Kita tidak akan pernah dipertemukan orang yang lebih baik daripada jodoh kita sendiri.
Akulah aku.
Lebih kurangku, akulah aku. Tuhan menganugerahi segala keistimewaan. Menarikmu mengagumiku. Meyakinkanmu untuk selalu melayang mengiringiku. Membuatmu jatuh, tak henti mencintaiku.
Dia juga melengkapiku segala kekurangan. Mengingatkanmu, aku bukanlah bidadari. Memberimu kesempatan melihatku sebagai manusia. Membuatmu tetap jatuh, dan semakin yakin takkan mampu kau henti mencintaiku.
Akulah aku. Cinta bagiku? Bukan sebuah angan yang kian meninggi. Cinta bagiku cukuplah gambaran titik-titik kesederhanaan. Sebuah pola pedesaan, tak mengapa untukku, asal di antaranya terhubung jalan-jalan yang bertujuan. Tanpa sebuah arah, cinta hanyalah belaka.
Akulah aku.
Tengah kupersiapkan diriku.
Bagi kesederhanaan.
Bagi seorang kamu yang tengah pula dipersiapkan bagiku.
Aku rajin berkaca.
Menatap waktu yang terus berjalan dan menginginkan pemikiranku berlari lebih kencang dari usiaku.
Menatap kedua sisiku, memikirkan, pada bagian mana kau akan berdiri, gugup, meminta restu sang ibu.
Aku – penulis ulung. Di sini kamu perlu berhati-hati.
Menulis. Ah, dunia kata. Bagaimana aku menggilai dunia ini. Jangan marah jika kuibaratkan kau seperti sebuah buku. Pada sebuah buku, aku bisa begitu mencintai. Bagaimana sebuah tumpukan kata mengubah dirinya menjadi makna. Bagaimana sebuah ilustrasi meninggikan imajinasi. Bagaimana dari baunya saja – buku bisa begitu membuatku terpesona. Seperti kamu, bedanya, kamu hidup. Dan kamu – balik mencintaiku.
Aku penulis ulung. Mungkin beberapa darinya terlalu tinggi dan tak terjangkau pemahaman di alam nyata, namun di dalamnya, kuharap kamu mampu memahami, ada jiwa di sana – yang hanya hidup ketika dari dan padamu inspirasi menyemangatiku.
Aku suka berbicara pada diri sendiri.
Sebenarnya aku tengah berbincang denganmu. Memikirkan senyummu ketika aku melembutkan bisikku pada daun telingamu. Menyipitkan mata saat entah bagaimana hal-hal tak wajar melepaskan tawa kita. Terkatup diam membayangkan apa-apa yang membuatku memalingkan wajah, hanya agar kamu tak melihat bagaimana wajahku memucat pedih.
Berbicara pada diri sendiri, bagaimanapun, sebenarnya aku tengah berbincang denganmu.
Oh ya, aku juga suka bernyanyi.
Suka atau tidak, aku tidak memintamu memberiku rantai tepuk tangan. Kamu cukup mendengarkan. Mungkin sesekali aku akan berhenti malu, tapi yang perlu kamu tahu, alunan nada itu keindahan, dari sana kita bisa melupakan himpitan-himpitan yang sesekali terasa sesak, dan kamu tahu karena itu, aku ingin terus bernyanyi untukmu. Agar kita melupakan yang sesak. Agar kita ditenangkan keindahan.
Takkan mengurangi rasa senangku bisa bernyanyi untukmu, meski tidak begitu merdu, kamu tahu, aku bernyanyi untukmu. Seperti kamu – bernyanyi untukku.
Aku suka – ah banyak sekali jika harus kurentetkan satu per satu kesukaanku. Tapi kali ini, patut dan penting kusebutkan.
Aku suka sekali keharmonisan.
Penting bagiku, kebaikan-kebaikan dalam kebersamaan. Sebuah pola yang sudah lama dilupakan di zaman modern. Sesuatu yang teramat sederhana, pun teramat langka.
Pada hari pertama pernikahan kita, aku akan mencium punggung tanganmu dan kau akan mencium keningku. Kita terpejam, menyadari betapa karena cinta, kita saling menghidupi. Pada hari terakhir, hari dimana kita dipisahkan yang semoga oleh ajal, di tahun pernikahan kita yang kesekian, aku masih ingin tetap mencium punggung tanganmu dan kau cium keningku. Kembali terpejam, menyadari betapa karena cinta, bahkan sampai saat itu, kita masih saling menghidupi.
Pada cinta yang akan semakin dalam, aku ingin kita tidak saling lupa untuk mengingatkan. Tidak membiarkan hal yang salah. Tidak tenggelam pada ego dan keburukan masing-masing. Mengingatkan yang terlupa, melupakan yang tak perlu diingat.
Pada bentukan buah hati kita, aku ingin menatap bola matanya, memastikan kehidupannya dipenuhi kecukupan. Cukup cinta kasih orang tua. Aku ingin melihat sosokmu, seorang ayah yang tak hanya menafkahi, tapi juga memberinya ilmu agar tinggi citanya, agar luas pemahamannya. Aku ingin melihat diriku, seorang ibu yang tak hanya merawat jasmaninya, tapi juga memupuk rohani jiwanya agar tak hanya cukup dengan bekal ilmu, tapi juga dimampukan menjadi manfaat bagi dirinya dan sesama.
Pada keseharian, aku memahami tidak selamanya tawa akan mengelilingi aura masing-masing dari kita. Namun satu yang terpenting, betapa beruntungnya, jika di antara suka duka, sinar Allah SWT selalu memancar dan menaungi atap rumah kita.
Sebaik-baiknya tempat pulang hanyalah sebuah rumah. Sebaik-baiknya rumah hanyalah sebuah hati yang dipenuhi kebaikan dan berkah Sang Illahi Rabb.
Maka tengah kupersiapkan rumahmu.
Bagi kesederhanaan.
Bagi sebuah rumah yang tengah pula dipersiapkan bagiku.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar