About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Jumat, 28 Maret 2014

Engkau, Al-Quran



Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu.
Dengan segala kerendahan hati, kau jalarkan ilmu dan wawasan.
Membuka ruang pemahaman, dan masih menyimpan jauh lebih banyak yang tak terpahami sama sekali, tapi Iqra’ adalah petunjuk, Iqra’ adalah penglihatan.
Maka kami membaca, mempelajari, untuk kemudian melupakan sumber segala pengetahuan yang benar.
Engkau, Al-Quran.

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu.
Dengan waktu telah kau lalui proses pendewasaan.
Potongan-potongan ayat tersusun menjadi rantai-rantai surat.
Menuliskan betapa lembut budi bahasamu.
Cermin kata dan teladan bagi perilaku.
Iya, masih engkau, Al-Quran, yang kemudian dengan mudah kami masih melupakanmu.

Dan bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu.
Karena engkaulah perantara, penyambung hati kami agar merindu, kepada satu-satunya yang mampu menggetar jiwa, mencipta suka dengan sekejap, dan menggubah lara menjadi mudah dirasa, hanya agar kami mengingatNya, agar kami tentu arah, dan agar kami tak terlalu jauh bertolak dariNya.
Juga, karena engkaulah sebenar-benarnya mukjizat, sebuah tanda bagaimana Ia begitu mencintai kekasihNya, Baginda Rasulullah SAW, seperti kami mencintainya.
Dan karena engkaulah amanah, penjagaan Tuhan atas pribadi manusia-manusia yang dikehendaki, pemelihara hati-hati yang lapang, penguat yang lelah, dan pedoman selamanya.

Meski melupakanmu teramat mudah, dengan setia engkau terbuka begitu saja ketika kami tengah dirundung duka.
Meski melupakanmu teramat mudah, dengan sabar engkau dendangkan nyanyian surga agar kami kembali terpompa.
Dan meski melupakanmu memang teramat mudah, tapi sungguh kau telah teramat cantik, teramat benderang, hingga tak mampu kami tak meletakkanmu pada dasar hati, bahkan ketika tertutup, karena sebagai cahaya, engkau akan selalu menjadi alasan mengapa pada sebuah hati yang paling hitam sekalipun, selalu terselip kebaikan meski hanya setitik.

Bagaimana mungkin aku tidak mencintaimu, duhai pelita.
Bagaimana mungkin...kami tidak mencintaimu.
Kami...sungguh mencintaimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar