Akhir-akhir ini, film Indonesia hampir serempak memenuhi jadwal bioskop-bioskop tanah air. Dulu, duluuuuuu sekali, saya engga pernah suka film Indonesia di bioskop, kasarnya, kurang berbobot, ya kecuali satu-dua film, adalah yang bagus. Tapi makin ke sini, makin keren. Meski masih kalah memang, klo dibandingin dengan produksi Hollywood. But I really appreciate to those who are tryin to improve the quality of Indonesian movies *applause*
Bukan untuk bahas itu sih. Hmm, yah, saya jarang sekali me-review film dalam tulisan, tapi kali ini, di antara jajaran tokoh Soekarno dalam Soekarno, Zainuddin dalam Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck, Ikal dalam Edensor, dan Fatma dalam 99 Cahaya di Langit Eropa, Zainuddin-lah juaranya.
Bukan hanya acting Junot yang luar biasa, tapi cara film menceritakan sang tokoh dan pilihan adegannya membuat sosok Z (singkatnya, biar engga capek ngetik haha), membuat hati saya terjatuh dan tak kembali lagi. Yah, saya memang mudah sekali terharu, tapi haru kali ini bergetar hebat sepanjang film. Untung engga ada yang kenal, jadi cuek aja sedihnya, hihi.
Z (Herjunot Ali), seperti yang dikatakan Bang Muluk (Randy Nidji), seorang pemuda yang telah sejak lahir ditakdirkan ditimpa banyak duka. Ditinggal oleh orang tuanya dari kecil, dan kemudian sebatang kara pindah dari Makassar ke Batipuh, Padang, untuk kemudian hidup dan dilecehkan. Karena adat di Padang sangat kuat, masyarakat menganggapnya orang buangan. Padahal perilakunya...aduhai, kalau bagi wanita sebutannya bidadari surga, namun Z, pantaslah ia disebut pangeran surga (ngasal). Tapi ada Hayati (Pevita Pearce), yang terbuka hatinya melihat keelokkan luar dalam Z.
Singkat cerita, mereka saling jatuh cinta. Lama-kelamaan, mereka menjadi buah bibir masyarakat Batipuh. Perbedaan asal dan ketidakjelasan keluarga Z menjadi pemicu dibencinya Z. Dengan desakkan keluarga Hayati, Z pindah ke Padang Panjang. Hayati sempat menemuinya sebelum ia pergi, mencurahkan segala yang ada di hati. Bahwa Z akan selalu menjadi kecintaannya, bahwa takkan ada apapun yang akan merubah posisi Z dalam hatinya, dan bahwa Hayati bersumpah akan sehidup semati, menanti Z untuk kemudian menjalani kehidupan berdua, sampai kelak di akhirat. Janji Hayati menguatkan Z. Ia mengatakan, hanya Hayati-lah yang mampu mengobarkan semangatnya, pun Hayati pulalah yang akan mampu membunuhnya. Maka dengan hati yang gembira telah mendengar segenap janji Hayati, Z berangkat.
Selama terpisah, mereka terus berkirim surat, sampai akhirnya Hayati diizinkan menemui sahabatnya, Khodijah (Gesya Shandy), di Padang Panjang. Hayati pergi ke sana hanya untuk melepas rindunya kepada Z, tapi takdir berkata lain. Pertemuannya dengan Aziz (Reza Rahadian), kakak Khodijah, menjadi awal penderitaan hidupnya. Aziz dan Z melamar Hayati pada kemudian hari, namun karena kekayaan dan martabat, keluarga Hayati memilihkan Aziz sebagai yang terbaik. Menikahlah Hayati dan Aziz. Pedih melanda kedua hati yang saling mencinta. Z pantang menyerah. Setelah tahu seperti apa lelaki yang akan meminang kecintaannya, ia mencoba meyakinkan Hayati. Namun Hayati begitu lemah. Bukan memperjuangkan cinta dan apa yang diyakini benar, ia menyerah pada keadaan. Zzzz, payaaaaaah :(
Yah, lalu Z limbung dalam sakit keras. Hampir meninggal, meratapi cintanya yang kandas. Dua bulan kemudian, baru terbuka pikirannya. Ia harus melupakan Hayati yang sudah bahagia bersama orang lain. Ia memulai hidup baru dengan merantau ke Jakarta bersama Bang Muluk. Tulisan, syair, dan kepiawaiannya memadu kata menjadikannya penulis terkenal. Buku-bukunya laris manis. Lalu ia dipercaya menjadi pemimpin sebuah perusahaan penerbitan di Surabaya. Kejujuran, kemahiran, dan kepercayaannya pada Tuhan melambungkan namanya. Z bukan lagi pemuda miskin dan terhina. Allah telah mengangkat sedikit bebannya.
