Di sebelah sana, seorang nenek menyapu halaman meski subuh masih menggantung. Di bagian timur, anak bayi tertidur pulas di atas dipan pada rumah yang mengapung. Ada juga sepasang muda-mudi yang meski bukan muhrim, asyik bermesraan karena cinta tak terbendung. Dan tepat di sini, saya tersenyum menatap mentari sambil mengetik kata tak terhitung.
Pada puisi, saya mengabdi. Atas dasar hati, saya diilhami. Dengan tema nurani, deret aksara ini diharapkan melesat, melesak, mendiami para sanubari untuk mempercantik bumi pertiwi. Mari amini.
Ngomong-ngomong, sudah adakah yang mengeluh sedini ini? Entah karena emosi. Entah karena kelebihan halusinasi. Atau mungkin penuaan dini.
Sebelum mencaci, baiknya tengok sana-sini. Banyak yang mesti disyukuri. Lalu beralih mengejar mimpi. Waktu tak terbuang pasti, kehidupan yang baik menanti. Mari amini. Lagi.
Dan akhirnya saya ucapkan, selamat pagi! Lebarkan senyum, mari awali hari.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar