Telah lama diam, sudah puas bermuka masam. Ia mengangkut gerobak kekecewaannya dan melemparnya ke tengah laut penuh air garam. Kulitnya hitam. Masa remajanya kelam. Luka mengusik wajahnya dalam-dalam.
Tapi waktu membuka. Ada hal-hal yang tak ia lihat dengan mata. Karena selama ini, ia buta. Tak terbayang sedikitpun seperti apa rupa dunia. Hampa.
Kini Tuhan telah mengangkat pilu. Ia mencoba bangkit dari sendu. Meski ragu, ia mencoba berjalan dengan kaku. Sendinya meronta satu per satu. Ia jatuh, dan merasa malu.
Tapi ada sesuatu. Telinganya menangkap keindahan yang ia sendiri tak tahu. Apa itu? Ada seling naik turun yang mendayu. Sebuah lagu. Tapi ia masih tak tahu.
Ia tercengang. Pikirannya melayang. Segala resah terbang. Hati rentanya mendadak tenang.
Diamnya selama ini menghilangkan segala bahagia yang seharusnya ada. Seandainya ia mau mencoba. Seandainya hidup ia lawan dengan lapang dada. Takkan ada kata sengsara.
Seperti bebungaan, wajah tuanya mekar bersemi. Seperti menemukan yang telah lama ia cari; terbukanya pintu hati.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar