About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Minggu, 22 Desember 2013

Hari Ibu 22 Desember 2013



Pada satu kasih, terlembut dan tertulus. Pada satu cinta, terbaik pun terdalam. Pada apapun bentuk yang mampu kuungkap, tak satupun dapat menerangkan bangganya aku memiliki sosokmu, Ibu. Namun setinggi-tingginya cinta ini, kau akan selalu lebih mencintaiku.

Matamu; bercahaya menguatkan. Mengurai arti sebenar-benarnya kasih. Membuka mata hatiku jikalau aku tengah tersesat. Namun sedihnya aku, ketika disadarkan bahwa waktu membuatnya semakin sayu.

Senyummu; melengkung  menenangkan. Membuat aku mengerti cara memandang dunia agar tak meninggi aku dibuai prestasi; tak hancur disentak cobaan. Dan pedihnya aku, ketika disadarkan waktu terlalu cepat mengukir lekukan kerut-kerut.

Lenganmu; halus menjaga. Kuat menghalau segala duka yang mungkin akan membuatku terluka; lembut membelai dan mendekap ketika aku terlanjur dibalut asa. Namun betapa teririsnya aku, ketika disadarkan waktu menghisap energimu; dan kau melemah.

Langkahmu; tulus menapak. Menuntunku mempercayai pada satu-satunya kekuatan terbesar, kelembutan terindah, ketinggian akidah, dan kemurnian cinta. Mengingatkanku untuk tetap berjalan lurus pada satu cahaya; kemilau surga. Namun tertunduklah aku, ketika disadarkan bahwa waktu tak selamanya mengizinkanmu berdiri tegap di sampingku.

Dengan sedemikian rupa, waktu mempersiapkanmu menemui ajalmu. Namun sampai saatnya tiba, engkau telah berusaha memastikan aku telah kau jadikan mampu menghadapi angkuh dunia; menelan dengan mudah kepahitannya; lalu menjadi pencipta segala kebaikan, bercahaya bagi pribadiku dan orang-orang sekitar. Engkau telah berusaha memastikan aku didampingi sebaik-baiknya pendamping. Engkau telah berusaha memastikan kehidupanku akan tetap sempurna, meski dirimu telah tiada.

Aku begitu memahami engkau telah begitu menua, namun aku tetap merasa tak siap kau tinggalkan. Karena sungguh, Ibu, tak kumiliki satupun yang teramat berharga kecuali engkau. Namun tak ingin pula aku melihatmu terlalu lama berjuang memerangi kehidupan. Tak ingin pula aku menatapmu memikirkan lebih banyak cara membuatku tetap bahagia. Maka dengan kecintaanku yang telah teramat; teruntukmu, akan kulapangkan engkau beristirahat dengan tenang. Jangan khawatirkan aku, kehidupanku telah kau persiapkan; sebagaimana aku akan mempersiapkan kehidupan anak-anakku kelak. Jangan khawatir, Ibu. Satu yang ingin pula kupastikan bagi berjalannya kebaikan untukmu meski telah tiada nanti; doa kami putra-putrimu, insya Allah ‘kan selalu memberimu cahaya.

Dan sebelum masa itu tiba, ingatkan aku untuk banyak meminta maaf. Ingatkan aku untuk lebih gigih memperjuangkan kebaikan-kebaikan kehidupan. Ingatkan aku untuk tak malu memelukmu, meski sekadar mengucapkan, betapa aku mencintaimu.


Betapa aku...sangat mencintaimu.



Teruntukmu,
Sebuah cahaya dalam cahaya,
Ibu Ratna Diningsih Zainal
:’)

Minggu, 15 Desember 2013

Cintai Aku, sebelum kamu mencintai mereka


Cintai Aku, sebelum kamu mencintai mereka
Aku yang menghidupkan nafasmu
Menurunkan tuntunanmu, meski jarang kau baca
Mencipta junjunganmu, meski lupa kau tiru amalannya
Mempertahankan bumimu, meski seringkali kau rusak
Tapi Aku tetap memberimu cahayaKu
Meski caraKu tidak selalu seperti inginmu

Cintai Aku, sebelum kamu mencintai mereka
Berwudhulah agar dapat Kubasuh hatimu
Merunduklah agar dapat Kubelai ujung kepalamu
Berdzikirlah agar dapat Kujaga laku pun lisanmu
Memintalah agar dapat Kucoba pantaskah kamu

Cintai Aku, sebelum kamu mencintai mereka
Ingat Aku sebelum Aku mengingatkanmu
Rindukan Aku sebelum Aku merindukanmu

Cintai Aku, sebelum kamu mencintai mereka
Karena cintamu padaKu yang akan menuntun tapakmu
Pada surga dan nerakaKu

Senin, 14 Oktober 2013

to Love and to be Loved




Terkadang, kita tidak memahami bagaimana cinta menjatuhkan pilihan. Menjadikannya seperti yang tak perlu dipikir, karena terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tanpa isyarat, pun aba-aba.

Bisa saja cinta muncul penuh malu dan senantiasa dipendam. Atau bisa saja dibalut arogansi. Iya, sederhananya, gengsi. Bahkan bisa juga karena terpaksa, tapi akhirnya waktu yang akan membantu memilihkan, bahwa dengan keterpaksaan, cinta bisa juga tercipta. Apapun, tetap saja itu merupakan sebuah pilihan yang tak terpikir, karena terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tanpa isyarat, pun aba-aba.

Mencintai harus dengan hati. Jelas, apalagi? Tapi banyak yang keliru. Semua mengaku dari hati, tapi cinta yang pertama kali, sebenarnya tidak pernah dari hati. Cinta yang pertama akan penuh pengamatan. Melihat sana-sini, lebih kurang, luar dalam, dengan teliti. Cinta yang pertama, belum mengenal kata buta, karena cinta yang pertama masih melihat, ingin menyelami, mengenal, dan memilih.

 Lambat laun waktu mengajari, bagaimana tanpa disadari, hati mulai mengambil alih. Cinta bukan lagi sebuah kompromi. Bukan lagi sebuah pertimbangan. Tidak lagi memilih-milih. Ketertarikan tidak lagi terjadi atas dasar untuk memahami.

Cinta ditetapkan untuk sepasang, tidak lebih pun kurang. Tidak lebih karena hanya ditujukan untuk dua buah hati, dan tidak kurang karena bukan untuk dirasa sendiri. Ini spesifikasi tentang cinta yang saya pegang erat-erat sejak saya mulai mengenal bagaimana cinta memilihkan sebuah hati untuk saya terjatuh.

Saya tidak ingin membagi dan dibagi. Pun, tidak ingin merasakan sendiri.

Cinta adalah tentang apa yang dirasa hati. Sebuah ketulusan paling dalam, perlakuan istimewa, tindakan-tindakan mengorbankan diri, tidak berarti apapun, tak memberi satu kebahagiaanpun jika asalnya bukan dari yang tercinta. Hati tak akan pernah menginginkan. Kalaupun dipaksa, hanya akan terjadi sesaat saja, dan senyuman akan terlahir dari bibir, bukan hati. Tapi ketika yang tercinta melakukan, meski hanya sebuah tindakan yang teramat sederhana, ada luapan kegembiraan yang entah darimana datangnya. Itulah keajaiban cinta yang tak pernah mampu kita pahami.

Bukan berarti kita tak perlu melakukan berbagai hal untuk sang kekasih hati. Cinta yang benar sejati hanya akan ada jika terbentuk rasa saling bagi keduanya. Saling dalam pengertian, pengorbanan, kepedulian, dan bentuk-bentuk cinta lainnya. Saya ingin dan akan memperjuangkan apapun untuk yang tercinta, dengan syarat dia pun mencintai saya. Tidak akan terjadi sebuah pernikahan yang bahagia tanpa keduanya saling mencintai. Saya pun, tidak ingin melakukan apapun jika seandainya saya hanya merasakan cinta sendiri.

Cintailah seseorang yang juga mencintai kita. Jika sudah saling menemukan, jaga baik-baik dalam hati. Simpan rapat, jangan biarkan celah terlihat bagi orang asing, agar tak perlu ada yang dijahit karena luka. Tapi jika sudah terlanjur luka, selalu bisa disembuhkan jika keduanya masih saling ingin mengobati. Untuk saling merekatkan lebih rapat dan mengunci kebahagiaan untuk tidak terlepas lagi.

Tapi jika belum menemukan, jangan mencari dalam diri yang telah ditemukan. Selalu ada bagian hati yang kosong untuk disinggahi. Tuhan akan memilihkan, jangan pernah merasa terlalu lama menunggu, tidak perlu mengerutkan dahi dan mempertanyakan, karena akan ada bagiannya masing-masing.

Dan bagi keduanya, yang sudah menemukan, pun yang dalam proses menemukan, jangan biarkan rasa takut singgah dan memenangkan pikiran kita. Rasa takut akan rasa sakit. Inilah alasan bagi sebagian besar orang yang mengutuk cinta. Tidak mencintai, itulah kutukan sebenarnya. Sejak awal mencintai, sebenarnya kita telah sepakat untuk berteman dengan rasa sakit, karena cinta harus menimbulkan rasa sakit, tidak bisa jika hanya menginginkan kebahagiaan terus-menerus, karena yang seperti itu hanya ada di lingkungan surga.

Tanpa merasa sakit, kita tahu kita tidak mencintai. Tapi sekali lagi, jangan takut. Rasa sakit itu bisa dipelajari, dipahami. Biar kita mengenal caranya menjadi dewasa. Biar kita dimampukan menjadi lebih baik lagi. Lama-kelamaan, rasa sakit itu tidak akan mudah terasa. Puncak dari segala pembelajaran akan menghantarkan kita pada sebuah rasa yang tak perlu disebutkan. Hanya akan ada ketenangan di sana. Tapi bukan berarti tak ada lagi rasa sakit. Pelajaran baru tidak akan pernah berhenti datang, sampai masa kita tak ada lagi.

Dalam cinta, tidak satu hal pun akan mampu membuat satu sama lain berpaling. Satu-satunya alasan bagi hati yang tak lagi mengingini, jika cinta itu telah hilang dan tak ada lagi. Jadi tak perlu khawatir. Dia yang mencintai akan selalu mencintai. Tidak lagi ada lebih kurang, yang ada hanya sebuah rasa – cinta.



 

 Membahagiakan memang, bila kita telah mampu saling meyakini dalam cinta. Tapi berdoalah bahwa yakinnya kita ditetapkan atas ridha Allah. Agar mudah dan barokah. Insya Allah :)

Sabtu, 05 Oktober 2013

Siapkah Kita?



“Semalam aku mimpi, mimpi buruk sekali, kutakut berakibat, buruk pula baginya, suamiku tercinta, yang kini jauh di mata.” Hahaha. Kapan lagi diawalin lagu dangdut :p

Entah gimana awalnya, gue mimpi Si Putih meninggal, huhuhu. Kosong sekali rasanya, belum sempet ketemu dan engga bisa ketemu lagi. Nyesek. Gue nangis sejadi-jadinya. Terus mama meluk. Gue tumpahin semua tangisan di pelukan mama, sambil sebut Si Putih. Hiks.

Pas bangun capek sendiri. Sedihnya masih berasa. Tapi katanya kalo mimpi orang meninggal, menandakan yang meninggal tersebut panjang umur. Amiin. Doanya bukan panjang umurnya, tapi berkah umurnya. Amin lagi :)

Terus keinget om yang 2 tahun lalu meninggal, tepat di rumah gue sendiri. Cerita yang akan sulit gue percaya kalo engga gue alamin sendiri.

Sekitar jam 9 atau jam 10 gitu, beliau dateng ke rumah, seperti biasa kalo lagi ada urusan atau sekadar mampir sebentar. Kebetulan mama juga lagi ke rumah dulu, gue lupa lagi ada apa, tapi yang jelas gue denger suara-suara mama ngobrol sama om. Saat itu gue lagi asyik di kamar, bikin box berkotak-kotak dimana gue bisa nyimpen pernak-pernik gue macem kalung dsb.

Tanpa sadar, tau-tau sudah sepi aja. Mama kayaknya sudah balik ke kantor. Tapi kadang sayup gue denger suara om nanya Iji. Si Iji lagi asyik main PS di ruang tengah sama temen mainnya. Heran juga kenapa om engga balik ngantor. Sekitar jam sebelas (gue agak lupa jam tepatnya, kira-kira aja deh yah jamnya), gue keluar kamar, ngeliat om tidur. Anehnya, tidurnya kok di lantai, tepat di samping sofa panjang. Gue pikir sengaja mungkin. Gue balik ke kamar, ngambil bantal, tapi engga tega banguninnya. Gue taruh di samping kepalanya, dengan pikiran, kalo kebangun, ngeliat bantal, pasti langsung dipake bantalnya. Gue masuk kamar lagi, lanjut bikin boxnya.

Tanpa ada niat mau ngapain, setengah jam atau sejam kemudian, tetiba gue pengin keluar lagi. Gue nengok ke om, ngelewatin, tapi balik lagi. Kok kayak ada yang aneh. Posisi tidurnya engga berubah satu senti pun, dan ada satu lalat di muka beliau, tapi beliau diem aja. Gue refleks liat jari tangannya yang terbuka. Putih di setiap ujung jarinya. Gue bisa menyimpulkan, tapi gue takut kalo apa yang gue simpulkan benar. Perlahan gue pegang tangannya. That was so cold. Entah apa yang gue rasain saat itu. Panik, takut, perih, dan dalem hati langsung ngejerit berdoa, entah bagaimana, semoga yang gue simpulkan salah.

Gue panggil-panggil perlahan, nyoba ngebangunin. Tapi engga ada reaksi apapun. Gue mikir, gue harus apa. Gue kalut. Istighfar. Istighfar. Istighfar. Gue langsung nelpon mama. Engga diangkat-angkat. Nelpon A Vicky, engga diangkat-angkat juga. Terus teteh pulang. Ngelewatin om begitu aja, masuk kamar. Gue langsung samperin. Gue engga tau harus gimana ngomongnya, tapi kata-kata om meninggal itu, entah kenapa engga bisa gue sebut. Ralat. Engga mau gue sebut. Gue cuma minta teteh untuk liat om. Teteh bingung, orang lagi tidur kok suruh diliat, katanya gitu.

Eh kedengeran suara gerbang dibuka dan suara motor masuk. Mama. Gue lari keluar. Sama halnya dengan ngomong ke teteh. Gue cuma minta mama untuk liat om. Mama nanya ada apa, gue engga bisa jelasin. Pas mama liat, mama langsung panik. Mama teriak minta gue panggil ibu bidan yang rumahnya cuma beda 2 rumah dari rumah gue. Gue lari sekenceng-kencengnya. Ibu bidannya engga ada, tapi banyak yang nanya ada apa. Gue cuma bisa bilang om sakit. Tapi mungkin ekspresi gue aneh, banyak yang ngikutin ke rumah. Sampe rumah udah rame banget, padahal rasanya gue lari cuma beberapa detik aja. Orang-orang berkerumun. Ada yang mijit, ada yang ngaji, dsb. Mayoritas tetangga gue kenal sama om karena memang keluarga bibi sering main ke rumah. Gue disuruh panggil-panggil di kupingnya sama Ma Oja. Gue panggil-panggil lembut, berharap beliau denger, tapi hati gue paham di depan gue sudah tidak ada lagi sebuah jiwa. Cuma sebentuk raga yang sudah kosong.

Gue liat mama juga sudah paham, tapi masih berusaha. Engga lama, dateng aa, dateng mobil dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Di rumah tinggal gue sama teteh, jaga rumah. Tapi gue engga bisa tahan tinggal diam. Gue paksa teteh naik motor ke rumah sakit. Sampe rumah sakit, mobilnya aja engga ada. Gue nanya ke satpamnya. Dengan mudah security bilang, “Oh laki-laki yang barusan dibawa ke sini? Udah meninggal. Dibawa ke rumahnya.” Sontak gue nelen ludah, menguatkan diri sendiri. Pernyataan itu seakan membuka luka lebih dalam, yang tadinya masih bisa gue tahan perihnya. Di motor, gue nangis juga akhirnya. Tertunduk begitu dalam. Nangis yang tertahan. Berharap saat itu gue bukan lagi di tengah jalan yang rame, supaya bisa bebas menurunkan airmata. Gue kepikiran mama. A Vicky. Bibi. Anak-anak om. Gue tau sesampainya di rumah om, akan ada pemandangan yang bisa bikin hati gue jauh lebih sakit ngeliatnya. Gue hapus airmata, dengan kepedihan tertahan.

Sampe rumah om sudah rame. Mama lagi ngusap Bibi yang nangis histeris manggil-manggil om. A Dika juga di sampingnya, meluk bibi. Gue langsung nyari Tyar, anaknya yang paling bungsu. Dia ada di rumah depan, duduk di sofa, sendirian, engga mau dideketin siapa-siapa. Perlahan gue duduk di sampingnya, gue peluk, gue usap-usap, tapi dia diem aja nonton TV. Gue yang malah jadi ga tahan lagi pengin nangis, cuma gue biarin nyangkut di kerongkongan. Gue ajak ke dalem untuk liat om, tapi dia bersikeras engga mau, dengan muka datar. Gue bujuk, lama banget, gue bilang cuma untuk terakhir kali. Dia mau, tapi sebentar aja. Cuma sekilas dia liat abinya, terus keluar lagi. Engga lama, Dede, anak om nomor dua, dateng  masih dengan tas selempang, dari kampusnya. Dia duduk di atas lututnya, ngeliatin om yang sudah dimandikan, sudah ditutup kain kafan, dan kapas-kapas. Ada rasa nyeri yang bertambah ngeliat pemandangan itu.

Gue liat sekitar, banyak tamu-tamu yang ikut nangis. Sekelibat gue sedikit denger pada nanya meninggal karena apa. Tapi engga ada apa-apa. Meninggal pas lagi tidur di rumah gue. Gue juga cuma mondar-mandir, bantu ini itu seperlunya, tanpa ngomong sepatah kata pun. Rasanya minat untuk ngomong hari itu hilang sama sekali.

Beberapa bulan, keluarga gue nginep terus di rumah bibi. Nemenin bibi sekaligus bantu-bantu untuk yassinan dsb. Sulit sekali untuk bibi nerima keadaan. Suatu pagi, pernah gue liatin bibi tidur. Terus matanya terbuka, nanya sama gue, “Neng, udah siang begini kok si Abi belum pulang yah. Kasian belum makan siang.” Kerongkongan gue seret seketika. Mama banyak mengingatkan bibi untuk lillahita’ala. Yang sudah pergi harus diikhlaskan. Hari-hari yang berat, saat itu.

Gue pun nangis terisak saat gue cerita kronologi om meninggal ke si pacar. Buat gue, om bukan seorang paman, tapi seorang ayah. Beliau yang bonceng gue sama Dede keliling sambil nunggu waktu Maghrib di bulan Ramadhan. Beliau yang selalu anter jemput gue pulang pergi sekolah waktu kecil kalo lagi engga naik becak, termasuk sampe saat kuliah ketika gue pulang ke rumah om, beliau yang selalu sigap nawarin nganter pulang ke rumah. Bahkan terakhir ketemu pun, gue dibonceng pulang dari rumah bibi ke rumah gue. Satu-satunya percakapan terakhir, beliau cuma minta gue sms bibi untuk ngasih tau dimana kunci rumah, takutnya nyariin, karena saat itu masih sore dan rumah om engga ada orang.

Selebihnya, gue engga ngerasa ada tanda-tanda atau isyarat apapun untuk kepergian beliau. Begitu juga mama dan bibi. Cuma pas kemarinnya, bibi sempet ngomong minta anter beli sesuatu. Om tumben banget bilang, “Yaudah nanti. Abi kan lagi banyak kerjaan, sekali-kali Umi pergi sendiri, nanti uangnya Abi kasih. Harus mulai mandiri.” Sambil bercanda. Yaa kira-kira begitulah kata-katanya.

Hmm, banyak yang merasa kehilangan. Om orang yang sangat baik. Ga macem-macem hidupnya. Lurus-lurus aja. Kata orang-orang, meninggalnya dalam keadaan yang sangat baik. Engga ngerepotin sama sekali dan tenang. Heran juga di sampingnya kan ada Iji sama temen mainnya main PS, dan ada mba gue juga yang saat itu lagi nyetrika, di sampingnya juga. Mereka semua deketan, tapi engga ada yang denger sama sekali om merintih atau semacamnya. Yah, saat ini cuma amal beliau yang menentukan dan doa, terutama anak-anaknya yang insyaAllah semoga sholeh, rajin mendoakan orang tuanya.

Kejadian seperti ini, harusnya banyak mengingatkan yang masih hidup, yang masih diberi kesempatan untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Kematian selalu dekat, kita cuma tidak tau kapan, dimana, dan bagaimana. Bekal yang sudah kita tabung sedikit demi sedikit saja belum tentu menolong, karena adanya kemungkinan-kemungkinan ibadah kita yang tidak diterima.

Yuk, sama-sama saling meninggikan syukur, melapangkan dada, merendahkan sujud, melirihkan doa. Memintalah agar senantiasa hati kita didekatkan padaNya, dan pada makhluk-makhluk yang senantiasa pula meminta doa yang sama.

Jangan meninggikan hati kita, karena setinggi apapun, akhirnya semua hanya akan tertimbun dalam tanah.


Jangan takut mati, tapi takutlah ketika kematian datang, tidak ada kesiapan yang cukup untuk menolong kita. Naudzubillah mindzalik.

Kamis, 03 Oktober 2013

Lucid Dreaming


Semalem nonton lagi Inception. Eventhough it’s been many times to watch, I was never bored. Sebuah cerita tentang bagaimana meracik mimpi. Membuatnya sesuai keinginan, memahami apakah yang dialami mimpi atau nyata, bahkan lebih jauh lagi, mencuri sebuah ide (extraction), pun kebalikannya, menanamkan sebuah ide (inception). How cool.

Bukan bermaksud bahas filmnya, tapi gue mencoba mengaitkan pengetahuan ini apakah bisa menjadi nyata atau hanya sekadar ada dalam sebuah film.

Sebagian dari ide tentang meracik mimpi ini, menurut gue jelas bisa terjadi di alam nyata. Kenapa seyakin itu? Karena gue pernah mengalami. Sebelum cerita lebih jauh, harus paham dulu beberapa konsep. Ada yang namanya lucid dreaming, dimana ketika seseorang bermimpi, dia akan menyadari bahwa itu bukan alam nyata, melainkan sebuah mimpi. Nah, lucid dreaming ini dimulai dengan adanya dream realization, sebuah titik dimana seseorang akan mulai sadar bahwa ia sedang bermimpi. Kalau sudah seperti itu, mudah untuk bermimpi secara sadar, bahkan lebih jauhnya mengatur mimpinya sesuai keinginan (dream controlling), pun mencipta berbagai imajinasi yang mustahil terjadi di alam nyata. Awesome, right?

Contohnya kita kaitkan dengan film Inception, dimana Saito mengalami dream realization ketika terjatuh dan menyentuh karpet apartemennya, dia menyadari bahannya berbeda, sehingga dia tau dia sedang berada di alam mimpi, yang membuat misi Cobb gagal, padahal mimpinya sudah dibuat bertingkat. Ada lagi ketika Ariadne, seorang mahasiswi arsitektur yang berbakat, cerdas, dan memiliki imajinasi yang tinggi, menyadari dia sedang bermimpi saat bangunan-bangunan di sekitar dimana dia dan Cobb sedang duduk, seketika hancur. Dia langsung bisa melakukan dream controlling dengan mengubah dan membuat berbagai macam keajaiban yang dia tau tidak mungkin terjadi di alam nyata.