Di sisi lain, pernikahan Hayati dipenuhi kesengsaraan. Aziz yang pemabuk, suka bermain perempuan, dan penjudi ulung, sangat bertolak belakang dengan sifat-sifat agung yang dimiliki Z. Pada suatu ketika, Aziz dan Hayati pindah ke Surabaya, karena pekerjaan. Perlahan, mereka mulai kehilangan kemewahan. Tapi Hayati masih setia mendampingi, menanti setiap kepulangan suaminya dan mulai suka membaca buku. Sebuah buku yang kisahnya teramat mirip dengan kisahnya dan Z. Suatu ketika, ada undangan tentang pertemuan orang-orang Padang sekaligus acara pementasan sandiwara. Di akhir acara, barulah Hayati dan Aziz tahu bahwa sang penulis ternama yang namanya disamarkan menjadi Tuan Shabir atau Z tak lain adalah Zainuddin. Di kesempatan itu, Aziz dengan tak tahu diri meminjam sejumlah uang untuk melunasi hutang-hutangnya. Z, tanpa dendam sama sekali, berbaik hati meminjamkan uang pada Aziz. Tapi tak lama, rumah pun barang-barang Aziz tak lagi cukup menutup hutangnya. Tapi kembali dengan ketinggian akhlaknya, Z mempersilakan Aziz dan Hayati tinggal di rumahnya, merawat Aziz yang sakit hingga sembuh. Tak lama, Aziz memutuskan pergi dan menitipkan Hayati pada Z. Tapi Aziz tak pernah kembali. Ia malu kepada Z yang telah begitu baik. Ia menceraikan Hayati dan berharap Hayati yang telah direbutnya, akhirnya dapat hidup bahagia bersama Z. Aziz pun bunuh diri.
Hayati kembali sendiri. Ia telah mendapati lukisan dirinya tergantung megah di ruang kamar kerja Z. Ia pun tahu Z masih selalu mencintainya. Bang Muluk yang mengatakannya; bahwa kebahagiaan dan segala yang dimiliki Z hanya tampak di luarnya saja. Hatinya, masih selalu sama. Tak ubahnya pohon tua yang mati. Kering daunnya, tanpa buah, menunggu seseorang menebangnya. Tapi kekosongan hatinya ia salurkan pada kebaikan-kebaikan. Menderma berbagai kesulitan orang lain. Tanpa sungkan memberi dan tak pula pandang bulu. Tanpa sekali pun berupaya membuka hatinya kepada wanita lain. Karena Hayati, dan hanya Hayati-lah yang selalu ada dalam kerinduannya.
Hayati akhirnya meminta Z untuk menjadikan ia sebagai istrinya, atau pelayan pun tak apa, asal ia bisa selalu dekat dengan Z. Tapi Z menolak. Di sini saya melihat marahnya seorang yang sabar, kecewanya seorang yang setia, dan lemahnya hati yang telah terluka lama, semua seolah terbuka dan memuncak. Hayati pun dipulangkan dengan segala biaya yang ditanggung oleh Z.
Tapi marah, kecewa, dan luka yang menyengat itu lekas hilang. Ia dikalahkan kerinduan yang teramat. Kebahagiaan yang ia tahu hanya dapat dirasakan dengan Hayati berada di sisinya. Z segera mengejar Hayati, namun naas, kapal Van Der Wijck yang ditumpangi Hayati tenggelam dan nyawanya tak terselamatkan.
Di akhir-akhir scene, saya begitu suka kata-kata yang sering diucap Hayati.
Saya cinta akan engkau.
Saya butuh dekat dengan engkau.
Romantisssssss abisssssssss, hihihi. Saya dulu klo nulis diari begini nih nulisnya. Duluuuuu :p
Baik, fokus lagi.
Ehem, yah, cinta sejati mereka terpisah oleh maut. Kembali dirundung duka, Z, sekali lagi dalam hidupnya, harus bangkit dari kepedihan. Ia menjadikan rumahnya sebagai tempat berlindungnya anak-anak yang kurang beruntung. Dengan meminjam nama Hayati agar dapat terus dikenang, selalu, kebaikan adalah satu-satunya cara Z menjalani kehidupannya.
Awesome, right? :D
Di film sih cuma segitu aja. Tapi di roman aseli ciptaan Prof. Dr. Hamka bertahun-tahun silam ini, Z dikatakan menjadi sakit-sakitan dan kemudian pada akhirnya meninggal.
Oalaaaaah, kok jadi bikin sinopsis yah. Tapi kira-kira singkat ceritanya begitulah. Kebayang kan, betapa luar biasanya seorang Zainuddin? Kayak Baginda Nabi Muhammad SAW yah, hidupnya dipenuhi kesulitan-kesulitan luar biasa. Istilahnya, ketika masih anak-anak, beliau sudah merasakan pahitnya penderitaan seorang remaja. Ketika sudah remaja, ia didera masalah-masalah yang bisa bikin pusing orang dewasa. Yah, dewasa tidak mengikuti umur. Tua duluan :D
Tapi hadiahnya tentu sama luar biasanya; beliau begitu dicintai Allah SWT. Tidak dibiarkan jauh; didekatkan; dipelihara hatinya. Lho ini mau cerita tentang Zainuddin atau Rasulullah SAW, sih? Hehe yaa nyambung kok. Karena Rasulullah SAW is absolutely perfect, yah tokoh Z ini mendekati lah yaah.
Selagi nonton, saya sempat geram dengan tokoh Hayati, mau-maunya sama Aziz. Ih, saya sih meski disuruh keluarga juga, ogaaaaaaaaah. Tapi untung orang tua saya percaya sama anaknya, engga ngatur yang aneh-aneh. Meski, dalam realitanya, ada aja sih orang tua yang masih liat harta dsb yang jelas engga bakal ngejamin kebahagiaan anaknya (sinetron banyet :D)
Oke kembali ke Zainuddin.
Jadi begini, satu garis besar yang bisa kita tarik dari cerita di atas, tentang bagaimana menjalani hidup. Saya selalu percaya semua sudah diatur dengan begitu sempurnanya sama yang di atas (lampu, haha). Iyah, sama Tuhan. Kita cukup menjalani; bukan pasrah, tapi dengan usaha sebaik yang kita mampu. Hal-hal dalam hidup kita itu dibagi dua; cobaan dan balasan. Bukan cuma saat sedih, saat senang juga. Bingung yah, oke kita jabarkan sedikit.
Ketika kita mengalami kejadian menyenangkan, bisa disebut cobaan atau balasan. Cobaan, karena di sinilah Allah ngetest kita; ketika diberi kegembiraan, masih ingatkah kita padaNya? Dan balasan, sebut saja hadiah atas segala kebaikan dan pengabdian kita kepada Tuhan. Dan ketika kita mengalami kejadian menyakitkan, juga bisa disebut cobaan pun balasan. Cobaan, karena di sinilah Allah mengetahui kesulitan level sekian telah mampu kita lewati, naah, harus diuji lagi nih untuk naik level selanjutnya. Dan balasan, naudzubillahimindzalik, di sinilah cara Allah mengingatkan kita yang telah banyak lupa, yang telah banyak melakukan kesalahan di masa silam.
Di sini, bisa dilihat kan, Z yang begitu baik budinya, mengalami penderitaan semasa hidupnya. Itu cobaan. Sedangkan penderitaan Hayati, disebabkan kesalahannya dalam memilih sikap. Itu balasan. Kalau bisa di-flashback, seandainya ia mengikuti apa yang benar, ia akan hidup bersama seorang pemuda yang akan selalu membimbingnya, menyinari hatinya dengan ketulusan cinta. Tapi yaa jangan dilihat sedihnya saja tho, bahagianya juga kan ada. Hayati dengan kemewahannya yang kasihannya cuma sementara hihi, dan Z dengan terangkatnya ia dari seorang pemuda miskin dan terhina menjadi terpandang pun serba ada. Bayangin, sudah rupawan, elok hatinya, bonus serba berkecukupan karena kerja kerasnya, kurang menarik apa coba untuk wanita? Tapi dia tetap memilih hidup sendiri. Saya ngomong begini seakan tokoh ini benar nyata ya :D
Tapi, ada engga sih sosok yang seperti ini di alam nyata?
Ada. Saya yakin ada. Meski tidak sesempurna Baginda Rasul, tapi pasti ada. Banyak yang engga percaya, “Masa ada sih sosok sesempurna itu?” Lho siapa bilang dia sempurna? Pasti ada laah kekurangannya, tapi subhanallah-nya, kelebihan-kelebihannya telah ditakdirkan oleh Allah untuk menjadikan ia sebuah sumber cahaya.
Sumber cahaya itu langka; tapi ada :)
Begitulah sosok Zainuddin dalam roman Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck. Ingin mendapatkan sosok sepertinya? Atau ingin menjadi sosok sepertinya? Mari kuatkan usaha, doa, dan bertawakal-lah. Insya Allah, niat dan cara yang baik akan selalu berujung baik, meski harus meliku pada sebuah keadaan yang disebut – proses.
Sedikit renungan awal tahun.
Mari sama-sama mencari dan menjadi manfaat ;)