About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Rabu, 29 Januari 2014

Jika bukan kita, siapa lagi?





Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. – Samuel Smiles - 



Apa yang kalian suguhkan, maka seperti itulah kalian mendidik penerus-penerus; putra-putri kami.



Sedih, semakin kesini media semakin “brutal”. Apa-apa yang dipertontonkan dan diperdengarkan seperti barang-barang jualan pinggir jalan. Hal-hal yang kurang pantas banyak diperlihatkan dengan sangat murah.



Satu sisi ada rasa marah. Segala yang telah diizinkan untuk dilihat pasti telah melewati berbagai tingkat persetujuan pemimpin. Dan dari situ bisa dilihat tingkat iman dan intelektual pemimpin-pemimpin yang kita miliki; asing pun dalam negeri. Meski, tak adil rasanya jika menyamaratakan mereka. Ada, entah mencapai sebagiannya atau tidak, tapi ada di antara mereka berjalan dan menjalankan wewenang pun kewajiban sebagaimana mestinya. 

Dan para orang tua yang membiarkan. Dalam batas pengawasan pun tidak, tetap, andil terbesar pertumbuhan seorang anak ada di sana; mata dan lengan yang membesarkan. Orang tua tidak hanya berarti pertalian sedarah, karena tidak semua anak beruntung. Masih banyak di antara mereka yang dibesarkan oleh saudara bahkan orang lain sama sekali. Terlebih, tanpa siapa-siapa, dan yang ia punya hanya lingkungan. Tapi tidak perlu berpikir jauh ke sana, bahkan yang masih mempunyai kesempatan diawasi pun, telah banyak ditelantarkan nasib masa depannya. Iya, dibiarkan tanpa kepedulian. Maka, hanya pemimpin-pemimpin dan para orang tua yang lebih memilih berjalan pada keputusan yang salah yang akan menanggung segala akibat; disadari atau tidak.

"Didiklah anak-anakmu dan perbagus adab mereka" (HR. Ibnu Majah)



Satu sisi lainnya, ada rasa kasihan. Apa-apa yang telah disesatkan, mereka-mereka yang telah jauh berpaling dari cahaya, akan sampai kapan berada di sana? Dan mereka yang memiliki wewenang, akan sampai kapan membiarkan?



Satu sisi lagi, ada rasa sedih. Apa yang mampu saya lakukan? Mendoakan yang paling mudah, tapi tentu itu tak cukup. Beberapa yang terjangkau, mungkin bisa dicoba meski hanya sekadar kata yang tak didengar. Tapi siapa tahu, suatu saat akan mengingatkan ketika tak ada lagi kesenangan sementara yang mereka dapatkan. Suatu saat akan mengingatkan, apa yang telah mereka dapat dari kegiatan tidak peduli mereka terhadap penerus-penerus; putra-putri mereka sendiri?



Semakin kita kritis, semakin kuat aura dan pola pikir, semakin banyak kemampuan, maka semakin banyak yang dapat kita lakukan. Pilihannya hanya dua. Benar-benar hanya dua. Why be negative when you can be positive?



Dan kesimpulannya memang selalu di sana. Iya, tentang jalan hidup dan pilihan masing-masing.



Seperti penulis yang bisa “semaunya” menentukan siapa yang harus berada di sisi positif dan siapa yang memang telah digariskan dalam lingkaran hal-hal negatif. Itulah Tuhan. Telah ditetapkan dengan seadil-adilnya. Segala sesuatu terjadi atas dan untuk sebuah alasan. Sebab-akibat. Iya, kesimpulannya memang seperti itu. Tapi, mari berpikir seperti ini. Segala garis tangan Tuhan telah ada bahkan sebelum kita melihat dunia. Maka apapun yang datang, mudahkan hati kita menerima dan tak ingin lupa untuk terus meninggikan syukur dan istighfar. Tapi jauhkan dari kata pasrah. Mentang-mentang semua sudah diatur, terus kita tinggal diam mengikuti takdir Tuhan. Ah, itu pembodohan diri sendiri namanya.



" Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya " (QS Ar-Ra'd 11)



Singkat kata, tidak perlu kita perbaiki berbagai hal. Perbaiki saja hati kita, maka dengan sendirinya segala akan menjadi lebih baik lagi. Tapi hati yang baik tidak lantas mengeluarkan kita dari cobaan, itu hal yang mustahil. Namun, hati yang baik akan memudahkan perkara-perkara kita. Percaya ucapan saya :)



Sudah mampu menarik kesimpulan?
Iya, media yang buruk dan lingkungan akan mendidik jiwa dan mental para anak, tapi sifat-sifat dasar sang anak dan kepedulian orang-orang terdekat yang tetap akan menentukan. Jika sudah seperti ini cara pemimpin-pemimpin kita mengeruk keuntungan; dengan menjajakan barang-barang plastik yang halus memang luarnya, tapi mudah sekali terbakar pun rusak, maka masih ada manusia-manusia pemikir dan mereka yang peduli yang sanggup membentengi; di samping tanaman iman pada masing-masing anak itu sendiri.




Ingin berada di posisi manakah diri kita, memilihlah. 
Jika bukan kita, siapa lagi?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar