About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Jumat, 21 November 2014

Pak Tua yang Buta


Telah lama diam, sudah puas bermuka masam. Ia mengangkut gerobak kekecewaannya dan melemparnya ke tengah laut penuh air garam. Kulitnya hitam. Masa remajanya kelam. Luka mengusik wajahnya dalam-dalam.

Tapi waktu membuka. Ada hal-hal yang tak ia lihat dengan mata. Karena selama ini, ia buta. Tak terbayang sedikitpun seperti apa rupa dunia. Hampa.

Kini Tuhan telah mengangkat pilu. Ia mencoba bangkit dari sendu. Meski ragu, ia mencoba berjalan dengan kaku. Sendinya meronta satu per satu. Ia jatuh, dan merasa malu.

Tapi ada sesuatu. Telinganya menangkap keindahan yang ia sendiri tak tahu. Apa itu? Ada seling naik turun yang mendayu. Sebuah lagu. Tapi ia masih tak tahu.

Ia tercengang. Pikirannya melayang. Segala resah terbang. Hati rentanya mendadak tenang.

Diamnya selama ini menghilangkan segala bahagia yang seharusnya ada. Seandainya ia mau mencoba. Seandainya hidup ia lawan dengan lapang dada. Takkan ada kata sengsara.

Seperti bebungaan, wajah tuanya mekar bersemi. Seperti menemukan yang telah lama ia cari; terbukanya pintu hati.

Kamis, 20 November 2014

Mereka, yang Masih Jauh dari Dosa


Didiklah anak-anakmu sesuai zamannya, karena mereka kelak akan hidup pada zaman yang berbeda dengan zamanmu. –Umar bin Khattab

Aku masih dicukupkan menjadi seorang kakak. Tak terlalu berat beban pundak. Menjadi teman sepermainan, pun ibu kw dua sebagai pengarah, penunjuk apa yang tepat bagi jalur hidupnya kelak. Hanya saja, mesti tahu diri meletakkan kata ya dan tidak. Karena kendali emosi mereka masih jauh dari sempurna; begitulah anak-anak.

Tapi bagaimana rasanya menjadi sebenarnya ibu? Panut kalbu. Akankah melemahkan bahu? Ah, belum sampai waktu. Baiknya kuselipkan tanyaku meski imajinasi menggebu.

Aku hanya terlalu suka. Sungguh amat suka. Kepada wajah-wajah yang masih sangat berjarak dengan dosa.

Bagaimana Bisa



Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'. -Q.S 2:45

Bagaimana bisa kita memilih keluh kesah daripada derum syukur?
Bagaimana bisa kita memilih menggunjing orang daripada berkaca?
Bagaimana bisa kita memilih bentakan daripada ajakan santun?
Bagaimana bisa kita memilih sombong daripada merundukkan hati?
Bagaimana bisa kita memilih mau menang sendiri daripada memberi sempat untuk mendengar?
Bagaimana bisa kita memilih amarah daripada bersabar?

Karena shalat yang tak terjaga. Bukan ketika dilihat. Bukan untuk meminta rasa kagum. Tetapi ketika kita menghadapNya, kita tidak sedang melapor, melainkan berbincang.

Ikat hati kepadaNya, maka tenang jiwa akan meluruhkan segala bentuk ego manusia.

Tetiba Rindu



Entah bagaimana aku menemukan kembali rinduku, kepadamu deretan syahdu. Telah lama kita tak bertemu, dan alasanku kerap waktu. Padahal engkau hidupku. Kepadamu, aku dapat menuangkan cairan-cairan dalam kepalaku.

Wahai baris kata, kini kita jumpa. Rinduku melata. Engkau, bagaimana? Ah, jangan bermuram durja. Aku tak pernah meninggalkanmu terlalu lama. Meski tak kugerakkan pena, hatiku senantiasa berkata-kata.

Sini, lihat, aku punya cara baru. Kurasa, kita akan sering bertemu. Aku pasangkan engkau kepada mahakarya Tuhan; potret-potret tertentu. Mungkin kita bisa bekerja lebih seru. Bagaimanapun, optimis aku. Dirimu dan potret-potret itu; entah seberapa banyak, semoga dapat mencerahkan pikir-pikir yang mulai mengkristal dan membatu. Hingga keluar dari buntu.

Dan ini kuperkenalkan satu. Potret mentari yang bersinar malu-malu.