About Me

Foto saya
Kota Kata, Alam Bawah Sadar, Indonesia
Beyond ur imagination.

Sang Penari Mimpi

Hidup itu penuh seni.
Tidak melulu lurus.
Tidak melulu berlari.
Sejenaklah berhenti.
Kemudian, berjalan lagi.

Seni itu proses.
Begitu merumit.
Begitu sulit terpahami.
Namun indahnya, akan kau syukuri di akhir nanti.

Tuhan berkuasa atas segala.
Lupakan ragu, hilangkan sendu, sematkan syahdu.
Setiap yang kau kira racun, pada akhirnya menjadi madu.

Lemah kuatnya hati membawamu menari.
Tersenyumlah.
Cara terbaik, menuai mimpi bagi setiap hari.




Kota Kata, 30 November 2012.
Tertanda,



Jessica Sundayany.

Followers

Rabu, 07 Agustus 2013

Makna Idul Fitri



Pemerintah sudah mengumumkan, hasil sidang Itsbat menyatakan 1 Syawal 1434 H jatuh esok hari, tepatnya 8 Agustus 2013 kalender Masehi. Isu tentang dana yang mencapai angka luar biasa dalam penyelenggaraan sidang ini, saya pribadi sih agak kaget juga. Tapi benar tidaknya kembali kepada pribadi masing-masing. Pada niat-niat baik, semoga menjadi manfaat bagi kita semua. Dan bagi hal-hal yang dibelokkan untuk keuntungan pribadi, semoga Allah mengingatkan dengan cara yang baik. Wallahua’lam bishawab.

Yang jelas, hari kemenangan umat Islam jatuh di hari yang sama. Indah kan, kebersamaannya jelas terlihat karena semua merayakan dan berlomba menyuarakan takbir tanda kegembiraan, meski di satu sisi ada haru yang lebih dalam ketika menyadari Ramadhan sudah berakhir. Seberapa tinggi tingkat ibadah kita sebulan kemarin? Ada rasa bangga pun penyesalan pada diri kita, tapi yang terpenting adalah sebagai pribadi yang seperti apa kita akan terbentuk setelah ini.

Alhamdulillah, alhamdulillah, alhamdulillah. Kita masih diberikan kesempatan merasakan syahdunya Bulan Suci Ramadhan dan insya Allah indahnya hari kemenangan esok hari. Ketika menjelang Hari Raya Idul Fitri, banyak yang mengucap, “Semoga kita dipertemukan lagi dengan Ramadhan tahun depan.” Doa yang indah, namun akan jauh lebih indah jika doa itu terucap benar-benar dari hati, benar-benar didasari oleh niat yang tulus bahwa masih sangat banyak kekukarangan pada diri kita dalam menjalankan ibadah sebulan kemarin dan ingin memperbaikinya, mulai saat ini, hingga bertemu Sang Bulan penuh barakah, hingga seterusnya, sampai akhir hayat.

Dan banyak juga orang yang salah mengartikan bahwa ucapan minal aidin wal faizin artinya mohon maaf lahir dan batin. Sebenarnya artinya bukan itu, sama sekali bukan. Menurut yang pernah saya baca, dalam budaya Arab tidak ditemukan istilah seperti ini. Para sahabat Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam, ketika saling bertemu pada hari raya, mereka saling mengatakan, “Taqabbalallahu minna wa minkum.” Ditambah dengan, “Shiyamana wa Shiyamakum” dan “Taqobbal ya Karim.” Berikut arti dari ucapan yang sering kita ucapkan di Hari Raya Idul Fitri:

Taqabbalallahu minna wa minkum = Semoga Allah menerima dari kami dan dari kalian. Maksudnya, menerima amal ibadah kita semua selama bulan Ramadhan.
Shiyamana wa Shiyamakum = Semoga juga puasaku dan kalian diterima.
Sedangkan untuk kalimat minal aidin wal faizin itu sendiri berarti = Semoga kita termasuk (orang-orang) yang kembali (kepada fitrah) dan (mendapat) kemenangan.
Taqobbal yaa Kariim = Semoga (Terimalah do'a kita) Yaa Allah, Yang Maha Terpuji.
Itu adalah doa-doa, tapi tidak mengurangi kebaikan doa tersebut ketika dengan ikhlas kita tambahkan kata-kata saling memohon maaf lahir dan batin. Agar berkah, agar indah tali silaturahim kita sesama muslim. Insya Allah :’)

Berbicara mengenai kemenangan, banyak orang yang memiliki persepsi masing-masing akan kata ini. Kemenangan untuk saya pribadi adalah titik akhir sekaligus awal mula. Pada perjuangan dan pengorbanan, memang akan selalu ada garis akhir dan imbalan atas segala yang telah kita usahakan. Namun tidak berhenti di situ. Setelah mencapai titik kemenangan, setelahnya apa? Diam di tempat? Seharusnya tidak. Dalam hal ini, kemenangan kita melawan segala cobaan dan hawa nafsu setelah sebulan penuh berpuasa dibalas oleh Allah berupa pahala dan berkah hidup bagi ibadah-ibadah yang dilakukan semata-mata karena Allah SWT. Tapi bukan berarti ibadah kita berhenti di sana. Bukan berarti kebaikan kita tidak mengalir lagi.

Dalam lomba manapun, setiap orang adalah juara bagi usaha dan perjuangannya masing-masing. Maka pada lomba selanjutnya, mereka akan berusaha lebih gigih agar menjadi sebenar-benarnya pemenang dan diberi imbalan piala ataupun hadiah tertentu. Sama halnya dengan ibadah. Tidakkah kita ingin menjadi yang terkasih di sisi Allah SWT? Mari terus berlomba, tanpa kenal apakah ini bulan Ramadhan atau bukan, tanpa perduli bagaimana sesama manusia akan melihat, tapi hanya karena semata-mata iman kita akan Islam, cinta kita akan Sang Illahi Rabb dan Rasulnya, Baginda Nabi Muhammad SAW. Sesungguhnya itulah sebenar-benarnya kemenangan.

Dan soal takbir keliling, ada pro dan kontra yang pasti timbul. Merayakan memang tidak melulu harus meriah. Setiap kita miliki cara masing-masing. Namun selama itu tidak menimbulkan mudharat, bagi saya sih sah-sah saja. Saya justru bahagia mendengar gema takbir dimana-mana. Asal tidak dibarengi petasan yah hehe. Bukan melarang, tapi sebaiknya tidak perlu, karena itu dia, lebih besar mudharatnya. Disamping membakar uang, juga membahayakan.

Kembali kepada takbir. Dari dulu zaman saya SD sampai sekarang, yang paling menarik hati adalah takbirnya anak-anak kecil. Sejak ba’da Isya, banyak dari mereka yang berbondong menuju langgar/mushola dan mesjid terdekat. Lalu bergantian pegang mic untuk menyuarakan takbir dengan ciri khas masing-masing. Suara yang melengking, kadang nadanya bertabrakan, tapi ada juga yang mulai mampu memahami bagaimana mengucap dengan benar. Tapi itu lucunya. Saya pun pernah merasakan dulu. Rasanya degdegan abis, tapi seru dan ga sabar pegang mic, tapi kembali degdegan pas udah pegang mic :D Terkadang saya malah karaokean di rumah pake mic juga, lagu-lagu Sulis yang saat itu ngetrend di zamannya. Ah, rindu sekali masa-masa itu. Tapi itulah kemenangan. Kita bebas merayakan. Asal kembali kepada yang pantas dan tetap diiringi doa bagi berkah Allah dalam setiap hal yang kita perbuat.

Inilah kemenangan kita bersama. Kemenangan Umat Muslim. Mari lantunkan kemenangan kita.

Allaahu akbar
Allaahu akbar
Allaahu akbar
Laa - ilaaha - illallaahu wallaahu akbar
Allaahu akbar walillaahil – hamd

Artinya :
Allah maha besar (3X)
Tiada Tuhan selain Allah
Allah maha besar
Allah maha besar dan segala puji bagi Allah

Allaahu akbaru kabiiraa walhamdulillaahi katsiiraa, wasubhaanallaahi bukrataw - wa ashillaa. Laa - ilaaha - illallaahu wahdah, shadaqa wa'dah, wanashara 'abdah, - wa - a'azza - jundah, wahazamal - ahzaaba wahdah. Laa - ilaaha illallallahu walaa na'budu illaa iyyaahu mukhlishiina lahuddiina walau karihal - kaafiruun, walau karihal munafiqun, walau karihal musyrikun. Laa - ilaaha illallaahu wallaahu akbar.Allaahu akbar walillaahil - hamd

Artinya :
Allah maha besar dengan segala kebesaran,
Segala puji bagi Allah sebanyak-banyaknya,
Dan maha suci Allah sepanjang pagi dan sore.
Tiada Tuhan selain Allah dengan ke Esaan-Nya. Dia menepati janji, menolong hamba dan memuliakan bala tentara-Nya serta melarikan musuh dengan ke Esaan-Nya.
Tiada Tuhan selain Allah dan kami tidak menyembah selain kepada-Nya dengan memurnikan agama Islam meskipun orang kafir, munafiq dan musyrik membencinya.
Tiada Tuhan selain Allah, Allah maha besar.
Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.



Allah maha besar. Tiada Tuhan selain Allah. Allah maha besar dan segala puji bagi Allah.

Taqabbalallahu minna wa minkum, shiyamana wa shiyamakum.
Minal aidin wal faizin.
Taqobbal yaa Kariim.
 


