Minggu, 21 Desember 2014
Begitu Saja
Tak cukup hanya tahu apa yang baik, tapi lebihkan dengan melakukan.
Tak baik hanya berpaling dari apa yang buruk, tapi beranjaklah lebih jauh.
Karena harap tak cukup hidup dalam mimpi.
Karena hidup tak cukup diam dalam batas asa.
Karena diam tak selalu baik.
Karena baik tak selalu diam.
Takdir tak selalu tentang yang terpikir untuk diperjuangkan.
Karena terkadang, kita berjuang begitu saja dalam hidup.
Karena segala sesuatu dapat menjadi begitu berarti, dengan cara, ya -- begitu saja.
Minggu, 14 Desember 2014
Alam, Salam!
Im ready for hunting some good places. With good friends. In a good mood. Bismillah. Hope I can tell you guys, some critical point of view in Tangerang City. My city my love. Whatever. However.
Cerah. Cerah. Cerah. Saya begitu bergairah. Semoga langit hari ini tidak marah. Ayolah.
Alam. Alam. Alam. Sepagi ini, telah kuberi salam. Dimanapun engkau mendekam, kudoakan diam-diam. Siang pun malam. Masa kini pun masa silam.
Tuhan. Tuhan. Tuhan. Terima kasih atas keberkahan. Meski sering lupa kami berjalan, tapi cinta teruntuk semesta menempati lubuk terdalam dan bertahan.
Karya Langit
Pelukis dapat menggores elok panorama. Penulis menguntai buih rupawan melalui kata. Pemusik mendentingkan alun irama. Talenta-talenta.
Sepertinya, tak ada dua saat mereka berkarya. Mempesona. Menggerak jiwa.
Akan tetapi, ketika Tuhan menampakkan diri, kalah sudah tak terbantah lagi. Indah tanganNya sudah harga mati. Tak tertandingi. Setinggi apapun bakat alami, karyaNya selalu menduduki peringkat tertinggi. Teduhkan hati, mendalam mencintai.
Meringkuk Ia Karena Rindu
Melepas rindu, seorang anak menarik sebuah baju dari lipatan terbawah sudut lemari kayu. Berbaring dalam iringan lagu, memeluk baju peninggalan ayahnya dahulu. Sebuah ruang hampa menjadi hantu. Bayangan-bayangan lemah berkelibat satu per satu. Menenggelamkan bisu.
Sang anak yang tak biasa menangis, mulai tersedu. Pejam matanya menikmati bau dari ingatan masa lalu. Kata orang dewasa, ada keindahan dalam rindu. Tapi kini, melemahkan hatinya yang sekuat batu.
Anak kecil yang malang. Bukannya membuka mata, ia meringkuk lebih dalam dan menghilang. Membiarkan jiwa melayang. Kepada sosok ayah tercinta yang entah kapan akan pulang.
Pagi!
Di sebelah sana, seorang nenek menyapu halaman meski subuh masih menggantung. Di bagian timur, anak bayi tertidur pulas di atas dipan pada rumah yang mengapung. Ada juga sepasang muda-mudi yang meski bukan muhrim, asyik bermesraan karena cinta tak terbendung. Dan tepat di sini, saya tersenyum menatap mentari sambil mengetik kata tak terhitung.
Pada puisi, saya mengabdi. Atas dasar hati, saya diilhami. Dengan tema nurani, deret aksara ini diharapkan melesat, melesak, mendiami para sanubari untuk mempercantik bumi pertiwi. Mari amini.
Ngomong-ngomong, sudah adakah yang mengeluh sedini ini? Entah karena emosi. Entah karena kelebihan halusinasi. Atau mungkin penuaan dini.
Sebelum mencaci, baiknya tengok sana-sini. Banyak yang mesti disyukuri. Lalu beralih mengejar mimpi. Waktu tak terbuang pasti, kehidupan yang baik menanti. Mari amini. Lagi.
Dan akhirnya saya ucapkan, selamat pagi! Lebarkan senyum, mari awali hari.
Langganan:
Komentar (Atom)







