About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Senin, 14 Oktober 2013

to Love and to be Loved




Terkadang, kita tidak memahami bagaimana cinta menjatuhkan pilihan. Menjadikannya seperti yang tak perlu dipikir, karena terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tanpa isyarat, pun aba-aba.

Bisa saja cinta muncul penuh malu dan senantiasa dipendam. Atau bisa saja dibalut arogansi. Iya, sederhananya, gengsi. Bahkan bisa juga karena terpaksa, tapi akhirnya waktu yang akan membantu memilihkan, bahwa dengan keterpaksaan, cinta bisa juga tercipta. Apapun, tetap saja itu merupakan sebuah pilihan yang tak terpikir, karena terjadi begitu saja, tanpa direncanakan, tanpa isyarat, pun aba-aba.

Mencintai harus dengan hati. Jelas, apalagi? Tapi banyak yang keliru. Semua mengaku dari hati, tapi cinta yang pertama kali, sebenarnya tidak pernah dari hati. Cinta yang pertama akan penuh pengamatan. Melihat sana-sini, lebih kurang, luar dalam, dengan teliti. Cinta yang pertama, belum mengenal kata buta, karena cinta yang pertama masih melihat, ingin menyelami, mengenal, dan memilih.

 Lambat laun waktu mengajari, bagaimana tanpa disadari, hati mulai mengambil alih. Cinta bukan lagi sebuah kompromi. Bukan lagi sebuah pertimbangan. Tidak lagi memilih-milih. Ketertarikan tidak lagi terjadi atas dasar untuk memahami.

Cinta ditetapkan untuk sepasang, tidak lebih pun kurang. Tidak lebih karena hanya ditujukan untuk dua buah hati, dan tidak kurang karena bukan untuk dirasa sendiri. Ini spesifikasi tentang cinta yang saya pegang erat-erat sejak saya mulai mengenal bagaimana cinta memilihkan sebuah hati untuk saya terjatuh.

Saya tidak ingin membagi dan dibagi. Pun, tidak ingin merasakan sendiri.

Cinta adalah tentang apa yang dirasa hati. Sebuah ketulusan paling dalam, perlakuan istimewa, tindakan-tindakan mengorbankan diri, tidak berarti apapun, tak memberi satu kebahagiaanpun jika asalnya bukan dari yang tercinta. Hati tak akan pernah menginginkan. Kalaupun dipaksa, hanya akan terjadi sesaat saja, dan senyuman akan terlahir dari bibir, bukan hati. Tapi ketika yang tercinta melakukan, meski hanya sebuah tindakan yang teramat sederhana, ada luapan kegembiraan yang entah darimana datangnya. Itulah keajaiban cinta yang tak pernah mampu kita pahami.

Bukan berarti kita tak perlu melakukan berbagai hal untuk sang kekasih hati. Cinta yang benar sejati hanya akan ada jika terbentuk rasa saling bagi keduanya. Saling dalam pengertian, pengorbanan, kepedulian, dan bentuk-bentuk cinta lainnya. Saya ingin dan akan memperjuangkan apapun untuk yang tercinta, dengan syarat dia pun mencintai saya. Tidak akan terjadi sebuah pernikahan yang bahagia tanpa keduanya saling mencintai. Saya pun, tidak ingin melakukan apapun jika seandainya saya hanya merasakan cinta sendiri.

Cintailah seseorang yang juga mencintai kita. Jika sudah saling menemukan, jaga baik-baik dalam hati. Simpan rapat, jangan biarkan celah terlihat bagi orang asing, agar tak perlu ada yang dijahit karena luka. Tapi jika sudah terlanjur luka, selalu bisa disembuhkan jika keduanya masih saling ingin mengobati. Untuk saling merekatkan lebih rapat dan mengunci kebahagiaan untuk tidak terlepas lagi.

Tapi jika belum menemukan, jangan mencari dalam diri yang telah ditemukan. Selalu ada bagian hati yang kosong untuk disinggahi. Tuhan akan memilihkan, jangan pernah merasa terlalu lama menunggu, tidak perlu mengerutkan dahi dan mempertanyakan, karena akan ada bagiannya masing-masing.

