaku melompati batasan-batasan.

Ketika aku dimampukan mengurai syair, ingin kubukukan namamu.
Ketika aku dimampukan menyenandungkan melodi, ingin kugubah lagu kepada indahnya sosokmu.
Dan ketika aku dimampukan melirih tentangmu dalam doa, ingin kudatangi engkau, kukatakan berulang kali, kupeluk bertubi, bisikkan kata hati, engkau melodi yang takkan pernah mati.
Bagi hati; raga pun nurani.

Demi Allah yang Maha Mengetahui isi hati, tetaplah engkau di sisi, hingga kehilanganmu hanya akan kurasa ketika engkau tak lagi menginjak bumi.


I love you, Mom. Till the end of my life. I promise.

Putri Kecilmu. :")

Sabtu, 28 Juni 2014

Ramadhan, Marhaban



Ramadhan, Ramadhan, Ramadhan
Duhai engkau teladan
Dirindukan
Diharapkan setiap insan

Kami bersuka
Berburu setiap waktu membuka doa
Berpuasa
Mengharap segala buruk hati meluap sirna
Semoga

Duhai Tuhan, kami bukan pembuat pahala terjitu
Bukan pula pendosa nomor satu
Kami hanya perindu
Atas segala petunjuk pun cahayaMu
Bagi terang kalbu
Agar dekat kepada jalan menuju surgaMu

Maka Tuhan
Luluhkan kami kepada kebaikan
Hindarkan dari segala rayu syaitan
Teguhkan
Mampukan

Dan kepada Ramadhan
Marhaban
Marhaban
Marhaban



Jessica mohon maaf atas segala khilaf kata pun perbuatan. Selamat berlomba-lomba dalam ibadah dan perbaikan diri. Barakallahu fiikum. :)

Senin, 19 Mei 2014

Ketika Aku Marah



Ketika aku marah, jangan kau anggap aku berhenti mencintaimu.
Aku tak ingin kau terlalu jauh dari apa yang baik.
Aku tak sanggup melihatmu terlalu mudah lupa pada apa yang benar.

Ketika aku marah, jangan kau anggap aku berhenti mencintaimu.
Diamku tidak berarti benci.
Penolakanku tidak berarti selamanya.

Ketika aku marah, jangan kau anggap aku berhenti mencintaimu.
Karena ketika kau marah, aku tak menganggapmu berhenti mencintaiku.

Pada cinta, kita mendamba kasih penuh suka.
Tapi pada cinta, kita memahami suka pastilah berteman lara.
Kau sebab bagiku atas segala, pun aku bagimu.

Maka jika ada yang kurang pantas, tegur aku.
Kau pun, takkan henti kuingatkan.

Maka selama hatiku menjadi dasar senyummu, dan senyumku berdasar pada hatimu, tak ada yang perlu dikhawatirkan.
Kita akan tertawa, dan terluka bergantian.
Tapi, bagaimanapun, kita pasti kembali tersenyum, pada akhirnya.
:)

Jumat, 28 Maret 2014

Engkau, Al-Quran



Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu.
Dengan segala kerendahan hati, kau jalarkan ilmu dan wawasan.
Membuka ruang pemahaman, dan masih menyimpan jauh lebih banyak yang tak terpahami sama sekali, tapi Iqra’ adalah petunjuk, Iqra’ adalah penglihatan.
Maka kami membaca, mempelajari, untuk kemudian melupakan sumber segala pengetahuan yang benar.
Engkau, Al-Quran.

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu.
Dengan waktu telah kau lalui proses pendewasaan.
Potongan-potongan ayat tersusun menjadi rantai-rantai surat.
Menuliskan betapa lembut budi bahasamu.
Cermin kata dan teladan bagi perilaku.
Iya, masih engkau, Al-Quran, yang kemudian dengan mudah kami masih melupakanmu.

Dan bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu.
Karena engkaulah perantara, penyambung hati kami agar merindu, kepada satu-satunya yang mampu menggetar jiwa, mencipta suka dengan sekejap, dan menggubah lara menjadi mudah dirasa, hanya agar kami mengingatNya, agar kami tentu arah, dan agar kami tak terlalu jauh bertolak dariNya.
Juga, karena engkaulah sebenar-benarnya mukjizat, sebuah tanda bagaimana Ia begitu mencintai kekasihNya, Baginda Rasulullah SAW, seperti kami mencintainya.
Dan karena engkaulah amanah, penjagaan Tuhan atas pribadi manusia-manusia yang dikehendaki, pemelihara hati-hati yang lapang, penguat yang lelah, dan pedoman selamanya.

Meski melupakanmu teramat mudah, dengan setia engkau terbuka begitu saja ketika kami tengah dirundung duka.
Meski melupakanmu teramat mudah, dengan sabar engkau dendangkan nyanyian surga agar kami kembali terpompa.
Dan meski melupakanmu memang teramat mudah, tapi sungguh kau telah teramat cantik, teramat benderang, hingga tak mampu kami tak meletakkanmu pada dasar hati, bahkan ketika tertutup, karena sebagai cahaya, engkau akan selalu menjadi alasan mengapa pada sebuah hati yang paling hitam sekalipun, selalu terselip kebaikan meski hanya setitik.

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, duhai pelita.
Bagaimana mungkin...kami tidak mencintaimu.
Kami...sungguh mencintaimu.

Rabu, 29 Januari 2014

Mendongenglah Untukku



Aku tumbuh di desa, dengan penjagaan akhlak oleh wanita terbaik yang kusebut ibu.
Aku bukan ningrat, hanya wanita berdarah sunda biasa, namun dengan bekal cita-cita melaju hingga Eropa, dan berakhir pada lapangnya surga.
Telah kuicip rupa dunia.
Telah kuhabiskan usia kemarin dengan memahami segala.
Maka, bagi kamu lelakiku nanti, bagaimana caramu menelan waktu usia?
Mendongenglah untukku.
Dan aku pun akan membagi segala yang telah kutatap kepadamu.

Sudah saatnya kita berdua.
Telah waktunya kita membuka.

Maka, bagi kamu lelakiku nanti, bagaimana caramu menerobos waktu dan menghampiriku?
Mendongenglah untukku.
Dan aku akan membagi segala yang telah kutatap kepadamu.

Jika bukan kita, siapa lagi?





Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. – Samuel Smiles - 



Apa yang kalian suguhkan, maka seperti itulah kalian mendidik penerus-penerus; putra-putri kami.



Sedih, semakin kesini media semakin “brutal”. Apa-apa yang dipertontonkan dan diperdengarkan seperti barang-barang jualan pinggir jalan. Hal-hal yang kurang pantas banyak diperlihatkan dengan sangat murah.



Satu sisi ada rasa marah. Segala yang telah diizinkan untuk dilihat pasti telah melewati berbagai tingkat persetujuan pemimpin. Dan dari situ bisa dilihat tingkat iman dan intelektual pemimpin-pemimpin yang kita miliki; asing pun dalam negeri. Meski, tak adil rasanya jika menyamaratakan mereka. Ada, entah mencapai sebagiannya atau tidak, tapi ada di antara mereka berjalan dan menjalankan wewenang pun kewajiban sebagaimana mestinya. 

Dan para orang tua yang membiarkan. Dalam batas pengawasan pun tidak, tetap, andil terbesar pertumbuhan seorang anak ada di sana; mata dan lengan yang membesarkan. Orang tua tidak hanya berarti pertalian sedarah, karena tidak semua anak beruntung. Masih banyak di antara mereka yang dibesarkan oleh saudara bahkan orang lain sama sekali. Terlebih, tanpa siapa-siapa, dan yang ia punya hanya lingkungan. Tapi tidak perlu berpikir jauh ke sana, bahkan yang masih mempunyai kesempatan diawasi pun, telah banyak ditelantarkan nasib masa depannya. Iya, dibiarkan tanpa kepedulian. Maka, hanya pemimpin-pemimpin dan para orang tua yang lebih memilih berjalan pada keputusan yang salah yang akan menanggung segala akibat; disadari atau tidak.

"Didiklah anak-anakmu dan perbagus adab mereka" (HR. Ibnu Majah)



Satu sisi lainnya, ada rasa kasihan. Apa-apa yang telah disesatkan, mereka-mereka yang telah jauh berpaling dari cahaya, akan sampai kapan berada di sana? Dan mereka yang memiliki wewenang, akan sampai kapan membiarkan?



Satu sisi lagi, ada rasa sedih. Apa yang mampu saya lakukan? Mendoakan yang paling mudah, tapi tentu itu tak cukup. Beberapa yang terjangkau, mungkin bisa dicoba meski hanya sekadar kata yang tak didengar. Tapi siapa tahu, suatu saat akan mengingatkan ketika tak ada lagi kesenangan sementara yang mereka dapatkan. Suatu saat akan mengingatkan, apa yang telah mereka dapat dari kegiatan tidak peduli mereka terhadap penerus-penerus; putra-putri mereka sendiri?



Semakin kita kritis, semakin kuat aura dan pola pikir, semakin banyak kemampuan, maka semakin banyak yang dapat kita lakukan. Pilihannya hanya dua. Benar-benar hanya dua. Why be negative when you can be positive?



Dan kesimpulannya memang selalu di sana. Iya, tentang jalan hidup dan pilihan masing-masing.



Seperti penulis yang bisa “semaunya” menentukan siapa yang harus berada di sisi positif dan siapa yang memang telah digariskan dalam lingkaran hal-hal negatif. Itulah Tuhan. Telah ditetapkan dengan seadil-adilnya. Segala sesuatu terjadi atas dan untuk sebuah alasan. Sebab-akibat. Iya, kesimpulannya memang seperti itu. Tapi, mari berpikir seperti ini. Segala garis tangan Tuhan telah ada bahkan sebelum kita melihat dunia. Maka apapun yang datang, mudahkan hati kita menerima dan tak ingin lupa untuk terus meninggikan syukur dan istighfar. Tapi jauhkan dari kata pasrah. Mentang-mentang semua sudah diatur, terus kita tinggal diam mengikuti takdir Tuhan. Ah, itu pembodohan diri sendiri namanya.



" Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya " (QS Ar-Ra'd 11)



Singkat kata, tidak perlu kita perbaiki berbagai hal. Perbaiki saja hati kita, maka dengan sendirinya segala akan menjadi lebih baik lagi. Tapi hati yang baik tidak lantas mengeluarkan kita dari cobaan, itu hal yang mustahil. Namun, hati yang baik akan memudahkan perkara-perkara kita. Percaya ucapan saya :)



Sudah mampu menarik kesimpulan?
Iya, media yang buruk dan lingkungan akan mendidik jiwa dan mental para anak, tapi sifat-sifat dasar sang anak dan kepedulian orang-orang terdekat yang tetap akan menentukan. Jika sudah seperti ini cara pemimpin-pemimpin kita mengeruk keuntungan; dengan menjajakan barang-barang plastik yang halus memang luarnya, tapi mudah sekali terbakar pun rusak, maka masih ada manusia-manusia pemikir dan mereka yang peduli yang sanggup membentengi; di samping tanaman iman pada masing-masing anak itu sendiri.




Ingin berada di posisi manakah diri kita, memilihlah. 
Jika bukan kita, siapa lagi?