Tapi gue juga pernah baca, ada juga yang namanya subconsciousness (alam bawah sadar), yang membuat mimpi berjalan begitu saja tanpa dapat dikontrol. Terkadang, hal ini bisa juga terjadi dalam lucid dreaming. Seperti kehadiran Mal yang selalu ada dalam mimpi Cobb, karena perasaannya yang tidak bisa dilepaskan dari istrinya yang sudah meninggal itu.

Bagian yang tidak kalah menarik dalam bahasan kali ini adalah totem, yaitu sebuah benda yang digunakan untuk mengetahui apakah yang dialami nyata atau tidak. Wajarnya, sebuah mimpi akan selalu diselipkan keanehan-keanehan, baik dari design tempat, waktu, benda-benda sekitar, prosesnya, dan sebagainya. Katanya sih, dengan memiliki totem akan melatih kemampuan kita agar terbiasa dengan lucid dreaming. Contohnya adalah gasing milik Cobb yang jika diputar, akan terus berputar tanpa henti jika dia sedang berada di alam mimpi dan akan berhenti jika dia berada di alam nyata. Logikanya sih, ketika totem yang kita miliki terus-terusan kita gunakan, memori otak kita akan sangat terbiasa dengan benda itu dan otomatis terbawa dalam mimpi. Tapi gue belum pernah nyoba untuk bikin sebuah totem. Pengin tau sih bener engganya kegunaan si totem, nanti deh kalo sudah minat banget untuk belajar lucid dreaming :D

Tapi selain dengan totem, lucid dreaming juga bisa dilatih dengan mengingat atau bahkan menuliskan mimpi kita setiap habis bermimpi. Kita bisa memahami karakteristik mimpi kita. Katanya juga, hal-hal ini bisa dialami seseorang karena memang sudah bakat, tapi bisa juga karena dipelajari.

Beberapa informasi di atas gue dapet dari sepupu gue ketika gue tanya soal film Inception. Soalnya sebelum ada film itu, gue pernah ngalamin dan bukan sekali dua kali. Yah, ga persis dan ga segila film itu sih, meski ceritanya entah kenapa banyak yang gue pikir luar biasa.

Mimpi-mimpi gue lebih banyak tentang petualangan seru dengan keanehan yang kompleks dan cerita yang menyangkut perasaan, kaya misal pacar, keluarga, gitu-gitu deh.

Dan selalu sama, di setiap petualangan gue selalu jadi jagoan hahaha. Banyak mikir kalo sudah mimpi begitu. Tentang sebab-akibat permasalahan, siasat untuk ngalahin musuh dan nolong orang-orang, tapi lucunya selalu ada hal aneh yang ketika gue sudah bangun, gue nginget-nginget mimpinya, gue baru sadar ada yang lucu. Dulu gue seringnya cerita kalo habis mimpi hehe. Ga bermaksud ngelatih lucid dreaming, bahkan belum tau kalo ada lucid dreaming. Seneng aja nyeritainnya, kadang kalo lagi mau, gue tulis juga. Beberapa kayaknya ada di blog ini. Tentang Tsunami dan tiba-tiba ada Agnez Monica segala, kalo gue baca lagi selalu ketawa jadinya :D Tapi merinding disko juga karena ga lama dari itu Tsunami beneran terjadi :I Terus mimpi serangan-serangan dimana gue harus nyelametin keluarga, temen-temen, sampe orang-orang yang engga gue kenal. Gue bisa jadi apa aja kalo sudah mimpi petualangan, bisa terbang, bisa lari 1000 km tanpa ngos-ngosan, tapi perasaan semalem doang mimpinya, malah kadang cuma lima menit pas lagi ketiduran sebentar, bisa jadi berhari-hari di mimpi. Gue suka males kalo lagi seru mimpinya, terus bangun. Kalo lagi banyak waktu, gue bisa tidur lagi dan berapa kalipun gue kebangun, gue selalu bisa buat mimpi itu terus berlanjut sampe bener-bener bangun. Tapi kalo lagi engga pas timingnya, kayak misal sudah adzan maghrib, atau pas tidur malem bangunnya sudah waktunya mandi siap-siap kerja, kan ga bisa dilanjut. Tapi yang seru, gue pernah lagi putus waktu itu sama pacar, eh mimpi dia gitu, dan entah apa yang bikin gue nyampe titik dream realization, gue sadar itu lagi mimpi, gue atur mimpinya, supaya bisa deket, bisa ngobrol, ketawa bareng gitu haha, terus bangun, terus gue belum puas, gue ga mau bangun, gue lanjut tidur, lanjutin mimpi, sampe akhirnya bangun beneran dengan kangen yang terobati, saat itu :D (Eaa eaa e e. Ehh, itu ela ela e e. Krik.)

Teruuus. Kalo soal mimpi tentang perasaan, yaa engga jauh-jauh dari hal romantislah kalo sama pacar hihi, berantemnya juga ada. Terus kalo sama keluarga, seringnya mimpi bareng mama, jalan-jalan ke tempat-tempat semacem surga. Aseli. Indah banget. Pernah dulu mimpi jalan ke negeri raksasa kayaknya sih, semuanya serba besar, ilalang, bunga-bunga, rerumputan, tapi indahnyo luar biaso. Terus di pinggir jalan ngeliat sebrang ada tebing-tebing tinggi gitu dengan segala perpaduan warna. Terus pernah juga, kali ini sendiri, gue mimpi di kamar gue, tepat di langit-langit kamar gue tiba-tiba jadi langit beneran. Banyak awan-awan jalan dan latarnya biru laut, damai banget liatnya. Gue kena dream realization lagi. “Kayak gue tau ini tempat. Itu bukannya langit-langit kamar gue?”, pikir gue saat itu. Soalnya ada batasnya itu lengit. Kotak seukuran kamar gue, sedangkan garis sambung yang vertikal ke bawahnya cat dinding kamar gue. Gue langsung sadar lagi mimpi. Dan saat itu gue sudah harus bangun tapi enggan, lagi damai banget pemandangannya. Gue atur awannya supaya lebih banyak, entah gimana caranya, tercipta gitu aja di mimpi, tapi lagi nikmat-nikmatnya, muncul wajah orang, err hantu gitu sih tapi sekilas, yang engga tau kenapa bisa ada di situ. Gue agak kesal, dengan terpaksa mengakhiri mimpi yang diganggu. Ohya, jarang banget sih malah sangat jarang gue mimpi sosok hantu gitu, karena mungkin gue orang yang tidak begitu mempedulikan keberadaan mereka.

Eh by the way, gue jadi inget kata-kata temen gue dulu. Apa yang kita sering mimpikan, itulah diri kita di alam nyata, meski dengan fantasi kalo di alam mimpi. Kalo penakut, di mimpinya dia juga akan menjadi penakut, dsb. Mungkin karena gue ga peduli soal hantu, gue jarang mimpi begituan. Kalopun muncul bukan takut, tapi yang ada kesel, bawaannya pengin nyemburin dia pake ayat kursi aja biar pergi (entah ngaruh apa engga, tapi ampuh sih :D). Bisa jadi, karakter diri kita akan tetap sama di alam mimpi. Namanya juga berasal dari pikiran kita sendiri dan alam bawah sadar ya kan. Pendapat gue aja sih hehe.

Gue udah lama juga ga cerita soal mimpi apalagi sampe nulis, padahal banyak yang seru. Karena ga gue ceritain dan ga gue tulis, gue jadi lupa huhu. Soalnya kebanyakan mimpi yang pernah gue ceritain dan gue tulis, sampe sekarang masih gue inget lho meski ga detail banget. Jadi kalo mau inget atau sampai niat untuk ngelatih lucid dreaming, bisa dicoba cara-cara seperti yang sudah dijabarin.
 

Etapi  agak kurang paham juga sih yah apakah berbagi mimpi dengan banyak orang di mimpi yang sama bisa terjadi atau engga, kayak di film Inception. Tapi yang jelas kalo untuk menjalani hidup di alam mimpi seperti Cobb dan Mal lakukan, itu jelas engga mungkin. Kalo bisa, dunia nyata bakal sepi, pada ngungsi ke dunia mimpi semua, termasuk gue hahaha.

Seru banget. Dunia mimpi adalah dunia dimana segala hal bisa terjadi begitu saja, tanpa proses yang panjang, dan ada banyak imajinasi yang menjadi nyata, sehingga keindahan mudah dicipta, dirasakan. Tapi seindah apapun, mimpi tetap kosong tanpa terbangun dan mencipta keindahan itu sendiri menjadi benar nyata. Meski dengan proses, kesenangannya akan tetap sama ketika waktunya telah datang. Di kedua alam itu, toh tetap digambarkan harus selalu ada usaha.
 


Kesenangan dalam mimpi itu seribu kebahagiaan. Tapi kesenangan di alam nyata setelah prosesnya itu, seribu dikali satu juta kebahagiaan :)

Sabtu, 28 September 2013

No Topic



Alhamdulillah. Terima kasih Tuhan atas segala kelimpahan berkah dan detil-detil kebaikanMu dalam hidupku. Sungguh aku banyak lupa, banyak ingkar, banyak egois, banyak menuntut apa-apa yang belum atau mungkin bukan rezeki bagiku, tapi Kau tak pernah memalingkan wajah. LenganMu terlalu ringan akan kasih dan cinta kepadaku. Maafkan aku Tuhan. Terima kasih. Terima kasih.

Ga butuh satu tetes keringatpun kan untuk sekadar mengungkapan hal itu padaNya? Engga perlu panjang-panjang deh, cukup hamdalah bagi umat muslim. Cukup kata terima kasih Tuhan. Semudah itu. Maka kita akan dimampukan berbahagia. Atas apapun dan bagaimanapun.
                      

Engga perlu hal besar untuk mengucap syukur, mulailah dari yang kecil. 
Engga perlu bahagia untuk berterima kasih, berterima kasihlah untuk merasa bahagia.

Gue pribadi, dari kecil alhamdulillah sudah dibiasakan untuk engga jauh-jauh dari rasa syukur. Mudah kelihatannya, tapi engga gampang lho. Ajaran orang tua dan pengalaman kita step by step yang akan ngebentuk. Sampai sekarang juga masih banyak lupa, makanya masih perlu banyak diingatkan.

Gue berterima kasih sama Tuhan atas kehidupan. Atas caraNya mencipta, membentuk, mengajari, dan mengilhami, sampai jadilah gue yang sekarang, yang masih jauh dari sempurna, yang masih banyak khilaf, yang masih perlu banyak dicoba, yang masih dan akan terus dibentuk sampai waktu gue engga tersisa lagi.

Terima kasih Tuhan atas diriku. Keluarga. Calon keluarga (eh belum yah hahaha). Teman-teman. Lingkungan. Setiap orang di muka bumi.

Terima kasih atas segala, Rabb-ku. Terima kasih atas kehidupanku.


Naaaah. Akhirnya buka blog juga nih. Rencana cuma rencana, terhalang kesibukan (sibuk leyeh-leyeh), kesampean juga nyalain komputer terus langsung buka blogger :D Tiap ada isu, ada pikiran selintas, ah apapun, demi lho sudah mau jenguk kamu dari entah kapan, Be Awesome. Tapi yah mungkin memang baru waktunya sekarang. Sekarang juga cuma nulis sedikit saja tuh. Cuma mengingatkan diri untuk meninggikan dan meningkatkan syukur. Syukur-syukur kalo ada yang baca, ikut merasa diingatkan juga, lumayan, berkah :D

Hidup berputar sih. Banyak banget kalo mau diceritain satu-satu. Tapi saat ini, gue lagi menikmati kerjaan gue. Engga kepikiran bakal dapet jadwal enak, dengan segala tambahan kenikmatan dari Tuhan, entah kenapa persis seperti apa yang memang diharapkan dari awal gue kerja. Engga persis juga sih, nyerempet-nyerempetlah :D

Utamanya masalah akomodasi sih (nyengir lebar). Saat ini jarak dan waktunya lagi enak banget. Lebih mudah atur jadwal istirahat plussss punya banyak waktu sama orang rumah (sumber utama rasa syukur gue), meski namanya BUMN tetep engga ada kelonggaran soal jam kerja, tapi ya memang harus begitu kan, tanggung jawab, antara pemasukkan dana dari perusahaan dan pasokan tenaga dari pegawainya (entah gue ngomong apa ini).

Tapi satu sisi gue juga lagi merasa kurang produktif nih. Dulu kan kalo libur ada aja proyek gue (Keren kan, proyek :D). Sekarang, hari libur dan waktu senggang malah banyak main sama Iji. Main apa aja, apalagi kalo lagi ada keponakan, seakan dunia milik berdua *Lah?* Habisnya bikin capek gue hilang kalo sudah main sama mereka hehehe. Oh ya, sekarang nambah lagi deng kebahagiaan gue. Iji shalatnya ga bolong. Eh, bolong sih sekali-dua kali mah :D Dulu, dengan hadiah kaos usaha gue sendiri, berhasil meng-rajin-kan (apalah meng-rajin-kan), mmm, pokoknya Iji jadi ga alpa shalatnya. Tapi ga lama setelah itu, bolong-bolong lagi. Sekaraang, trik barunya adalah setiap doi shalat, ngaji, atau hal-hal yang patut diberi hadiah, gue beri imbalan uang. Dibikin aja selembar raport dimana akan ada tanda tangan gue atau mama yang menunjukkan dia sudah shalat. Uangnya dijajanin sama dia. Kadang ditabung, tapi ujungnya dijajanin juga hahaha. Wait, kok ngelantur yah, ah biasa kalo lagi ga fokus nulisnya suka gitu emang. Biarin aja. Kali aja kan bisa menginspirasi yang ada anak kecil di rumah atau di rumah tetangganya atau di rumah sodaranya :D

Terusin yah. Well, intinya memang bener kalo denger dari rekan-rekan kerja yang sudah nikah (bahasanya, rekan), ya sama aja, capek mereka hilang kalo sudah ketemu anak. Bawaannya sumringah. Yang ini gue agak mupeng gitu, ngebayangin, sama adik atau ponakan aja happy, gimana yah rasanya anak sendiri *ngelamun*

*1 hari kemudian*

Lanjuuut. Terus waktu libur, agak banyak tidur juga, istirahatin otak refresh tenaga (ah bilang aja emang dasarnya pelor hihihi). Et, tapi bukan berarti libur gue cuma main sama Iji terus tidur doang lho yah. Masa sih hal-hal positif dan berbagai kebaikan yang gue lakukan harus gue ceritain juga? Engga enak aaah (Pencitraan deh, hihihi).

Duh, kok sudah setengah dua belas aja nih. Lanjut engga lanjut engga lanjut engga (bentar lagi hitung kancing. Eh padahal bajunya ga ada kancingnya). Udahan dulu kali yah, lapar juga nih, nanti kalo makan pasti sambil nonton, terus ada film seru, terus jadi engga tidur, besok matanya cantik lagi deh hahaha.

*Lirik atas* *Mikir*
Nulis apa sih, Jess? Biarin ah, memang lagi ga ada topik. Biar jadi aja ini mah buka blognya :D

Sudah malam, yuk waktunya bersyukur atas segala, segala, segala yang telah terjadi, yang telah Tuhan beri, yang telah kita miliki. Dilanjut doa yah untuk segala, segala, segala proses, pola pikir, perbaikan diri, segala, yang insya Allah sedang dan akan selalu menjadi lebih baik :)


Bersyukur tidak membuat kita terlibat dalam kesulitan, justru akan sangat memudahkan ;)

Rabu, 07 Agustus 2013

Makna Idul Fitri



Pemerintah sudah mengumumkan, hasil sidang Itsbat menyatakan 1 Syawal 1434 H jatuh esok hari, tepatnya 8 Agustus 2013 kalender Masehi. Isu tentang dana yang mencapai angka luar biasa dalam penyelenggaraan sidang ini, saya pribadi sih agak kaget juga. Tapi benar tidaknya kembali kepada pribadi masing-masing. Pada niat-niat baik, semoga menjadi manfaat bagi kita semua. Dan bagi hal-hal yang dibelokkan untuk keuntungan pribadi, semoga Allah mengingatkan dengan cara yang baik. Wallahua’lam bishawab.

Yang jelas, hari kemenangan umat Islam jatuh di hari yang sama. Indah kan, kebersamaannya jelas terlihat karena semua merayakan dan berlomba menyuarakan takbir tanda kegembiraan, meski di satu sisi ada haru yang lebih dalam ketika menyadari Ramadhan sudah berakhir. Seberapa tinggi tingkat ibadah kita sebulan kemarin? Ada rasa bangga pun penyesalan pada diri kita, tapi yang terpenting adalah sebagai pribadi yang seperti apa kita akan terbentuk setelah ini.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Kita masih diberikan kesempatan merasakan syahdunya Bulan Suci Ramadhan dan insya Allah indahnya hari kemenangan esok hari. Ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak yang mengucap, “Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan.” Doa yang indah, namun akan jauh lebih indah jika doa itu terucap benar-benar dari hati, benar-benar didasari oleh niat yang tulus bahwa masih sangat banyak kekukarangan pada diri kita dalam menjalankan ibadah sebulan kemarin dan ingin memperbaikinya, mulai saat ini, hingga bertemu Sang Bulan penuh barakah, hingga seterusnya, sampai akhir hayat.

Dan banyak juga orang yang salah mengartikan bahwa ucapan minal aidin wal faizin artinya mohon maaf lahir dan batin. Sebenarnya artinya bukan itu, sama sekali bukan. Menurut yang pernah saya baca, dalam budaya Arab tidak ditemukan istilah seperti ini. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika saling bertemu pada hari raya, mereka saling mengatakan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Ditambah dengan, “Shiyamana wa Shiyamakum” dan “Taqobbal ya Karim.” Berikut arti dari ucapan yang sering kita ucapkan di Hari Raya Idul Fitri:

Taqabbalallahu minna wa minkum = Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan.
Shiyamana wa Shiyamakum = Semoga juga puasaku dan kalian diterima.
Sedangkan untuk kalimat minal aidin wal faizin itu sendiri berarti = Semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan.
Taqobbal yaa Kariim = Semoga (Terimalah do'a kita) Yaa Allah, Yang Maha Terpuji.
Itu adalah doa-doa, tapi tidak mengurangi kebaikan doa tersebut ketika dengan ikhlas kita tambahkan kata-kata saling memohon maaf lahir dan batin. Agar berkah, agar indah tali silaturahim kita sesama muslim. Insya Allah :’)

Berbicara mengenai kemenangan, banyak orang yang memiliki persepsi masing-masing akan kata ini. Kemenangan untuk saya pribadi adalah titik akhir sekaligus awal mula. Pada perjuangan dan pengorbanan, memang akan selalu ada garis akhir dan imbalan atas segala yang telah kita usahakan. Namun tidak berhenti di situ. Setelah mencapai titik kemenangan, setelahnya apa? Diam di tempat? Seharusnya tidak. Dalam hal ini, kemenangan kita melawan segala cobaan dan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa dibalas oleh Allah berupa pahala dan berkah hidup bagi ibadah-ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Tapi bukan berarti ibadah kita berhenti di sana. Bukan berarti kebaikan kita tidak mengalir lagi.

Dalam lomba manapun, setiap orang adalah juara bagi usaha dan perjuangannya masing-masing. Maka pada lomba selanjutnya, mereka akan berusaha lebih gigih agar menjadi sebenar-benarnya pemenang dan diberi imbalan piala ataupun hadiah tertentu. Sama halnya dengan ibadah. Tidakkah kita ingin menjadi yang terkasih di sisi Allah SWT? Mari terus berlomba, tanpa kenal apakah ini bulan Ramadhan atau bukan, tanpa perduli bagaimana sesama manusia akan melihat, tapi hanya karena semata-mata iman kita akan Islam, cinta kita akan Sang Illahi Rabb dan Rasulnya, Baginda Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya itulah sebenar-benarnya kemenangan.

Dan soal takbir keliling, ada pro dan kontra yang pasti timbul. Merayakan memang tidak melulu harus meriah. Setiap kita miliki cara masing-masing. Namun selama itu tidak menimbulkan mudharat, bagi saya sih sah-sah saja. Saya justru bahagia mendengar gema takbir dimana-mana. Asal tidak dibarengi petasan yah hehe. Bukan melarang, tapi sebaiknya tidak perlu, karena itu dia, lebih besar mudharatnya. Disamping membakar uang, juga membahayakan.

Kembali kepada takbir. Dari dulu zaman saya SD sampai sekarang, yang paling menarik hati adalah takbirnya anak-anak kecil. Sejak ba’da Isya, banyak dari mereka yang berbondong menuju langgar/mushola dan mesjid terdekat. Lalu bergantian pegang mic untuk menyuarakan takbir dengan ciri khas masing-masing. Suara yang melengking, kadang nadanya bertabrakan, tapi ada juga yang mulai mampu memahami bagaimana mengucap dengan benar. Tapi itu lucunya. Saya pun pernah merasakan dulu. Rasanya degdegan abis, tapi seru dan ga sabar pegang mic, tapi kembali degdegan pas udah pegang mic :D Terkadang saya malah karaokean di rumah pake mic juga, lagu-lagu Sulis yang saat itu ngetrend di zamannya. Ah, rindu sekali masa-masa itu. Tapi itulah kemenangan. Kita bebas merayakan. Asal kembali kepada yang pantas dan tetap diiringi doa bagi berkah Allah dalam setiap hal yang kita perbuat.

Inilah kemenangan kita bersama. Kemenangan Umat Muslim. Mari lantunkan kemenangan kita.

Allaahu akbar
Allaahu akbar
Allaahu akbar
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil – hamd

Artinya :
Allah maha besar (3X)
Tiada Tuhan selain Allah
Allah maha besar
Allah maha besar dan segala puji bagi Allah

Allaahu akbaru kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wasubhaanallaahi bukrataw - wa ashillaa. Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah. Laa - ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiina walau karihal - kaafiruun, walau karihal munafiqun, walau karihal musyrikun. Laa - ilaaha illallaahu wallaahu akbar.Allaahu akbar walillaahil - hamd

Artinya :
Allah maha besar dengan segala kebesaran,
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya,
Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.
Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya.
Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq dan musyrik membencinya.
Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar.
Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.



Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Minal aidin wal faizin.
Taqobbal yaa Kariim.
 


Happy eid mubarak 1434 H.
Mohon dimaafkan yah segala khilaf Jessica, lahir pun batin.
Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fil khair.
Semoga Allah memberkahimu ketika senang dan susah, pun senantiasa mengumpulkan kamu dalam kebaikan.
:) 

Titik-Titik Kesederhanaan



Kita tidak akan pernah dipertemukan orang yang lebih baik daripada jodoh kita sendiri.

Akulah aku. 

Lebih kurangku, akulah aku. Tuhan menganugerahi segala keistimewaan. Menarikmu mengagumiku. Meyakinkanmu untuk selalu melayang mengiringiku. Membuatmu jatuh, tak henti mencintaiku. 

Dia juga melengkapiku segala kekurangan. Mengingatkanmu, aku bukanlah bidadari. Memberimu kesempatan melihatku sebagai manusia. Membuatmu tetap jatuh, dan semakin yakin takkan mampu kau henti mencintaiku.

Akulah aku. Cinta bagiku? Bukan sebuah angan yang kian meninggi. Cinta bagiku cukuplah gambaran titik-titik kesederhanaan. Sebuah pola pedesaan, tak mengapa untukku, asal di antaranya terhubung jalan-jalan yang bertujuan. Tanpa sebuah arah, cinta hanyalah belaka.

Akulah aku.
Tengah kupersiapkan diriku.
Bagi kesederhanaan.
Bagi seorang kamu yang tengah pula dipersiapkan bagiku.

Aku rajin berkaca.
Menatap waktu yang terus berjalan dan menginginkan pemikiranku berlari lebih kencang dari usiaku.
Menatap kedua sisiku, memikirkan, pada bagian mana kau akan berdiri, gugup, meminta restu sang ibu.

Aku – penulis ulung. Di sini kamu perlu berhati-hati.
Menulis. Ah, dunia kata. Bagaimana aku menggilai dunia ini. Jangan marah jika kuibaratkan kau seperti sebuah buku. Pada sebuah buku, aku bisa begitu mencintai. Bagaimana sebuah tumpukan kata mengubah dirinya menjadi makna. Bagaimana sebuah ilustrasi meninggikan imajinasi. Bagaimana dari baunya saja – buku bisa begitu membuatku terpesona. Seperti kamu, bedanya, kamu hidup. Dan kamu – balik mencintaiku.
Aku penulis ulung. Mungkin beberapa darinya terlalu tinggi dan tak terjangkau pemahaman di alam nyata, namun di dalamnya, kuharap kamu mampu memahami, ada jiwa di sana – yang hanya hidup ketika dari dan padamu inspirasi menyemangatiku.

Aku suka berbicara pada diri sendiri.
Sebenarnya aku tengah berbincang denganmu. Memikirkan senyummu ketika aku melembutkan bisikku pada daun telingamu. Menyipitkan mata saat entah bagaimana hal-hal tak wajar melepaskan tawa kita. Terkatup diam membayangkan apa-apa yang membuatku memalingkan wajah, hanya agar kamu tak melihat bagaimana wajahku memucat pedih.
Berbicara pada diri sendiri, bagaimanapun, sebenarnya aku tengah berbincang denganmu.

Oh ya, aku juga suka bernyanyi.
Suka atau tidak, aku tidak memintamu memberiku rantai tepuk tangan. Kamu cukup mendengarkan. Mungkin sesekali aku akan berhenti malu, tapi yang perlu kamu tahu, alunan nada itu keindahan, dari sana kita bisa melupakan himpitan-himpitan yang sesekali terasa sesak, dan kamu tahu karena itu, aku ingin terus bernyanyi untukmu. Agar kita melupakan yang sesak. Agar kita ditenangkan keindahan.
Takkan mengurangi rasa senangku bisa bernyanyi untukmu, meski tidak begitu merdu, kamu tahu, aku bernyanyi untukmu. Seperti kamu – bernyanyi untukku.

Aku suka – ah banyak sekali jika harus kurentetkan satu per satu kesukaanku. Tapi kali ini, patut dan penting kusebutkan. 

Aku suka sekali keharmonisan.

Penting bagiku, kebaikan-kebaikan dalam kebersamaan. Sebuah pola yang sudah lama dilupakan di zaman modern. Sesuatu yang teramat sederhana, pun teramat langka.

Pada hari pertama pernikahan kita, aku akan mencium punggung tanganmu dan kau akan mencium keningku. Kita terpejam, menyadari betapa karena cinta, kita saling menghidupi. Pada hari terakhir, hari dimana kita dipisahkan yang semoga oleh ajal, di tahun pernikahan kita yang kesekian, aku masih ingin tetap mencium punggung tanganmu dan kau cium keningku. Kembali terpejam, menyadari betapa karena cinta, bahkan sampai saat itu, kita masih saling menghidupi.

Pada cinta yang akan semakin dalam, aku ingin kita tidak saling lupa untuk mengingatkan. Tidak membiarkan hal yang salah. Tidak tenggelam pada ego dan keburukan masing-masing. Mengingatkan yang terlupa, melupakan yang tak perlu diingat.

Pada bentukan buah hati kita, aku ingin menatap bola matanya, memastikan kehidupannya dipenuhi kecukupan. Cukup cinta kasih orang tua. Aku ingin melihat sosokmu, seorang ayah yang tak hanya menafkahi, tapi juga memberinya ilmu agar tinggi citanya, agar luas pemahamannya. Aku ingin melihat diriku, seorang ibu yang tak hanya merawat jasmaninya, tapi juga memupuk rohani jiwanya agar tak hanya cukup dengan bekal ilmu, tapi juga dimampukan menjadi manfaat bagi dirinya dan sesama.

Pada keseharian, aku memahami tidak selamanya tawa akan mengelilingi aura masing-masing dari kita. Namun satu yang terpenting, betapa beruntungnya, jika di antara suka duka, sinar Allah SWT selalu memancar dan menaungi atap rumah kita.



Sebaik-baiknya tempat pulang hanyalah sebuah rumah. Sebaik-baiknya rumah hanyalah sebuah hati yang dipenuhi kebaikan dan berkah Sang Illahi Rabb.


Maka tengah kupersiapkan rumahmu.
Bagi kesederhanaan.
Bagi sebuah rumah yang tengah pula dipersiapkan bagiku.

Minggu, 14 Juli 2013

Karena Belum Ajalnya



Serem banget judulnya :D Hanya sebagai pengingat dan semoga bermanfaat.

Mengawali cerita kali ini, kasih quote bagus dulu boleh kali yaaah :D


"Kita tidak boleh mati ketika kita hidup, tapi kita harus hidup meskipun telah mati." - Sayyidina Ali bin Abi Thalib


Artinya? Baca keseluruhan cerita gueee, nanti paham deh maksud quote ini apa :)



Jadi gini... 

Tepat Jumat kemarin pagi, seperti biasa gue siap-siap berangkat kerja. Ga tau kenapa, lagi ga enak aja perasaan. Pikiran kemana-mana. Tapi seperti biasa, dzikir penenangnya. “Hari ini insyaAllah pasti lebih baik, harus lebih baik,” pikiran pagi gue, berdoa sekaligus pengingat diri sendiri.

Gue lupa kalo habis hujan semalem. Gue juga lupa kalo rumah baru gue belum dikonblok. Halamannya lumayan dari rumah ke gerbang, digedein dikit lagi jadi lapangan bola *hiperbola. Dan itu sebabnya tanah merah yang nempel di ban motor cantik gue agak banyak. Gue lupa kondisi itu yang bikin gue bawa motor seperti biasa, terbang.

Sekitar 1 KM dari rumah, ada tanjakan dan otomatis gue ngerem, dimana kalo dalam kondisi biasa gakkan kenapa-napa. Tapi tetiba motor gue ngepot (tau ngepot kan yah, itu golek yang dulu suka ada di tipi pas bulan puasa. Cepooooot. Ga lucu yah. Yaudah).

Kejadiannya cepet banget. Gue kaget luar biasa dan alhamdulillahnya selalu refleks nyebut nama kamu, eh nama Allah :D Untung refleks gue bagus *nyombong sedikit hihi. Gue langsung banting stang ke kanan and you kno whaaaaaaat, gue meluncur ke halaman orang yang ga ada gerbangnya daaaan... tanah merah juga. 

Berhenti di situ? No. Gue meliuk-liuk di tanah merah, berjuang menjaga keseimbangan motor. Licinnya luar biasa, lebih licin dari rambut om-om nyentrik yang pake minyak sawit untuk ngerapihin rambutnya. Fatalnya, di depan gue ada pohon. “God, is it my time?” pikir gue pasrah. Sekilas gue inget Uje. Hari Jumat, kecelakaan nabrak pohon, mati syahid. Yah ga apa deh ya Allah meninggalnya kan khusnul khotimah. Bulan puasa lagi kan. (For your info, kecelakaan masuk daftar mati syahid, meninggal tiba-tiba. Kalo ga percaya, coba cari di gugel, gue pernah baca soalnya hehe. Wallahua’lam)

Udah ga karuan, tapi ikhlas kalo emang udah waktunya, tapi gue masih fokus untuk menghindar. Gue mau ngerem tapi yang ada malah ngegas kenceng dan tepat sebelum nabrak pohon gue banting stang lagi ke kanan. Masih ngepot-ngepot di tanah merah yang licin, nyeimbangin motor sekuat tenaga, dan ngerem di waktu yang pas. Gue berhenti, tanpa jatuh sedikitpun. Paling ban sama sendal gue yang penuh tanah merah. Gue langsung diem. Sempet bengong. Gue nengok sekeliling, sepi, cuma ada dua orang di rumah samping. Dua-duanya cowok, yang satu bapak-bapak gendong anaknya yang masih balita. Dan mereka kaya habis menyaksikan atraksi. Ga kalah diem dari gue, dan bengong juga :|

Gue langsung turun dari motor, ngecek ban, masih gemeter, tapi gue harus berangkat kerja. Gue langsung belok dan lanjutin perjalanan. Penuh syukur dan lebih banyak istighfar, ternyata sisa waktu gue masih ada. Ga lama gue udah kembali tenang dan ga lemes lagi. Tanah merah juga udah mulai luntur. Gue turun lagi ngecek ban dan setelah yakin udah hilang tanah merahnya, gue kembali terbang.

Sambil dzikir, pikiran gue melayang ke orang-orang tercinta, “Kalo ternyata tadi waktunya gue, gue gakkan ketemu mereka lagi. Tapi alhamdulillah udah maaf-maafan kan, jadi dosa gue beratnya berkuranglah biar sedikit juga. Mulai ngacoooo.” Terus gue inget Uje. Oh begitu rasanya. Kalo beliau masih ada umurpun, punya kesempatan bercerita seperti apa rasanya hampir dijemput maut. Dan ketika gue berusaha ngerem tapi malah ngegas, itu refleks banget :|

Hmm, tanah merah yang hampir bikin gue celaka, tapi tanah merah juga yang menjadi penolong. Kalo ga di tanah merah, mungkin meski berusaha belok, gue gakkan sempet dan, mungkiiiin...udah nabrak. Tapi licinnya ngebantu juga. Dipikir-pikir ajaib juga gue ga jatuh sedikitpun, tapi itulah Allah, kalo sudah berkehendak, maka apapun bisa terjadi. Alhamdulillah :)

Dan itulah kenapa gue suka nekenin perbanyak dzikir dan shalawat, dimanapun, kapanpun. Karena menjadi penenang dan penyelamat dalam situasi seperti apapun. Hati kita terbiasa mengingat Allah. Mulut kita terbiasa mengucap namaNya. NamaNya lho, bukan namanya. Inget Allah dulu yah, habis itu boleh inget pacar :p

Terbiasa mengingat dan menyebutNya. Ga sulit kok, cuma perlu terbiasa :)

Masalah prosesnya, ga perlu juga sih dipikirin kapan dan gimana. Kalo udah waktunya mah akan datang. Katanya kan kalo mau meninggal pasti detik-detik sebelumnya keinget, apa yang akan terjadi sama orang-orang tercinta kita setelah kita meninggal? Keinget juga kenangan-kenangan. Begitu sih kalo nonton film :D Tapi wallahua’lam. Gue sering kok inget mati, dan gue juga sering inget orang-orang tercinta dan bayangin gimana kalo gue udah ga ada. Tapi bukan berarti akan meninggal. Sampe sekarang alhamdulillah masih ada umur kaaaan.

Jadi yang perlu dilakuin, cuma fokus pada apa yang terbaik yang mampu kita usahakan. Hidup kita bukan soal prosesnya aja, tapi semua harus punya tujuan masing-masing yang jelas. Ketika kita memahami tujuannya, kita memampukan diri kita untuk berusaha keras pada tujuan itu sendiri. Masalah tercapai dan tidaknya, serahin sama Allah. Ketika memang sudah waktunya, tidak akan ada penyesalan. Usaha terbaik, doa, dan tawakal. Gampang kan hidup tenang, kitanya aja yang bikin repot :D

Kita tidak akan pernah tau berapa lama diberikan kesempatan. Dan seharusnya itu mendorong kita untuk mengusahakan yang terbaik. Kecil dan besar, segala perbuatan pasti dibalas sama Allah kok. Dunia akhirat. Maka apalagi yang membuat kita malas dalam hal kebaikan? 

Jadilah manusia terbaik bukan karena kesempatan mendatangi kita, tapi karena kita yang mendatangi kesempatan. Kebaikan adalah satu-satunya jalan agar kita tidak mati ketika hidup dan tetap hidup meski telah mati. Begitu kira-kira penjelasan saya. Wabilahitaufik walhidayah, wassalamualaikum wr wb (dikira habis pidato :p)


Seharusnya tidak ada penghalang, ketika kita memahami :)

Minggu, 07 Juli 2013

Kamu dalam Udara Pagi



Udara pagi. Tersejuk dan terbaik untuk kuhirup. Seperti melayang, menikmati semburat kemerahan dan bau daun-daun yang menetesi butiran air. Iya, embun.

Aku mengingatmu. Pada hati yang jika aku berterus terang, tak pernah aku tidak mengingatmu. Mengingatmu – sekaligus merindumu. Dan pagi ini, pada waktu-waktu seperti ini, aku merindu lebih tinggi.

Pagi ini, aku kembali memejam. Merasakan setiap detail mulai membentuk. Setiap bau mulai tercium. Setiap ruas jariku mulai terasa kau sentuh. Aku memang sering terpejam, untuk merasakan nafasmu, menghadirkanmu dalam dekap dan rinduku. Ah, andai saja kau telah menjadi yang Tuhan takdirkan untuk setiap pagi menikmati udara ini bersamaku...


Pada pagi ini, kita masih harus banyak memantaskan diri.
Pada pagi ini, kita masih harus memejam lagi.
Pada pagi ini, kita masih harus lebih sabar menanti.

Untukmu, yang seandainya Tuhan merestui, kan kujaga cinta, agar hanya pada punggung tanganmu aku merunduk dan mengecup :')

Minggu, 30 Juni 2013

Awal Mula, Akhir Nanti



Suatu awal bermula dari ketiadaan, untuk kemudian menuju akhir. Tak ada akhir tanpa awal dan tak ada awal tanpa akhir. Tak ada awal dan akhir – tanpa ketiadaan. 

Cinta – pun, bermula dari ketiadaan. Menatapmu, yang kala itu kupikir sekadar rasa suka anak remaja. Menatapmu, yang kala itu kupikir mataku salah, ketika menyadari milikmu mencuri pandang, balik menatap, bola mataku yang kemudian menghindar malu.

Dan cinta mengendap. Menjerit-jerit luka, mengimani kepastianNya, untuk kemudian memahami bagaimana menjadi bahagia dengan menatapmu, dari tempat dan hati yang paling jauh yang pernah terbayang.

Hingga Tuhan, akhirnya merestui. Hingga kita, akhirnya maju mengakui. Hingga cinta, akhirnya melingkar menaungi.

Awal permulaan, aku menatap dan menyukai, bagaimana kau pandangi aku layaknya bidadari.
Awal permulaan, aku mendalami dan menyukai, bagaimana kau bernyanyi menghadiahi lirik-lirik surgawi.
Awal permulaan, aku berjingkat dan menyukai, bagaimana kau menarikku dalam rengkuh peluk dan bisikkan hati.
Awal permulaan, aku berdegup dan menyukai, bagaimana kau mengucap rindu tanpa ingat telah mengulangnya berulang kali.

Pandangi aku lagi.
Bernyanyilah kembali.
Peluk aku usah henti.
Dan rindukan aku tanpa tepi.
Meski bukan lagi awal mula, kini.

Segala awal pada permulaan, dimana aku menyukai segala yang kupikir memang telah dicipta untuk kusukai, masih selalu kusukai – masih selalu kunanti – kunikmati.
Segala awal pada permulaan, dimana kau pun menyukai segala yang kau pikir telah dicipta untuk kau sukai, kuharap, masih selalu kau sukai – masih selalu kau nanti – kau nikmati.
Tentang kamu, cinta, hati, dan segalamu.
Tentang aku, cinta, hati, dan segalaku.

Segala awal pada permulaan, hingga kini, hingga akhir nanti, seandainya saja, semoga – Tuhan masih tetap merestui. Hingga kita, akhirnya maju mengakui. Hingga cinta, akhirnya melingkar menaungi.