Dan bagi keduanya, yang sudah menemukan, pun yang dalam proses menemukan, jangan biarkan rasa takut singgah dan memenangkan pikiran kita. Rasa takut akan rasa sakit. Inilah alasan bagi sebagian besar orang yang mengutuk cinta. Tidak mencintai, itulah kutukan sebenarnya. Sejak awal mencintai, sebenarnya kita telah sepakat untuk berteman dengan rasa sakit, karena cinta harus menimbulkan rasa sakit, tidak bisa jika hanya menginginkan kebahagiaan terus-menerus, karena yang seperti itu hanya ada di lingkungan surga.

Tanpa merasa sakit, kita tahu kita tidak mencintai. Tapi sekali lagi, jangan takut. Rasa sakit itu bisa dipelajari, dipahami. Biar kita mengenal caranya menjadi dewasa. Biar kita dimampukan menjadi lebih baik lagi. Lama-kelamaan, rasa sakit itu tidak akan mudah terasa. Puncak dari segala pembelajaran akan menghantarkan kita pada sebuah rasa yang tak perlu disebutkan. Hanya akan ada ketenangan di sana. Tapi bukan berarti tak ada lagi rasa sakit. Pelajaran baru tidak akan pernah berhenti datang, sampai masa kita tak ada lagi.

Dalam cinta, tidak satu hal pun akan mampu membuat satu sama lain berpaling. Satu-satunya alasan bagi hati yang tak lagi mengingini, jika cinta itu telah hilang dan tak ada lagi. Jadi tak perlu khawatir. Dia yang mencintai akan selalu mencintai. Tidak lagi ada lebih kurang, yang ada hanya sebuah rasa – cinta.



 

 Membahagiakan memang, bila kita telah mampu saling meyakini dalam cinta. Tapi berdoalah bahwa yakinnya kita ditetapkan atas ridha Allah. Agar mudah dan barokah. Insya Allah :)

Sabtu, 05 Oktober 2013

Siapkah Kita?



“Semalam aku mimpi, mimpi buruk sekali, kutakut berakibat, buruk pula baginya, suamiku tercinta, yang kini jauh di mata.” Hahaha. Kapan lagi diawalin lagu dangdut :p

Entah gimana awalnya, gue mimpi Si Putih meninggal, huhuhu. Kosong sekali rasanya, belum sempet ketemu dan engga bisa ketemu lagi. Nyesek. Gue nangis sejadi-jadinya. Terus mama meluk. Gue tumpahin semua tangisan di pelukan mama, sambil sebut Si Putih. Hiks.

Pas bangun capek sendiri. Sedihnya masih berasa. Tapi katanya kalo mimpi orang meninggal, menandakan yang meninggal tersebut panjang umur. Amiin. Doanya bukan panjang umurnya, tapi berkah umurnya. Amin lagi :)

Terus keinget om yang 2 tahun lalu meninggal, tepat di rumah gue sendiri. Cerita yang akan sulit gue percaya kalo engga gue alamin sendiri.

Sekitar jam 9 atau jam 10 gitu, beliau dateng ke rumah, seperti biasa kalo lagi ada urusan atau sekadar mampir sebentar. Kebetulan mama juga lagi ke rumah dulu, gue lupa lagi ada apa, tapi yang jelas gue denger suara-suara mama ngobrol sama om. Saat itu gue lagi asyik di kamar, bikin box berkotak-kotak dimana gue bisa nyimpen pernak-pernik gue macem kalung dsb.

Tanpa sadar, tau-tau sudah sepi aja. Mama kayaknya sudah balik ke kantor. Tapi kadang sayup gue denger suara om nanya Iji. Si Iji lagi asyik main PS di ruang tengah sama temen mainnya. Heran juga kenapa om engga balik ngantor. Sekitar jam sebelas (gue agak lupa jam tepatnya, kira-kira aja deh yah jamnya), gue keluar kamar, ngeliat om tidur. Anehnya, tidurnya kok di lantai, tepat di samping sofa panjang. Gue pikir sengaja mungkin. Gue balik ke kamar, ngambil bantal, tapi engga tega banguninnya. Gue taruh di samping kepalanya, dengan pikiran, kalo kebangun, ngeliat bantal, pasti langsung dipake bantalnya. Gue masuk kamar lagi, lanjut bikin boxnya.

