About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Minggu, 12 Januari 2014

Titik Hujan dan Gertakkan Petir

Di antara hujan, aku menari. Melagukan gerak kaki ke sana kemari, dalam hati. Melompati nada-nada yang lama-kelamaan semakin tinggi.

Artinya? Iya, gue kehujanan malam ini *nyengir*

Memang hujan deras sih dari sore. Tapi amaan, masih di kantor. Semakin malam, sikit-sikit ia reda (logat Melayu). Dan jam gue pulang, hujannya total berhenti. Alhamdulillah, padahal gue engga berdoa supaya berhenti. Nah, maka dari itu, rasa-rasanya karena engga berdoa, 500 meter keluar M1 arah Kampung Melayu, mulai gerimis. Gue engga pernah mandang besar kecilnya hujan, kalo jalan harus pake payung, kalo di motor harus pake jas hujan. Maka sekali kedip, baju gue berubah jadi jas hujan dengan sendirinya. Hebat kan :D (kenyataannya: minggir, make jas hujan, baru deh nerusin jalan).

Awalnya masih santai. Ah, keciiil. Eh, lama-lama tambah deras. Tuh kan, engga rugi kan yang namanya antisipasi, hehehe. Karena merasa aman, hujan bablas teruss. Gue kurang suka neduh di jalan. Pertama karena bukan masalah karena sudah terlindungi, kedua, neduh sendirian kan iseng, kecuali berdua sama pacal. Eaaaaa, kayak punya aja). Lalu lalu laluuu...

Singkat cerita, hujannya beneran semakin deras. Ditambah petir. Oke, kali ini gue kaget. Naik motor dalam deras hujan, bukan pertama kalinya. Tapiii, kalo ditambah petir, pertama kali rasanya mau copot jantung awak, fyuh. Allahu Akbar, bukan petir biasa itu (ettt, ini bukan lagu Afgan). Tetiba gelapnya malam berubah siang dalam sedetik. Plus buramnya penglihatan karena kacamata lepek (kain kali ihh lepeeek), yah pokoknya sudah basah banget kan, cuma bisa dielap tangan supaya bisa tetap lihat. Kaca helm yang jelasss engga akan membantu sama sekali karena berwarna pink (salah sendiri sih tetep pertahanin yang penting gaya), engga bisa ditutup kalo jalan malam. Tapi Ya itu, setelah terang tiba-tiba, bunyinya menggelegar. Refleks nutup kuping, tapi mentok, lupa kalo pake helm hihihi.

Terussss, yasudah makin kenceng berdoa, dzikiran, minta semakin dilindungi. Tapi diri sendiri sih engga terlalu gimana-gimana, malah mikirin orang rumah. Semogaaa Mama ditenangkan hatinya, supaya engga usah terlalu khawatirin anaknya yang masih berjuang (halah drama). Nah, nurun sih sebenernya ke anaknya, gue juga jadi mulai gelisah pengin cepet sampe. Tapi dengan tetap tenang (gaya), gue cuma bisa lebih hati-hati bwa motornya dan kencengin doa. Tetep sih kepikiran, baru kemarin baca komik dan ada satu cerita dimana ada rumah kesamber petir, daaaaan siang tadi pun si mamah sempet cerita kalo temen beliau Tvnya tersambar petir. Adudududuh, gue langsung hapus jauh-jauh cerita engga enak itu. Eeeeh, kilat di depan mata. Engga di hadapan gue juga sih, maksudnya tepat di depan pandangan gue, membelah langit yang pekat. Disusul gelegarnya. Jedeeerrrr. Astaghfirullah... Tapi dzikir tidak pernah gagal membuat kita semua tenang sodara-sodara, hehehe. Semakin ingat lebih banyak orang. Tapi dibanding merasa khawatir, lebih baik mendoakan keselamatan dan terjaganya mereka semua ;)

Daaaan, tetiba terang lagi. Kali ini gue sudah lebih siap. Bersiap menerima teriakkan lantang sang petir, astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim... Jedeeeerrrr. Tetep sih, engga bisa engga loncat jantung denger suara begitu dalam kondisi begitu hahaha :D Petir ketiga di perjalanan pulang kali ini. Semoga ini yang terakhir, sampai akhirnya saya tiba di rumah tercinta :’)

Sambil berdoa, gue rada menikmati juga sih. Ibarat hujan-hujanan, bermain disiram air yang langsung turun dari langit; cuma tanpa kebasahan. Awesome. Selain menggigil karena dingiiin banget, sisanya cuma ada rasa gembira. Seperti bebas, tenang, tentram berada di antara hujan. Jalanan meski aspal, becek saking derasnya, tapi entah kenapa saya suka sekali ><

Yah, tapi tidak bisa selamanya. Kegembiraan usai, diberi kegembiraan yang lebih lagi sama Allah; rumah gue dan tetangga-tetangga gue semuanya dalam keadaan normal, alhamduuuu...lillah :) Kasiaaan deh, bayangan jelek soal petir di jalan tadi engga berhasil mempengaruhi hati gue, hihihi.

Lalu, seperti biasa deh rutinitas sampe rumaah. Cuma kalo dari kantor engga makan sama isyaan lagi karena sudah, maka gue berniat langsung nemplok di kasur. Makan kue satu. Dua. Ti... Eh, engga sampe tiga sih hihi, tapi yah, kurang rasanya tanpa yang anget-anget. Indomie pake cabe, padahal sudah gue tahan-tahan karena minggu ini sudah maksimal dua gue makan mie, tapi habis kedinginan dan masih dalam keadaan hujan pula, tak tahanlah untuk nyalain kompor :D

Semangkuk Indomie dan susu hangat sudah membuat perut rileks, tapi yaa jadi engga bisa langsung tidur. Emmm, ngapain yaaaaaa sambil nunggu makanan diolah... Yaaa, jadinya curhat di sini deh hahahahay :p

Well, hmm, biasanya sih gue selalu nulis wejangan (gaya lagi kan gue), atau kesimpulan untuk yang sudah ditulis. Tapi kali ini, apa yaaaaa...


Mungkin... satu dua irama bagi hujan.
Tentang rombongan air yang turun perlahan.
Tentang sebuah keadaan dimana kita semua menyebutnya berkah Tuhan.
Dan terkadang, tentang sebuah cara bagi manusia diingatkan pada kenangan.

Selamat malam *kabur*
:D

1 komentar:

1 comment

bayu
16 Januari 2014 pukul 00.50

hihihi kamu tuh jazzy

Posting Komentar