Udara pagi. Tersejuk dan terbaik untuk kuhirup. Seperti melayang, menikmati semburat kemerahan dan bau daun-daun yang menetesi butiran air. Iya, embun.
Aku mengingatmu. Pada hati yang jika aku berterus terang, tak pernah aku tidak mengingatmu. Mengingatmu – sekaligus merindumu. Dan pagi ini, pada waktu-waktu seperti ini, aku merindu lebih tinggi.
Pagi ini, aku kembali memejam. Merasakan setiap detail mulai membentuk. Setiap bau mulai tercium. Setiap ruas jariku mulai terasa kau sentuh. Aku memang sering terpejam, untuk merasakan nafasmu, menghadirkanmu dalam dekap dan rinduku. Ah, andai saja kau telah menjadi yang Tuhan takdirkan untuk setiap pagi menikmati udara ini bersamaku...
Pada pagi ini, kita masih harus banyak memantaskan diri.
Pada pagi ini, kita masih harus memejam lagi.
Pada pagi ini, kita masih harus lebih sabar menanti.
Untukmu, yang seandainya Tuhan merestui, kan kujaga cinta, agar hanya pada punggung tanganmu aku merunduk dan mengecup :')


Tidak ada komentar:
Posting Komentar