Tanpa ada niat mau ngapain, setengah jam atau sejam kemudian, tetiba gue pengin keluar lagi. Gue nengok ke om, ngelewatin, tapi balik lagi. Kok kayak ada yang aneh. Posisi tidurnya engga berubah satu senti pun, dan ada satu lalat di muka beliau, tapi beliau diem aja. Gue refleks liat jari tangannya yang terbuka. Putih di setiap ujung jarinya. Gue bisa menyimpulkan, tapi gue takut kalo apa yang gue simpulkan benar. Perlahan gue pegang tangannya. That was so cold. Entah apa yang gue rasain saat itu. Panik, takut, perih, dan dalem hati langsung ngejerit berdoa, entah bagaimana, semoga yang gue simpulkan salah.

Gue panggil-panggil perlahan, nyoba ngebangunin. Tapi engga ada reaksi apapun. Gue mikir, gue harus apa. Gue kalut. Istighfar. Istighfar. Istighfar. Gue langsung nelpon mama. Engga diangkat-angkat. Nelpon A Vicky, engga diangkat-angkat juga. Terus teteh pulang. Ngelewatin om begitu aja, masuk kamar. Gue langsung samperin. Gue engga tau harus gimana ngomongnya, tapi kata-kata om meninggal itu, entah kenapa engga bisa gue sebut. Ralat. Engga mau gue sebut. Gue cuma minta teteh untuk liat om. Teteh bingung, orang lagi tidur kok suruh diliat, katanya gitu.

Eh kedengeran suara gerbang dibuka dan suara motor masuk. Mama. Gue lari keluar. Sama halnya dengan ngomong ke teteh. Gue cuma minta mama untuk liat om. Mama nanya ada apa, gue engga bisa jelasin. Pas mama liat, mama langsung panik. Mama teriak minta gue panggil ibu bidan yang rumahnya cuma beda 2 rumah dari rumah gue. Gue lari sekenceng-kencengnya. Ibu bidannya engga ada, tapi banyak yang nanya ada apa. Gue cuma bisa bilang om sakit. Tapi mungkin ekspresi gue aneh, banyak yang ngikutin ke rumah. Sampe rumah udah rame banget, padahal rasanya gue lari cuma beberapa detik aja. Orang-orang berkerumun. Ada yang mijit, ada yang ngaji, dsb. Mayoritas tetangga gue kenal sama om karena memang keluarga bibi sering main ke rumah. Gue disuruh panggil-panggil di kupingnya sama Ma Oja. Gue panggil-panggil lembut, berharap beliau denger, tapi hati gue paham di depan gue sudah tidak ada lagi sebuah jiwa. Cuma sebentuk raga yang sudah kosong.

Gue liat mama juga sudah paham, tapi masih berusaha. Engga lama, dateng aa, dateng mobil dan langsung dibawa ke rumah sakit terdekat. Di rumah tinggal gue sama teteh, jaga rumah. Tapi gue engga bisa tahan tinggal diam. Gue paksa teteh naik motor ke rumah sakit. Sampe rumah sakit, mobilnya aja engga ada. Gue nanya ke satpamnya. Dengan mudah security bilang, “Oh laki-laki yang barusan dibawa ke sini? Udah meninggal. Dibawa ke rumahnya.” Sontak gue nelen ludah, menguatkan diri sendiri. Pernyataan itu seakan membuka luka lebih dalam, yang tadinya masih bisa gue tahan perihnya. Di motor, gue nangis juga akhirnya. Tertunduk begitu dalam. Nangis yang tertahan. Berharap saat itu gue bukan lagi di tengah jalan yang rame, supaya bisa bebas menurunkan airmata. Gue kepikiran mama. A Vicky. Bibi. Anak-anak om. Gue tau sesampainya di rumah om, akan ada pemandangan yang bisa bikin hati gue jauh lebih sakit ngeliatnya. Gue hapus airmata, dengan kepedihan tertahan.

Sampe rumah om sudah rame. Mama lagi ngusap Bibi yang nangis histeris manggil-manggil om. A Dika juga di sampingnya, meluk bibi. Gue langsung nyari Tyar, anaknya yang paling bungsu. Dia ada di rumah depan, duduk di sofa, sendirian, engga mau dideketin siapa-siapa. Perlahan gue duduk di sampingnya, gue peluk, gue usap-usap, tapi dia diem aja nonton TV. Gue yang malah jadi ga tahan lagi pengin nangis, cuma gue biarin nyangkut di kerongkongan. Gue ajak ke dalem untuk liat om, tapi dia bersikeras engga mau, dengan muka datar. Gue bujuk, lama banget, gue bilang cuma untuk terakhir kali. Dia mau, tapi sebentar aja. Cuma sekilas dia liat abinya, terus keluar lagi. Engga lama, Dede, anak om nomor dua, dateng  masih dengan tas selempang, dari kampusnya. Dia duduk di atas lututnya, ngeliatin om yang sudah dimandikan, sudah ditutup kain kafan, dan kapas-kapas. Ada rasa nyeri yang bertambah ngeliat pemandangan itu.

Gue liat sekitar, banyak tamu-tamu yang ikut nangis. Sekelibat gue sedikit denger pada nanya meninggal karena apa. Tapi engga ada apa-apa. Meninggal pas lagi tidur di rumah gue. Gue juga cuma mondar-mandir, bantu ini itu seperlunya, tanpa ngomong sepatah kata pun. Rasanya minat untuk ngomong hari itu hilang sama sekali.

Beberapa bulan, keluarga gue nginep terus di rumah bibi. Nemenin bibi sekaligus bantu-bantu untuk yassinan dsb. Sulit sekali untuk bibi nerima keadaan. Suatu pagi, pernah gue liatin bibi tidur. Terus matanya terbuka, nanya sama gue, “Neng, udah siang begini kok si Abi belum pulang yah. Kasian belum makan siang.” Kerongkongan gue seret seketika. Mama banyak mengingatkan bibi untuk lillahita’ala. Yang sudah pergi harus diikhlaskan. Hari-hari yang berat, saat itu.

Gue pun nangis terisak saat gue cerita kronologi om meninggal ke si pacar. Buat gue, om bukan seorang paman, tapi seorang ayah. Beliau yang bonceng gue sama Dede keliling sambil nunggu waktu Maghrib di bulan Ramadhan. Beliau yang selalu anter jemput gue pulang pergi sekolah waktu kecil kalo lagi engga naik becak, termasuk sampe saat kuliah ketika gue pulang ke rumah om, beliau yang selalu sigap nawarin nganter pulang ke rumah. Bahkan terakhir ketemu pun, gue dibonceng pulang dari rumah bibi ke rumah gue. Satu-satunya percakapan terakhir, beliau cuma minta gue sms bibi untuk ngasih tau dimana kunci rumah, takutnya nyariin, karena saat itu masih sore dan rumah om engga ada orang.

Selebihnya, gue engga ngerasa ada tanda-tanda atau isyarat apapun untuk kepergian beliau. Begitu juga mama dan bibi. Cuma pas kemarinnya, bibi sempet ngomong minta anter beli sesuatu. Om tumben banget bilang, “Yaudah nanti. Abi kan lagi banyak kerjaan, sekali-kali Umi pergi sendiri, nanti uangnya Abi kasih. Harus mulai mandiri.” Sambil bercanda. Yaa kira-kira begitulah kata-katanya.

Hmm, banyak yang merasa kehilangan. Om orang yang sangat baik. Ga macem-macem hidupnya. Lurus-lurus aja. Kata orang-orang, meninggalnya dalam keadaan yang sangat baik. Engga ngerepotin sama sekali dan tenang. Heran juga di sampingnya kan ada Iji sama temen mainnya main PS, dan ada mba gue juga yang saat itu lagi nyetrika, di sampingnya juga. Mereka semua deketan, tapi engga ada yang denger sama sekali om merintih atau semacamnya. Yah, saat ini cuma amal beliau yang menentukan dan doa, terutama anak-anaknya yang insyaAllah semoga sholeh, rajin mendoakan orang tuanya.

Kejadian seperti ini, harusnya banyak mengingatkan yang masih hidup, yang masih diberi kesempatan untuk dipergunakan sebaik-baiknya. Kematian selalu dekat, kita cuma tidak tau kapan, dimana, dan bagaimana. Bekal yang sudah kita tabung sedikit demi sedikit saja belum tentu menolong, karena adanya kemungkinan-kemungkinan ibadah kita yang tidak diterima.

Yuk, sama-sama saling meninggikan syukur, melapangkan dada, merendahkan sujud, melirihkan doa. Memintalah agar senantiasa hati kita didekatkan padaNya, dan pada makhluk-makhluk yang senantiasa pula meminta doa yang sama.

Jangan meninggikan hati kita, karena setinggi apapun, akhirnya semua hanya akan tertimbun dalam tanah.


Jangan takut mati, tapi takutlah ketika kematian datang, tidak ada kesiapan yang cukup untuk menolong kita. Naudzubillah mindzalik.

Kamis, 03 Oktober 2013

Lucid Dreaming


Semalem nonton lagi Inception. Eventhough it’s been many times to watch, I was never bored. Sebuah cerita tentang bagaimana meracik mimpi. Membuatnya sesuai keinginan, memahami apakah yang dialami mimpi atau nyata, bahkan lebih jauh lagi, mencuri sebuah ide (extraction), pun kebalikannya, menanamkan sebuah ide (inception). How cool.

Bukan bermaksud bahas filmnya, tapi gue mencoba mengaitkan pengetahuan ini apakah bisa menjadi nyata atau hanya sekadar ada dalam sebuah film.

Sebagian dari ide tentang meracik mimpi ini, menurut gue jelas bisa terjadi di alam nyata. Kenapa seyakin itu? Karena gue pernah mengalami. Sebelum cerita lebih jauh, harus paham dulu beberapa konsep. Ada yang namanya lucid dreaming, dimana ketika seseorang bermimpi, dia akan menyadari bahwa itu bukan alam nyata, melainkan sebuah mimpi. Nah, lucid dreaming ini dimulai dengan adanya dream realization, sebuah titik dimana seseorang akan mulai sadar bahwa ia sedang bermimpi. Kalau sudah seperti itu, mudah untuk bermimpi secara sadar, bahkan lebih jauhnya mengatur mimpinya sesuai keinginan (dream controlling), pun mencipta berbagai imajinasi yang mustahil terjadi di alam nyata. Awesome, right?

Contohnya kita kaitkan dengan film Inception, dimana Saito mengalami dream realization ketika terjatuh dan menyentuh karpet apartemennya, dia menyadari bahannya berbeda, sehingga dia tau dia sedang berada di alam mimpi, yang membuat misi Cobb gagal, padahal mimpinya sudah dibuat bertingkat. Ada lagi ketika Ariadne, seorang mahasiswi arsitektur yang berbakat, cerdas, dan memiliki imajinasi yang tinggi, menyadari dia sedang bermimpi saat bangunan-bangunan di sekitar dimana dia dan Cobb sedang duduk, seketika hancur. Dia langsung bisa melakukan dream controlling dengan mengubah dan membuat berbagai macam keajaiban yang dia tau tidak mungkin terjadi di alam nyata.

Tapi gue juga pernah baca, ada juga yang namanya subconsciousness (alam bawah sadar), yang membuat mimpi berjalan begitu saja tanpa dapat dikontrol. Terkadang, hal ini bisa juga terjadi dalam lucid dreaming. Seperti kehadiran Mal yang selalu ada dalam mimpi Cobb, karena perasaannya yang tidak bisa dilepaskan dari istrinya yang sudah meninggal itu.

