About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Senin, 14 Oktober 2013

to Love and to be Loved




Terkadang, kita tidak memahami bagaimana cinta menjatuhkan pilihan. Menjadikannya seperti yang tak perlu dipikir, karena terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tanpa isyarat, pun aba-aba.

Bisa saja cinta muncul penuh malu dan senantiasa dipendam. Atau bisa saja dibalut arogansi. Iya, sederhananya, gengsi. Bahkan bisa juga karena terpaksa, tapi akhirnya waktu yang akan membantu memilihkan, bahwa dengan keterpaksaan, cinta bisa juga tercipta. Apapun, tetap saja itu merupakan sebuah pilihan yang tak terpikir, karena terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tanpa isyarat, pun aba-aba.

Mencintai harus dengan hati. Jelas, apalagi? Tapi banyak yang keliru. Semua mengaku dari hati, tapi cinta yang pertama kali, sebenarnya tidak pernah dari hati. Cinta yang pertama akan penuh pengamatan. Melihat sana-sini, lebih kurang, luar dalam, dengan teliti. Cinta yang pertama, belum mengenal kata buta, karena cinta yang pertama masih melihat, ingin menyelami, mengenal, dan memilih.

 Lambat laun waktu mengajari, bagaimana tanpa disadari, hati mulai mengambil alih. Cinta bukan lagi sebuah kompromi. Bukan lagi sebuah pertimbangan. Tidak lagi memilih-milih. Ketertarikan tidak lagi terjadi atas dasar untuk memahami.

Cinta ditetapkan untuk sepasang, tidak lebih pun kurang. Tidak lebih karena hanya ditujukan untuk dua buah hati, dan tidak kurang karena bukan untuk dirasa sendiri. Ini spesifikasi tentang cinta yang saya pegang erat-erat sejak saya mulai mengenal bagaimana cinta memilihkan sebuah hati untuk saya terjatuh.

Saya tidak ingin membagi dan dibagi. Pun, tidak ingin merasakan sendiri.

Cinta adalah tentang apa yang dirasa hati. Sebuah ketulusan paling dalam, perlakuan istimewa, tindakan-tindakan mengorbankan diri, tidak berarti apapun, tak memberi satu kebahagiaanpun jika asalnya bukan dari yang tercinta. Hati tak akan pernah menginginkan. Kalaupun dipaksa, hanya akan terjadi sesaat saja, dan senyuman akan terlahir dari bibir, bukan hati. Tapi ketika yang tercinta melakukan, meski hanya sebuah tindakan yang teramat sederhana, ada luapan kegembiraan yang entah darimana datangnya. Itulah keajaiban cinta yang tak pernah mampu kita pahami.

Bukan berarti kita tak perlu melakukan berbagai hal untuk sang kekasih hati. Cinta yang benar sejati hanya akan ada jika terbentuk rasa saling bagi keduanya. Saling dalam pengertian, pengorbanan, kepedulian, dan bentuk-bentuk cinta lainnya. Saya ingin dan akan memperjuangkan apapun untuk yang tercinta, dengan syarat dia pun mencintai saya. Tidak akan terjadi sebuah pernikahan yang bahagia tanpa keduanya saling mencintai. Saya pun, tidak ingin melakukan apapun jika seandainya saya hanya merasakan cinta sendiri.

Cintailah seseorang yang juga mencintai kita. Jika sudah saling menemukan, jaga baik-baik dalam hati. Simpan rapat, jangan biarkan celah terlihat bagi orang asing, agar tak perlu ada yang dijahit karena luka. Tapi jika sudah terlanjur luka, selalu bisa disembuhkan jika keduanya masih saling ingin mengobati. Untuk saling merekatkan lebih rapat dan mengunci kebahagiaan untuk tidak terlepas lagi.

Tapi jika belum menemukan, jangan mencari dalam diri yang telah ditemukan. Selalu ada bagian hati yang kosong untuk disinggahi. Tuhan akan memilihkan, jangan pernah merasa terlalu lama menunggu, tidak perlu mengerutkan dahi dan mempertanyakan, karena akan ada bagiannya masing-masing.

Dan bagi keduanya, yang sudah menemukan, pun yang dalam proses menemukan, jangan biarkan rasa takut singgah dan memenangkan pikiran kita. Rasa takut akan rasa sakit. Inilah alasan bagi sebagian besar orang yang mengutuk cinta. Tidak mencintai, itulah kutukan sebenarnya. Sejak awal mencintai, sebenarnya kita telah sepakat untuk berteman dengan rasa sakit, karena cinta harus menimbulkan rasa sakit, tidak bisa jika hanya menginginkan kebahagiaan terus-menerus, karena yang seperti itu hanya ada di lingkungan surga.

Tanpa merasa sakit, kita tahu kita tidak mencintai. Tapi sekali lagi, jangan takut. Rasa sakit itu bisa dipelajari, dipahami. Biar kita mengenal caranya menjadi dewasa. Biar kita dimampukan menjadi lebih baik lagi. Lama-kelamaan, rasa sakit itu tidak akan mudah terasa. Puncak dari segala pembelajaran akan menghantarkan kita pada sebuah rasa yang tak perlu disebutkan. Hanya akan ada ketenangan di sana. Tapi bukan berarti tak ada lagi rasa sakit. Pelajaran baru tidak akan pernah berhenti datang, sampai masa kita tak ada lagi.

Dalam cinta, tidak satu hal pun akan mampu membuat satu sama lain berpaling. Satu-satunya alasan bagi hati yang tak lagi mengingini, jika cinta itu telah hilang dan tak ada lagi. Jadi tak perlu khawatir. Dia yang mencintai akan selalu mencintai. Tidak lagi ada lebih kurang, yang ada hanya sebuah rasa – cinta.



 

 Membahagiakan memang, bila kita telah mampu saling meyakini dalam cinta. Tapi berdoalah bahwa yakinnya kita ditetapkan atas ridha Allah. Agar mudah dan barokah. Insya Allah :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar