About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Rabu, 29 Januari 2014

Mendongenglah Untukku



Aku tumbuh di desa, dengan penjagaan akhlak oleh wanita terbaik yang kusebut ibu.
Aku bukan ningrat, hanya wanita berdarah sunda biasa, namun dengan bekal cita-cita melaju hingga Eropa, dan berakhir pada lapangnya surga.
Telah kuicip rupa dunia.
Telah kuhabiskan usia kemarin dengan memahami segala.
Maka, bagi kamu lelakiku nanti, bagaimana caramu menelan waktu usia?
Mendongenglah untukku.
Dan aku pun akan membagi segala yang telah kutatap kepadamu.

Sudah saatnya kita berdua.
Telah waktunya kita membuka.

Maka, bagi kamu lelakiku nanti, bagaimana caramu menerobos waktu dan menghampiriku?
Mendongenglah untukku.
Dan aku akan membagi segala yang telah kutatap kepadamu.

Jika bukan kita, siapa lagi?





Tanamlah gagasan, petiklah tindakan. Tanamlah tindakan, petiklah kebiasaan. Tanamlah kebiasaan, petiklah watak. Tanamlah watak, petiklah nasib. – Samuel Smiles - 



Apa yang kalian suguhkan, maka seperti itulah kalian mendidik penerus-penerus; putra-putri kami.



Sedih, semakin kesini media semakin “brutal”. Apa-apa yang dipertontonkan dan diperdengarkan seperti barang-barang jualan pinggir jalan. Hal-hal yang kurang pantas banyak diperlihatkan dengan sangat murah.



Satu sisi ada rasa marah. Segala yang telah diizinkan untuk dilihat pasti telah melewati berbagai tingkat persetujuan pemimpin. Dan dari situ bisa dilihat tingkat iman dan intelektual pemimpin-pemimpin yang kita miliki; asing pun dalam negeri. Meski, tak adil rasanya jika menyamaratakan mereka. Ada, entah mencapai sebagiannya atau tidak, tapi ada di antara mereka berjalan dan menjalankan wewenang pun kewajiban sebagaimana mestinya. 

Dan para orang tua yang membiarkan. Dalam batas pengawasan pun tidak, tetap, andil terbesar pertumbuhan seorang anak ada di sana; mata dan lengan yang membesarkan. Orang tua tidak hanya berarti pertalian sedarah, karena tidak semua anak beruntung. Masih banyak di antara mereka yang dibesarkan oleh saudara bahkan orang lain sama sekali. Terlebih, tanpa siapa-siapa, dan yang ia punya hanya lingkungan. Tapi tidak perlu berpikir jauh ke sana, bahkan yang masih mempunyai kesempatan diawasi pun, telah banyak ditelantarkan nasib masa depannya. Iya, dibiarkan tanpa kepedulian. Maka, hanya pemimpin-pemimpin dan para orang tua yang lebih memilih berjalan pada keputusan yang salah yang akan menanggung segala akibat; disadari atau tidak.

"Didiklah anak-anakmu dan perbagus adab mereka" (HR. Ibnu Majah)



Satu sisi lainnya, ada rasa kasihan. Apa-apa yang telah disesatkan, mereka-mereka yang telah jauh berpaling dari cahaya, akan sampai kapan berada di sana? Dan mereka yang memiliki wewenang, akan sampai kapan membiarkan?



Satu sisi lagi, ada rasa sedih. Apa yang mampu saya lakukan? Mendoakan yang paling mudah, tapi tentu itu tak cukup. Beberapa yang terjangkau, mungkin bisa dicoba meski hanya sekadar kata yang tak didengar. Tapi siapa tahu, suatu saat akan mengingatkan ketika tak ada lagi kesenangan sementara yang mereka dapatkan. Suatu saat akan mengingatkan, apa yang telah mereka dapat dari kegiatan tidak peduli mereka terhadap penerus-penerus; putra-putri mereka sendiri?



Semakin kita kritis, semakin kuat aura dan pola pikir, semakin banyak kemampuan, maka semakin banyak yang dapat kita lakukan. Pilihannya hanya dua. Benar-benar hanya dua. Why be negative when you can be positive?



Dan kesimpulannya memang selalu di sana. Iya, tentang jalan hidup dan pilihan masing-masing.



Seperti penulis yang bisa “semaunya” menentukan siapa yang harus berada di sisi positif dan siapa yang memang telah digariskan dalam lingkaran hal-hal negatif. Itulah Tuhan. Telah ditetapkan dengan seadil-adilnya. Segala sesuatu terjadi atas dan untuk sebuah alasan. Sebab-akibat. Iya, kesimpulannya memang seperti itu. Tapi, mari berpikir seperti ini. Segala garis tangan Tuhan telah ada bahkan sebelum kita melihat dunia. Maka apapun yang datang, mudahkan hati kita menerima dan tak ingin lupa untuk terus meninggikan syukur dan istighfar. Tapi jauhkan dari kata pasrah. Mentang-mentang semua sudah diatur, terus kita tinggal diam mengikuti takdir Tuhan. Ah, itu pembodohan diri sendiri namanya.



" Allah tidak akan mengubah nasib suatu kaum sampai kaum itu sendiri yang mengubah nasib atau keadaan yang ada pada dirinya " (QS Ar-Ra'd 11)



Singkat kata, tidak perlu kita perbaiki berbagai hal. Perbaiki saja hati kita, maka dengan sendirinya segala akan menjadi lebih baik lagi. Tapi hati yang baik tidak lantas mengeluarkan kita dari cobaan, itu hal yang mustahil. Namun, hati yang baik akan memudahkan perkara-perkara kita. Percaya ucapan saya :)



Sudah mampu menarik kesimpulan?
Iya, media yang buruk dan lingkungan akan mendidik jiwa dan mental para anak, tapi sifat-sifat dasar sang anak dan kepedulian orang-orang terdekat yang tetap akan menentukan. Jika sudah seperti ini cara pemimpin-pemimpin kita mengeruk keuntungan; dengan menjajakan barang-barang plastik yang halus memang luarnya, tapi mudah sekali terbakar pun rusak, maka masih ada manusia-manusia pemikir dan mereka yang peduli yang sanggup membentengi; di samping tanaman iman pada masing-masing anak itu sendiri.




Ingin berada di posisi manakah diri kita, memilihlah. 
Jika bukan kita, siapa lagi?

Minggu, 26 Januari 2014

My BlackBerry Part I


Ey, ada ni fotonya. Kangen juga kalo liat mpotonya. Semoga dirawat dengan baik yah :D
Tepat dua minggu sejak BB gue hilang :D Cerita yang aneh ni, jadi perlu banget diposting ke sini hihii.

Jadi begini. Sepupu gue main ke Snow World di Serpong sama pacarnya. Nah, adiknya jadi mau juga. Sekalian aja karena hari Minggu dua minggu lalu gue lagi libur, gue ajaklah main ke sana. Gue, Mama, Iji, Tyar, Dede. Gue bbm Teh Lia juga sama A Vicky biar sekalian ikut, tapi ada kondangan mereka, jadi fix berangkat berlima.

Pas mau berangkat pun, feeling sudah engga enak sebenernya. Hujaaaan engga berhenti. Sampe sempet bikin nasi goreng dan spaghetti, makan bareng, malah pada main PS saking lamanya engga reda-reda. Tapi dibatalin engga tega juga gue, akhirnya diputuskan berangkat. Masih gerimis, tapi tanpa suara geludug, daaaaan, kami pun berangkat.

Sampe terus shalat dulu di mesjid yang letaknya sampingan sama lokasi. Sekilas info, di mesjid itu disediain air panas, teh, sama kopi. Siapapun boleh minum... ge-ra-tis. Asal cuci gelas habis pakai. Keren yah konsepnya. Sederhana, tapi bermanfaat sekali untuk pengunjung.

Terus masuk deh. Harga tiket Rp. 50.000,- untuk dewasa, Rp. 45.000,- untuk anak kecil yang tingginya di bawah sekian cm. Gue lupa sekarang, yang jelas kalo anak kecil tapi tinggi, tetep kena harga dewasa. Total tiket yang gue beli Rp. 245.000,- Tapi terus terang, gue pikir tempatnya “wah”. Tapi pas ke sana, kesannya kayak seadanya aja gitu. Dari mulai tempat antri, tempat pembelian tiket yang agak engap dan agak kotor, dan di dalemnya juga. Ya maklum, mungkin karena itu bukan usaha yang sifatnya menetap untuk waktu yang lama, cuma sementara aja kali yah. Tapi mbok ya kebersihan mah harus jadi nomor satu dong :p

Terus masuk, ngeliat sebagian pengunjung rata-rata sudah lengkap dengan peralatan sarung tangan dan kupluk segala. Apa akan sedingin itu? Gue pernah kesitu pas zaman SMA kalo engga salah sama temen-temen OSIS deh kayanya (dulu di Metos ahahaha), tapi lupa sedingin apa, cuma inget jaket yang dipinjemin tipis dan di dalem ada rupa-rupa bangunan dari es sama perosotan. Dan masih sama persis, jaketnya agak kurang terawat. Engga ada tebel-tebelnya, beberapa bolong di bagian ketiak dan lengan, serta perekatnya engga semua ada, jadi harus dipegang tangan untuk menutupi tubuh bagian depan. Tapi it was ok, no problemo, kami semua masuk dengan pede.

Sampe dalem, ih, lumayan juga dinginnya. Sempet berfoto ria, tapi agak susah cari angle supaya mukanya keliatan. Ini foto pertama, yang penting ada kenangan kebersamaannya :D
Cahayanya engga oke yah. Asal dapet aja :D
Nah terus, agak lama juga di situ, Iji mulai kaku. Padahal kalo di rumah dia raja AC, aneh hihi. Terus masuk lagi deh ke area yang lebih dingin. Feels like we were in a freezer. Mau foto di situ yang cahayanya agak bagus, tapi dilarang. Bukan karena apa-apa, karena di situ ada jasa photographer. Harus foto di dia terus nebus di luar, gitu deh. Tapi Iji engga kuat lagi dan minta keluar. Semua pun keluar. Menghangatkan badan dulu di luar, engga ada bangku atau apapun tempat nunggu, halaman kecil kosong gitu aja, semua pengunjung yang lagi menghangatkan badan berdiri. Kecuali agak jauh dari situ, ada satu-dua meja dan beberapa bangku yang jelas sudah penuh diduduki. Engga lama kemudian, kita semua masuk lagi. Niat mau langsung masuk terus minta difotoin sama photographer-nya. Tapi malah ngilang dianya. Adeuh kumaha :I Akhirnya gagal lagi foto bareng. Terus ada papan seluncur kecil. Iji naik, terus ditarik sama Tyar. Tapi engga kira-kira nariknya, belum pegangan, sudah langsung diseret kencang, alhasil jatuhlah Iji dan kepalanya terbentur ujung es, kencang. Mama dan gue langsung loncat nyamperin. Iji nangis deh. Kita semua keluar lagi. Kepala Iji benjol gede bangeeeet. Minta pulang dia. Akhirnya istirahat dulu, pas banget bangku di ujung itu kosong. Beli Pop Mie, makan bareng, tapi Iji engga mau masuk lagi. Sambil browsing film, gue pengin ajak nonton. Tapi belum sepakat mau nonton apa, yang ini mau film ini, yang itu mau nonton itu, yauwis liat nanti di bioskop aja deh, gue bilang. Akhirnya gue, Dede, dan Tyar masuk lagi bertiga, karena belum nyobain perosotannya. Takut si Kaka Tyar penasaran kebawa mimpi :D