Bagian yang tidak kalah menarik dalam bahasan kali ini adalah totem, yaitu sebuah benda yang digunakan untuk mengetahui apakah yang dialami nyata atau tidak. Wajarnya, sebuah mimpi akan selalu diselipkan keanehan-keanehan, baik dari design tempat, waktu, benda-benda sekitar, prosesnya, dan sebagainya. Katanya sih, dengan memiliki totem akan melatih kemampuan kita agar terbiasa dengan lucid dreaming. Contohnya adalah gasing milik Cobb yang jika diputar, akan terus berputar tanpa henti jika dia sedang berada di alam mimpi dan akan berhenti jika dia berada di alam nyata. Logikanya sih, ketika totem yang kita miliki terus-terusan kita gunakan, memori otak kita akan sangat terbiasa dengan benda itu dan otomatis terbawa dalam mimpi. Tapi gue belum pernah nyoba untuk bikin sebuah totem. Pengin tau sih bener engganya kegunaan si totem, nanti deh kalo sudah minat banget untuk belajar lucid dreaming :D

Tapi selain dengan totem, lucid dreaming juga bisa dilatih dengan mengingat atau bahkan menuliskan mimpi kita setiap habis bermimpi. Kita bisa memahami karakteristik mimpi kita. Katanya juga, hal-hal ini bisa dialami seseorang karena memang sudah bakat, tapi bisa juga karena dipelajari.

Beberapa informasi di atas gue dapet dari sepupu gue ketika gue tanya soal film Inception. Soalnya sebelum ada film itu, gue pernah ngalamin dan bukan sekali dua kali. Yah, ga persis dan ga segila film itu sih, meski ceritanya entah kenapa banyak yang gue pikir luar biasa.

Mimpi-mimpi gue lebih banyak tentang petualangan seru dengan keanehan yang kompleks dan cerita yang menyangkut perasaan, kaya misal pacar, keluarga, gitu-gitu deh.

Dan selalu sama, di setiap petualangan gue selalu jadi jagoan hahaha. Banyak mikir kalo sudah mimpi begitu. Tentang sebab-akibat permasalahan, siasat untuk ngalahin musuh dan nolong orang-orang, tapi lucunya selalu ada hal aneh yang ketika gue sudah bangun, gue nginget-nginget mimpinya, gue baru sadar ada yang lucu. Dulu gue seringnya cerita kalo habis mimpi hehe. Ga bermaksud ngelatih lucid dreaming, bahkan belum tau kalo ada lucid dreaming. Seneng aja nyeritainnya, kadang kalo lagi mau, gue tulis juga. Beberapa kayaknya ada di blog ini. Tentang Tsunami dan tiba-tiba ada Agnez Monica segala, kalo gue baca lagi selalu ketawa jadinya :D Tapi merinding disko juga karena ga lama dari itu Tsunami beneran terjadi :I Terus mimpi serangan-serangan dimana gue harus nyelametin keluarga, temen-temen, sampe orang-orang yang engga gue kenal. Gue bisa jadi apa aja kalo sudah mimpi petualangan, bisa terbang, bisa lari 1000 km tanpa ngos-ngosan, tapi perasaan semalem doang mimpinya, malah kadang cuma lima menit pas lagi ketiduran sebentar, bisa jadi berhari-hari di mimpi. Gue suka males kalo lagi seru mimpinya, terus bangun. Kalo lagi banyak waktu, gue bisa tidur lagi dan berapa kalipun gue kebangun, gue selalu bisa buat mimpi itu terus berlanjut sampe bener-bener bangun. Tapi kalo lagi engga pas timingnya, kayak misal sudah adzan maghrib, atau pas tidur malem bangunnya sudah waktunya mandi siap-siap kerja, kan ga bisa dilanjut. Tapi yang seru, gue pernah lagi putus waktu itu sama pacar, eh mimpi dia gitu, dan entah apa yang bikin gue nyampe titik dream realization, gue sadar itu lagi mimpi, gue atur mimpinya, supaya bisa deket, bisa ngobrol, ketawa bareng gitu haha, terus bangun, terus gue belum puas, gue ga mau bangun, gue lanjut tidur, lanjutin mimpi, sampe akhirnya bangun beneran dengan kangen yang terobati, saat itu :D (Eaa eaa e e. Ehh, itu ela ela e e. Krik.)

Teruuus. Kalo soal mimpi tentang perasaan, yaa engga jauh-jauh dari hal romantislah kalo sama pacar hihi, berantemnya juga ada. Terus kalo sama keluarga, seringnya mimpi bareng mama, jalan-jalan ke tempat-tempat semacem surga. Aseli. Indah banget. Pernah dulu mimpi jalan ke negeri raksasa kayaknya sih, semuanya serba besar, ilalang, bunga-bunga, rerumputan, tapi indahnyo luar biaso. Terus di pinggir jalan ngeliat sebrang ada tebing-tebing tinggi gitu dengan segala perpaduan warna. Terus pernah juga, kali ini sendiri, gue mimpi di kamar gue, tepat di langit-langit kamar gue tiba-tiba jadi langit beneran. Banyak awan-awan jalan dan latarnya biru laut, damai banget liatnya. Gue kena dream realization lagi. “Kayak gue tau ini tempat. Itu bukannya langit-langit kamar gue?”, pikir gue saat itu. Soalnya ada batasnya itu lengit. Kotak seukuran kamar gue, sedangkan garis sambung yang vertikal ke bawahnya cat dinding kamar gue. Gue langsung sadar lagi mimpi. Dan saat itu gue sudah harus bangun tapi enggan, lagi damai banget pemandangannya. Gue atur awannya supaya lebih banyak, entah gimana caranya, tercipta gitu aja di mimpi, tapi lagi nikmat-nikmatnya, muncul wajah orang, err hantu gitu sih tapi sekilas, yang engga tau kenapa bisa ada di situ. Gue agak kesal, dengan terpaksa mengakhiri mimpi yang diganggu. Ohya, jarang banget sih malah sangat jarang gue mimpi sosok hantu gitu, karena mungkin gue orang yang tidak begitu mempedulikan keberadaan mereka.

Eh by the way, gue jadi inget kata-kata temen gue dulu. Apa yang kita sering mimpikan, itulah diri kita di alam nyata, meski dengan fantasi kalo di alam mimpi. Kalo penakut, di mimpinya dia juga akan menjadi penakut, dsb. Mungkin karena gue ga peduli soal hantu, gue jarang mimpi begituan. Kalopun muncul bukan takut, tapi yang ada kesel, bawaannya pengin nyemburin dia pake ayat kursi aja biar pergi (entah ngaruh apa engga, tapi ampuh sih :D). Bisa jadi, karakter diri kita akan tetap sama di alam mimpi. Namanya juga berasal dari pikiran kita sendiri dan alam bawah sadar ya kan. Pendapat gue aja sih hehe.

Gue udah lama juga ga cerita soal mimpi apalagi sampe nulis, padahal banyak yang seru. Karena ga gue ceritain dan ga gue tulis, gue jadi lupa huhu. Soalnya kebanyakan mimpi yang pernah gue ceritain dan gue tulis, sampe sekarang masih gue inget lho meski ga detail banget. Jadi kalo mau inget atau sampai niat untuk ngelatih lucid dreaming, bisa dicoba cara-cara seperti yang sudah dijabarin.
 

Etapi  agak kurang paham juga sih yah apakah berbagi mimpi dengan banyak orang di mimpi yang sama bisa terjadi atau engga, kayak di film Inception. Tapi yang jelas kalo untuk menjalani hidup di alam mimpi seperti Cobb dan Mal lakukan, itu jelas engga mungkin. Kalo bisa, dunia nyata bakal sepi, pada ngungsi ke dunia mimpi semua, termasuk gue hahaha.

Seru banget. Dunia mimpi adalah dunia dimana segala hal bisa terjadi begitu saja, tanpa proses yang panjang, dan ada banyak imajinasi yang menjadi nyata, sehingga keindahan mudah dicipta, dirasakan. Tapi seindah apapun, mimpi tetap kosong tanpa terbangun dan mencipta keindahan itu sendiri menjadi benar nyata. Meski dengan proses, kesenangannya akan tetap sama ketika waktunya telah datang. Di kedua alam itu, toh tetap digambarkan harus selalu ada usaha.
 


Kesenangan dalam mimpi itu seribu kebahagiaan. Tapi kesenangan di alam nyata setelah prosesnya itu, seribu dikali satu juta kebahagiaan :)