Nahh, di sinilah kejadiannyaa. Tempatnya kecil sebenernya. Tapi kita agak lama di dalem, cari-cari spot untuk foto bareng, terus baru deh main perosotan. 
Nah, ini lumayan ni. Sayang engga ada mama sama Iji.

Terus ketagihan foto hihihi.

Kalo ini berembun gitu, henpon si Dede mungkin ikut beku :D
 Fotonya retak-retak karena size-nya kecil, soalnya dikirim via BBM. Maklum yah.
Sekitar perosotan yang engga boleh ngeluarin HP, ada beberapa orang yang curi-curi foto di area terang itu, karena lagi engga ada petugas. Engga jelas sistem petugasnya, kadang ada kadang engga. Tapi kami bertiga udah males, langsung aja naik perosotan. Pertama gantian. Terus naik lagi, rencana mau meluncur barengan, tapi kepeleset duluan alhasil jadi sendiri-sendiri juga. Masih penasaran, ketiga kalinya dicoba dengan hati-hati, akhirnya kami sukses meluncur bersama. Girang, ketawa-ketawa, dan gue lupa sama hal penting. Sudah susah gerak saking kakunya, kami memutuskan keluar. We were so happy.

Tepat keluar pintu setelah copot jaket, gue ngerogoh kantong. Lho, BB gue kemana yah. Gue langsung paham pasti jatuh. Gue lapor ke Mama, kasih tas, dan lapor ke mas-mas terdekat. Langsung masuk lagi, gue yakin banget jatuh di perosotan, karena sebelumnya terakhir ngecek msh ada pas mau merosot pertama kali. Tapi, ketika gue balik lagi dimana selang waktunya engga sampe semenit, BB-nya sudah raib. Saat itu engga pake jeans, jadi HP dengan mudah jatuh. Murni gue teledor. Setelah puluhan tahun (lama bangeeeeet) engga pernah kehilangan, gue pun dicoba lagi :)

Gue telepon, engga aktif. Gue inisiatif minta ke ruang CCTV yang seruangan dengan penjaga tiket. Cuma selewat beberapa detik aja sudah hilang. Gue minta diputar CCTV. Jelas banget sebenernya. Bisa kelihatan jelas yang main di area itu. Sempet ngintip, tapi gue malah dimarahin. Katanya itu privasi, padahal gue lagi kehilangan dan berhak lihat apa yang terjadi. Enci-enci yang jaga bilang engga bisa karena CCTV ini live, engga bisa distop. Well, gue sempet gereget di situ. Pertama, semua alasan engga logis dan dibuat-buat. Kedua, gue sering lihat CCTV di kantor yang jelas banget bisa dilihat meski lagi live. Tapi gue pikir, buang waktu debat sama yang engga ngerti. Ditambah ada lagi yang lapor kehilangan HP. Di situ si enci bilang tinggalin aja nomer Hpnya, kalo ketemu dikasih tau. Soalnya engga bisa ngurus begituan, banyak yang hilang HP. Nah, dia keceplosan kan ahaha. Sudah banyak ternyata yang kehilangan di sana. Memang ada yang salah dengan sistem di sana. Dari awal harusnya gue sudah paham dan lebih hati-hati. Tapi yah, kan sudah takdir. Cuma bisa diusahakan untuk saat ituuu.

Gue pun pindah haluan. Nanya ke tukang yang jaga mainan dimana bisa ketemu bosnya. Tapi bosnya engga di tempat, lagi di luar negeri, ka-ta-nya. Kalo ada apa-apa cuma bisa berhubungan sama si enci tadi. Oke, nihil. Tapi ada penanggung jawab tempat, bapak-bapak tua gitu. Gue bisa ngomong dengan lebih nyaman sama beliau. Gue ninggalin nomor HP yang hilang, yang bisa dihubungi, dan alamat kantor lengkap. Terus ke mesjid lagi deh, karena sudah engga bisa usaha apa-apa lagi di sana. Gue sih engga masalah dengan orang-orang yang seperti itu.


Yang selalu gue pegang cuma satu, kebaikan pun keburukan selalu dibalas.

Jadi engga perlu buang energi untuk ngedumel kan ;)


Kalo sudah diusahakan dan tidak mendapat titik terang, satu-satunya yang dapat kita lakukan cuma mengikhlaskan. 


Semudah itu? Memang sangat mudah, apalagi cuma barang. Kenapa mudah? Panjang ah jelasinnya, yang pasti sih, kalo sudah percaya penuh sama Allah, pola pikir kita akan terbiasa dan cobaan-cobaan sepele bukan hal yang bisa bikin pikiran ruwet ;)

Habis Ashar, Mama nasehatin gue untuk ikhlasin. Dalem hati gue, ya ampun, si Mama kayak baru kenal anaknya sehari ahaha. Tapi gue paham, namanya orang tua pasti khawatir anaknya mikirin, padahal anaknya engga kenapa-kenapa :D

Terus karena lapar, akhirnya ke mall-nya dulu deh cari makan. Terus gue malah cari-cari HP :D Gue lagi kesemsem sama LG G2 yang kerennya Subhanaloh (Aa Gym banyeeet). Tapi mau beli, Ipunnya belum kejual (memang belum usaha juga sih untuk ngejualnya :D). Engga etis juga punya dua HP yang fungsinya sama persis, cuma bedanya yang satu android. Meski pintarnya sama, tapi dalam beberapa spesifikasi, android yang ini akan bertahan kerennya sampe beberapa tahun ke depan. Gue kalo beli barang kan begitu. Maksudnya keren bukan cuma merk sama tampilan, tapi fungsi dalemannya. Merk oke tapi spesifikasi biasa kan mubazir. Tapi gue ingetin juga loh, tergantung kebutuhan masing-masing yah. Kalo gue sih memang sangat butuh. Dari zaman baheula, handphone adalah hidup kedua gue *tsaaaaah. Tapi bukan buat chatting yang bikin buang waktu yah * ah gaya kali kau Jess :D

Baiiik, lanjut ke cerita BB. Ini ceritanya masih panjang ternyata, tapi kayaknya dilanjut nanti lagi deh. Bersambung dulu yaaaaah, hihihi.



See ya :D

Minggu, 19 Januari 2014

Seek Help from Allah



Bukan sebuah kebetulan, tapi pertolongan dari Tuhan :)

Gue jarang banget pasang alarm untuk nge-date sama Sang Illahi Rabb hihi, biasanya selalu minta dibangunin sama Allah, alhamdulillah pasti bangun dengan sendirinya. Nah, semalem lagi tidur jam satu, jadi jaga-jaga kepulesan, pasang alarm deh jam 03.00 AM sama Shubuhan, lalu gue pun tidur.

Tapi ternyata Allah ngebangunin gue sebelum jam tiga dengan cara... perut mules :D Kedinginan, jadinya mules banget. Gue langsung lari ke kamar mandi. Di kamar mandi baru sadar, hujan angin besar banget... Hmmm, keingetan yang mungkin belum pada tidur karena kebanjiran atau lagi dalam pengungsian :|
Alhamdulillah sekali gue dan keluarga dijauhkan dari cobaan banjir...

Singkat cerita, dengan lega gue balik ke kamar. Refleks nyalain lampu, tapi, lho kok bau hangus, bauuuuu banget, dan lampunya juga mati, engga bisa nyala. Gue langsung ngejauh ngeri ada kebakaran karena konslet. Gue engga berani nyalain lampu tengah, takut ada arus pendek.

Gue masuk kamar mama pelan-pelan, tapi mama pules banget. Entah kenapa, kalo mama pules banget gue selalu siaga satu. Merhatiin lekat-lekat, dan lega liat perutnya masih naik turun; artinya masih nafas :)

Gue bingung, engga tega mau ngebangunin, tapi takut ada bahaya juga. Tepat saat itu alarm dari kamar gue bunyi. Engga berani masuk kamar gue karena belum tau konsletnya di sebelah mana, gelap semua pula kan. Buku doa gue pun di kamar. Yasutralah gue shalat aja, setelah meyakini engga akan ada apa-apa. Baru make bawahan mukena...jedug! Allahu Akbar! Gue berucap kaget, pelan padahal engga teriak, tapi mama jadi bangun kaget. Suara pintu yang kedorong angin saking kencengnya. Terus gue laporin aja keadaan kamar gue. Mama langsung meriksa bawa senter. Gue ikutin, bau hangusnya masih banget, tapi engga banget banget banget *apa sih*. Taunya memang lampunya yang konslet, kebelah gitu ngegantung, tapi engga jatuh. Ya Allah, alhamdulillah engga bikin yang lain ikut konslet juga. Alhamdulillah gue dibangunin tepat waktu. Pokoknya...alhamdulillah...

Gue langsung ambil buku doa dan HP untuk matiin alarm yang masih bunyi, terus shalat pake mukena mama deh. Setelah sunnah pertama, gue mules lagi. Dinginnya tehel nembus ke sajadah. Entah karena cuaca atau gimana, gue memang lagi akrab sama kamar mandi ahaha. Gue pun mpup lagi. Padahal kalo dibilang masuk angin, gue termasuk orang yang gampang ngeluarin angin. Gampang teurab bahkan entut :D Karena sering minum air putih kali yah. Habis itu wudhu lagi deh, lanjut shalat tapi kali ini pas dzikiran gue duduk dialasin bantal duduk gitu, double bantal di atas sajadah, jadi engga kedinginan banget, sambil nutupin puser pake tangan biar anget. Selalu ada cara kan kalo kita mau usaha ^^

Terus paginya langsung deh manggil Mang Bewok untuk benerin lampunya. Kini lampuku benderang lagi :D

Well, kesimpulan cerita, begitulah Allah. Pertolongannya tidak akan pernah jauh dari yang Ia kehendaki. MataNya memang tak nampak dalam indera kita, tapi penglihatanNya menembus lapisan langit dan bumi, serta segala isinya. Sorot teduhNya melekat pada setiap celah hati-hati yang baik; karena itulah ketenangan akan selalu menyertai hamba-hambaNya yang mengimani; mencintai kebesaranNya.

Dan tak ada alasan bagi kita meninggalkan waktu tanpa mengingatNya, menyapaNya, dan meluangkan sebanyak mungkin waktu bagiNya. Karena atas cinta, kita akan selalu ingin didekatkan. Karena bagi cinta, tak ada penghalang apapun yang mampu membatasi. Maka sudah sejauh apa kita mencintaiNya? Pada hati, di sana satu-satunya jawaban :)


Mari bersama mengucapkan.

Ya Allah, aku mencintaiMu lebih dari apapun. Mungkin ingin kusampaikan seribu shalawat bagi junjungan besarku, KekasihMu, Rasulullah SAW. Tapi aku lebih ingin mengucap sejuta kali nama-nama indahMu; ke-99 asmaul husnaMu.

Ya Allah, semoga selamanya, aku, Kau teguhkan dalam kecintaanku atasMu. Semoga takkan lupa aku pada satu-satunya tujuanku dan orang-orang kecintaanku; yakni surgaMu.
:)

Minggu, 12 Januari 2014

Titik Hujan dan Gertakkan Petir

Di antara hujan, aku menari. Melagukan gerak kaki ke sana kemari, dalam hati. Melompati nada-nada yang lama-kelamaan semakin tinggi.

Artinya? Iya, gue kehujanan malam ini *nyengir*

Memang hujan deras sih dari sore. Tapi amaan, masih di kantor. Semakin malam, sikit-sikit ia reda (logat Melayu). Dan jam gue pulang, hujannya total berhenti. Alhamdulillah, padahal gue engga berdoa supaya berhenti. Nah, maka dari itu, rasa-rasanya karena engga berdoa, 500 meter keluar M1 arah Kampung Melayu, mulai gerimis. Gue engga pernah mandang besar kecilnya hujan, kalo jalan harus pake payung, kalo di motor harus pake jas hujan. Maka sekali kedip, baju gue berubah jadi jas hujan dengan sendirinya. Hebat kan :D (kenyataannya: minggir, make jas hujan, baru deh nerusin jalan).

Awalnya masih santai. Ah, keciiil. Eh, lama-lama tambah deras. Tuh kan, engga rugi kan yang namanya antisipasi, hehehe. Karena merasa aman, hujan bablas teruss. Gue kurang suka neduh di jalan. Pertama karena bukan masalah karena sudah terlindungi, kedua, neduh sendirian kan iseng, kecuali berdua sama pacal. Eaaaaa, kayak punya aja). Lalu lalu laluuu...

Singkat cerita, hujannya beneran semakin deras. Ditambah petir. Oke, kali ini gue kaget. Naik motor dalam deras hujan, bukan pertama kalinya. Tapiii, kalo ditambah petir, pertama kali rasanya mau copot jantung awak, fyuh. Allahu Akbar, bukan petir biasa itu (ettt, ini bukan lagu Afgan). Tetiba gelapnya malam berubah siang dalam sedetik. Plus buramnya penglihatan karena kacamata lepek (kain kali ihh lepeeek), yah pokoknya sudah basah banget kan, cuma bisa dielap tangan supaya bisa tetap lihat. Kaca helm yang jelasss engga akan membantu sama sekali karena berwarna pink (salah sendiri sih tetep pertahanin yang penting gaya), engga bisa ditutup kalo jalan malam. Tapi Ya itu, setelah terang tiba-tiba, bunyinya menggelegar. Refleks nutup kuping, tapi mentok, lupa kalo pake helm hihihi.

Terussss, yasudah makin kenceng berdoa, dzikiran, minta semakin dilindungi. Tapi diri sendiri sih engga terlalu gimana-gimana, malah mikirin orang rumah. Semogaaa Mama ditenangkan hatinya, supaya engga usah terlalu khawatirin anaknya yang masih berjuang (halah drama). Nah, nurun sih sebenernya ke anaknya, gue juga jadi mulai gelisah pengin cepet sampe. Tapi dengan tetap tenang (gaya), gue cuma bisa lebih hati-hati bwa motornya dan kencengin doa. Tetep sih kepikiran, baru kemarin baca komik dan ada satu cerita dimana ada rumah kesamber petir, daaaaan siang tadi pun si mamah sempet cerita kalo temen beliau Tvnya tersambar petir. Adudududuh, gue langsung hapus jauh-jauh cerita engga enak itu. Eeeeh, kilat di depan mata. Engga di hadapan gue juga sih, maksudnya tepat di depan pandangan gue, membelah langit yang pekat. Disusul gelegarnya. Jedeeerrrr. Astaghfirullah... Tapi dzikir tidak pernah gagal membuat kita semua tenang sodara-sodara, hehehe. Semakin ingat lebih banyak orang. Tapi dibanding merasa khawatir, lebih baik mendoakan keselamatan dan terjaganya mereka semua ;)

Daaaan, tetiba terang lagi. Kali ini gue sudah lebih siap. Bersiap menerima teriakkan lantang sang petir, astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim astaghfirullahaladzim... Jedeeeerrrr. Tetep sih, engga bisa engga loncat jantung denger suara begitu dalam kondisi begitu hahaha :D Petir ketiga di perjalanan pulang kali ini. Semoga ini yang terakhir, sampai akhirnya saya tiba di rumah tercinta :’)

Sambil berdoa, gue rada menikmati juga sih. Ibarat hujan-hujanan, bermain disiram air yang langsung turun dari langit; cuma tanpa kebasahan. Awesome. Selain menggigil karena dingiiin banget, sisanya cuma ada rasa gembira. Seperti bebas, tenang, tentram berada di antara hujan. Jalanan meski aspal, becek saking derasnya, tapi entah kenapa saya suka sekali ><

Yah, tapi tidak bisa selamanya. Kegembiraan usai, diberi kegembiraan yang lebih lagi sama Allah; rumah gue dan tetangga-tetangga gue semuanya dalam keadaan normal, alhamduuuu...lillah :) Kasiaaan deh, bayangan jelek soal petir di jalan tadi engga berhasil mempengaruhi hati gue, hihihi.

Lalu, seperti biasa deh rutinitas sampe rumaah. Cuma kalo dari kantor engga makan sama isyaan lagi karena sudah, maka gue berniat langsung nemplok di kasur. Makan kue satu. Dua. Ti... Eh, engga sampe tiga sih hihi, tapi yah, kurang rasanya tanpa yang anget-anget. Indomie pake cabe, padahal sudah gue tahan-tahan karena minggu ini sudah maksimal dua gue makan mie, tapi habis kedinginan dan masih dalam keadaan hujan pula, tak tahanlah untuk nyalain kompor :D

Semangkuk Indomie dan susu hangat sudah membuat perut rileks, tapi yaa jadi engga bisa langsung tidur. Emmm, ngapain yaaaaaa sambil nunggu makanan diolah... Yaaa, jadinya curhat di sini deh hahahahay :p

Well, hmm, biasanya sih gue selalu nulis wejangan (gaya lagi kan gue), atau kesimpulan untuk yang sudah ditulis. Tapi kali ini, apa yaaaaa...


Mungkin... satu dua irama bagi hujan.
Tentang rombongan air yang turun perlahan.
Tentang sebuah keadaan dimana kita semua menyebutnya berkah Tuhan.
Dan terkadang, tentang sebuah cara bagi manusia diingatkan pada kenangan.

Selamat malam *kabur*
:D

Jumat, 03 Januari 2014

ZAINUDDIN




Akhir-akhir ini, film Indonesia hampir serempak memenuhi jadwal bioskop-bioskop tanah air. Dulu, duluuuuuu sekali, saya engga pernah suka film Indonesia di bioskop, kasarnya, kurang berbobot, ya kecuali satu-dua film, adalah yang bagus. Tapi makin ke sini, makin keren. Meski masih kalah memang, klo dibandingin dengan produksi Hollywood. But I really appreciate to those who are tryin to improve the quality of Indonesian movies *applause*

Bukan untuk bahas itu sih. Hmm, yah, saya jarang sekali me-review film dalam tulisan, tapi kali ini, di antara jajaran tokoh Soekarno dalam Soekarno, Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Ikal dalam Edensor, dan Fatma dalam 99 Cahaya di Langit Eropa, Zainuddin-lah juaranya.

Bukan hanya acting Junot yang luar biasa, tapi cara film menceritakan sang tokoh dan pilihan adegannya membuat sosok Z (singkatnya, biar engga capek ngetik haha), membuat hati saya terjatuh dan tak kembali lagi. Yah, saya memang mudah sekali terharu, tapi haru kali ini bergetar hebat sepanjang film. Untung engga ada yang kenal, jadi cuek aja sedihnya, hihi.

Z (Herjunot Ali), seperti yang dikatakan Bang Muluk (Randy Nidji), seorang pemuda yang telah sejak lahir ditakdirkan ditimpa banyak duka. Ditinggal oleh orang tuanya dari kecil, dan kemudian sebatang kara pindah dari Makassar ke Batipuh, Padang, untuk kemudian hidup dan dilecehkan. Karena adat di Padang sangat kuat, masyarakat menganggapnya orang buangan. Padahal perilakunya...aduhai, kalau bagi wanita sebutannya bidadari surga, namun Z, pantaslah ia disebut pangeran surga (ngasal). Tapi ada Hayati (Pevita Pearce), yang terbuka hatinya melihat keelokkan luar dalam Z.

Singkat cerita, mereka saling jatuh cinta. Lama-kelamaan, mereka menjadi buah bibir masyarakat Batipuh. Perbedaan asal dan ketidakjelasan keluarga Z menjadi pemicu dibencinya Z. Dengan desakkan keluarga Hayati, Z pindah ke Padang Panjang. Hayati sempat menemuinya sebelum ia pergi, mencurahkan segala yang ada di hati. Bahwa Z akan selalu menjadi kecintaannya, bahwa takkan ada apapun yang akan merubah posisi Z dalam hatinya, dan bahwa Hayati bersumpah akan sehidup semati, menanti Z untuk kemudian menjalani kehidupan berdua, sampai kelak di akhirat. Janji Hayati menguatkan Z. Ia mengatakan, hanya Hayati-lah yang mampu mengobarkan semangatnya, pun Hayati pulalah yang akan mampu membunuhnya. Maka dengan hati yang gembira telah mendengar segenap janji Hayati, Z berangkat.

Selama terpisah, mereka terus berkirim surat, sampai akhirnya Hayati diizinkan menemui sahabatnya, Khodijah (Gesya Shandy), di Padang Panjang. Hayati pergi ke sana hanya untuk melepas rindunya kepada Z, tapi takdir berkata lain. Pertemuannya dengan Aziz (Reza Rahadian), kakak Khodijah, menjadi awal penderitaan hidupnya. Aziz dan Z melamar Hayati pada kemudian hari, namun karena kekayaan dan martabat, keluarga Hayati memilihkan Aziz sebagai yang terbaik. Menikahlah Hayati dan Aziz. Pedih melanda kedua hati yang saling mencinta. Z pantang menyerah. Setelah tahu seperti apa lelaki yang akan meminang kecintaannya, ia mencoba meyakinkan Hayati. Namun Hayati begitu lemah. Bukan memperjuangkan cinta dan apa yang diyakini benar, ia menyerah pada keadaan. Zzzz, payaaaaaah :(

Yah, lalu Z limbung dalam sakit keras. Hampir meninggal, meratapi cintanya yang kandas. Dua bulan kemudian, baru terbuka pikirannya. Ia harus melupakan Hayati yang sudah bahagia bersama orang lain. Ia memulai hidup baru dengan merantau ke Jakarta bersama Bang Muluk. Tulisan, syair, dan kepiawaiannya memadu kata menjadikannya penulis terkenal. Buku-bukunya laris manis. Lalu ia dipercaya menjadi pemimpin sebuah perusahaan penerbitan di Surabaya. Kejujuran, kemahiran, dan kepercayaannya pada Tuhan melambungkan namanya. Z bukan lagi pemuda miskin dan terhina. Allah telah mengangkat sedikit bebannya.

Di sisi lain, pernikahan Hayati dipenuhi kesengsaraan. Aziz yang pemabuk, suka bermain perempuan, dan penjudi ulung, sangat bertolak belakang dengan sifat-sifat agung yang dimiliki Z. Pada suatu ketika, Aziz dan Hayati pindah ke Surabaya, karena pekerjaan. Perlahan, mereka mulai kehilangan kemewahan. Tapi Hayati masih setia mendampingi, menanti setiap kepulangan suaminya dan mulai suka membaca buku. Sebuah buku yang kisahnya teramat mirip dengan kisahnya dan Z. Suatu ketika, ada undangan tentang pertemuan orang-orang Padang sekaligus acara pementasan sandiwara. Di akhir acara, barulah Hayati dan Aziz tahu bahwa sang penulis ternama yang namanya disamarkan menjadi Tuan Shabir atau Z tak lain adalah Zainuddin. Di kesempatan itu, Aziz dengan tak tahu diri meminjam sejumlah uang untuk melunasi hutang-hutangnya. Z, tanpa dendam sama sekali, berbaik hati meminjamkan uang pada Aziz. Tapi tak lama, rumah pun barang-barang Aziz tak lagi cukup menutup hutangnya. Tapi kembali dengan ketinggian akhlaknya, Z mempersilakan Aziz dan Hayati tinggal di rumahnya, merawat Aziz yang sakit hingga sembuh. Tak lama, Aziz memutuskan pergi dan menitipkan Hayati pada Z. Tapi Aziz tak pernah kembali. Ia malu kepada Z yang telah begitu baik. Ia menceraikan Hayati dan berharap Hayati yang telah direbutnya, akhirnya dapat hidup bahagia bersama Z. Aziz pun bunuh diri.

Hayati kembali sendiri. Ia telah mendapati lukisan dirinya tergantung megah di ruang kamar kerja Z. Ia pun tahu Z masih selalu mencintainya. Bang Muluk yang mengatakannya; bahwa kebahagiaan dan segala yang dimiliki Z hanya tampak di luarnya saja. Hatinya, masih selalu sama. Tak ubahnya pohon tua yang mati. Kering daunnya, tanpa buah, menunggu seseorang menebangnya. Tapi kekosongan hatinya ia salurkan pada kebaikan-kebaikan. Menderma berbagai kesulitan orang lain. Tanpa sungkan memberi dan tak pula pandang bulu. Tanpa sekali pun berupaya membuka hatinya kepada wanita lain. Karena Hayati, dan hanya Hayati-lah yang selalu ada dalam kerinduannya.

Hayati akhirnya meminta Z untuk menjadikan ia sebagai istrinya, atau pelayan pun tak apa, asal ia bisa selalu dekat dengan Z. Tapi Z menolak. Di sini saya melihat marahnya seorang yang sabar, kecewanya seorang yang setia, dan lemahnya hati yang telah terluka lama, semua seolah terbuka dan memuncak. Hayati pun dipulangkan dengan segala biaya yang ditanggung oleh Z.

Tapi marah, kecewa, dan luka yang menyengat itu lekas hilang. Ia dikalahkan kerinduan yang teramat. Kebahagiaan yang ia tahu hanya dapat dirasakan dengan Hayati berada di sisinya. Z segera mengejar Hayati, namun naas, kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam dan nyawanya tak terselamatkan. 
Di akhir-akhir scene, saya begitu suka kata-kata yang sering diucap Hayati.
Saya cinta akan engkau.
Saya butuh dekat dengan engkau.
 
Romantisssssss abisssssssss, hihihi. Saya dulu klo nulis diari begini nih nulisnya. Duluuuuu :p

Baik, fokus lagi.
Ehem, yah, cinta sejati mereka terpisah oleh maut. Kembali dirundung duka, Z, sekali lagi dalam hidupnya, harus bangkit dari kepedihan. Ia menjadikan rumahnya sebagai tempat berlindungnya anak-anak yang kurang beruntung. Dengan meminjam nama Hayati agar dapat terus dikenang, selalu, kebaikan adalah satu-satunya cara Z menjalani kehidupannya.

Awesome, right? :D

Di film sih cuma segitu aja. Tapi di roman aseli ciptaan Prof. Dr. Hamka bertahun-tahun silam ini, Z dikatakan menjadi sakit-sakitan dan kemudian pada akhirnya meninggal.

Oalaaaaah, kok jadi bikin sinopsis yah. Tapi kira-kira singkat ceritanya begitulah. Kebayang kan, betapa luar biasanya seorang Zainuddin? Kayak Baginda Nabi Muhammad SAW yah, hidupnya dipenuhi kesulitan-kesulitan luar biasa. Istilahnya, ketika masih anak-anak, beliau sudah merasakan pahitnya penderitaan seorang remaja. Ketika sudah remaja, ia didera masalah-masalah yang bisa bikin pusing orang dewasa. Yah, dewasa tidak mengikuti umur. Tua duluan :D

Tapi hadiahnya tentu sama luar biasanya; beliau begitu dicintai Allah SWT. Tidak dibiarkan jauh; didekatkan; dipelihara hatinya. Lho ini mau cerita tentang Zainuddin atau Rasulullah SAW, sih? Hehe yaa nyambung kok. Karena Rasulullah SAW is absolutely perfect, yah tokoh Z ini mendekati lah yaah.

Selagi nonton, saya sempat geram dengan tokoh Hayati, mau-maunya sama Aziz. Ih, saya sih meski disuruh keluarga juga, ogaaaaaaaaah. Tapi untung orang tua saya percaya sama anaknya, engga ngatur yang aneh-aneh. Meski, dalam realitanya, ada aja sih orang tua yang masih liat harta dsb yang jelas engga bakal ngejamin kebahagiaan anaknya (sinetron banyet :D)

Oke kembali ke Zainuddin.

Jadi begini, satu garis besar yang bisa kita tarik dari cerita di atas, tentang bagaimana menjalani hidup. Saya selalu percaya semua sudah diatur dengan begitu sempurnanya sama yang di atas (lampu, haha). Iyah, sama Tuhan. Kita cukup menjalani; bukan pasrah, tapi dengan usaha sebaik yang kita mampu. Hal-hal dalam hidup kita itu dibagi dua; cobaan dan balasan. Bukan cuma saat sedih, saat senang juga. Bingung yah, oke kita jabarkan sedikit.

Ketika kita mengalami kejadian menyenangkan, bisa disebut cobaan atau balasan. Cobaan, karena di sinilah Allah ngetest kita; ketika diberi kegembiraan, masih ingatkah kita padaNya? Dan balasan, sebut saja hadiah atas segala kebaikan dan pengabdian kita kepada Tuhan. Dan ketika kita mengalami kejadian menyakitkan, juga bisa disebut cobaan pun balasan. Cobaan, karena di sinilah Allah mengetahui kesulitan level sekian telah mampu kita lewati, naah, harus diuji lagi nih untuk naik level selanjutnya. Dan balasan, naudzubillahimindzalik, di sinilah cara Allah mengingatkan kita yang telah banyak lupa, yang telah banyak melakukan kesalahan di masa silam.

Di sini, bisa dilihat kan, Z yang begitu baik budinya, mengalami penderitaan semasa hidupnya. Itu cobaan. Sedangkan penderitaan Hayati, disebabkan kesalahannya dalam memilih sikap. Itu balasan. Kalau bisa di-flashback, seandainya ia mengikuti apa yang benar, ia akan hidup bersama seorang pemuda yang akan selalu membimbingnya, menyinari hatinya dengan ketulusan cinta. Tapi yaa jangan dilihat sedihnya saja tho, bahagianya juga kan ada. Hayati dengan kemewahannya yang kasihannya cuma sementara hihi, dan  Z dengan terangkatnya ia dari seorang pemuda miskin dan terhina menjadi terpandang pun serba ada. Bayangin, sudah rupawan, elok hatinya, bonus serba berkecukupan karena kerja kerasnya, kurang menarik apa coba untuk wanita? Tapi dia tetap memilih hidup sendiri. Saya ngomong begini seakan tokoh ini benar nyata ya :D

Tapi, ada engga sih sosok yang seperti ini di alam nyata?

Ada. Saya yakin ada. Meski tidak sesempurna Baginda Rasul, tapi pasti ada. Banyak yang engga percaya, “Masa ada sih sosok sesempurna itu?” Lho siapa bilang dia sempurna? Pasti ada laah kekurangannya, tapi subhanallah-nya, kelebihan-kelebihannya telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadikan ia sebuah sumber cahaya.
Sumber cahaya itu langka; tapi ada :)

Begitulah sosok Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Ingin mendapatkan sosok sepertinya? Atau ingin menjadi sosok sepertinya? Mari kuatkan usaha, doa, dan bertawakal-lah. Insya Allah, niat dan cara yang baik akan selalu berujung baik, meski harus meliku pada sebuah keadaan yang disebut – proses.


Sedikit renungan awal tahun. 
Mari sama-sama mencari dan menjadi manfaat ;)