Happy eid mubarak 1434 H.
Mohon dimaafkan yah segala khilaf Jessica, lahir pun batin.
Barakallahu lakuma wa baraka ‘alaikuma wa jama’a bainakuma fil khair.
Semoga Allah memberkahimu ketika senang dan susah, pun senantiasa mengumpulkan kamu dalam kebaikan.
:) 

Titik-Titik Kesederhanaan



Kita tidak akan pernah dipertemukan orang yang lebih baik daripada jodoh kita sendiri.

Akulah aku. 

Lebih kurangku, akulah aku. Tuhan menganugerahi segala keistimewaan. Menarikmu mengagumiku. Meyakinkanmu untuk selalu melayang mengiringiku. Membuatmu jatuh, tak henti mencintaiku. 

Dia juga melengkapiku segala kekurangan. Mengingatkanmu, aku bukanlah bidadari. Memberimu kesempatan melihatku sebagai manusia. Membuatmu tetap jatuh, dan semakin yakin takkan mampu kau henti mencintaiku.

Akulah aku. Cinta bagiku? Bukan sebuah angan yang kian meninggi. Cinta bagiku cukuplah gambaran titik-titik kesederhanaan. Sebuah pola pedesaan, tak mengapa untukku, asal di antaranya terhubung jalan-jalan yang bertujuan. Tanpa sebuah arah, cinta hanyalah belaka.

Akulah aku.
Tengah kupersiapkan diriku.
Bagi kesederhanaan.
Bagi seorang kamu yang tengah pula dipersiapkan bagiku.

Aku rajin berkaca.
Menatap waktu yang terus berjalan dan menginginkan pemikiranku berlari lebih kencang dari usiaku.
Menatap kedua sisiku, memikirkan, pada bagian mana kau akan berdiri, gugup, meminta restu sang ibu.

Aku – penulis ulung. Di sini kamu perlu berhati-hati.
Menulis. Ah, dunia kata. Bagaimana aku menggilai dunia ini. Jangan marah jika kuibaratkan kau seperti sebuah buku. Pada sebuah buku, aku bisa begitu mencintai. Bagaimana sebuah tumpukan kata mengubah dirinya menjadi makna. Bagaimana sebuah ilustrasi meninggikan imajinasi. Bagaimana dari baunya saja – buku bisa begitu membuatku terpesona. Seperti kamu, bedanya, kamu hidup. Dan kamu – balik mencintaiku.
Aku penulis ulung. Mungkin beberapa darinya terlalu tinggi dan tak terjangkau pemahaman di alam nyata, namun di dalamnya, kuharap kamu mampu memahami, ada jiwa di sana – yang hanya hidup ketika dari dan padamu inspirasi menyemangatiku.

Aku suka berbicara pada diri sendiri.
Sebenarnya aku tengah berbincang denganmu. Memikirkan senyummu ketika aku melembutkan bisikku pada daun telingamu. Menyipitkan mata saat entah bagaimana hal-hal tak wajar melepaskan tawa kita. Terkatup diam membayangkan apa-apa yang membuatku memalingkan wajah, hanya agar kamu tak melihat bagaimana wajahku memucat pedih.
Berbicara pada diri sendiri, bagaimanapun, sebenarnya aku tengah berbincang denganmu.

Oh ya, aku juga suka bernyanyi.
Suka atau tidak, aku tidak memintamu memberiku rantai tepuk tangan. Kamu cukup mendengarkan. Mungkin sesekali aku akan berhenti malu, tapi yang perlu kamu tahu, alunan nada itu keindahan, dari sana kita bisa melupakan himpitan-himpitan yang sesekali terasa sesak, dan kamu tahu karena itu, aku ingin terus bernyanyi untukmu. Agar kita melupakan yang sesak. Agar kita ditenangkan keindahan.
Takkan mengurangi rasa senangku bisa bernyanyi untukmu, meski tidak begitu merdu, kamu tahu, aku bernyanyi untukmu. Seperti kamu – bernyanyi untukku.

Aku suka – ah banyak sekali jika harus kurentetkan satu per satu kesukaanku. Tapi kali ini, patut dan penting kusebutkan. 

Aku suka sekali keharmonisan.

Penting bagiku, kebaikan-kebaikan dalam kebersamaan. Sebuah pola yang sudah lama dilupakan di zaman modern. Sesuatu yang teramat sederhana, pun teramat langka.

Pada hari pertama pernikahan kita, aku akan mencium punggung tanganmu dan kau akan mencium keningku. Kita terpejam, menyadari betapa karena cinta, kita saling menghidupi. Pada hari terakhir, hari dimana kita dipisahkan yang semoga oleh ajal, di tahun pernikahan kita yang kesekian, aku masih ingin tetap mencium punggung tanganmu dan kau cium keningku. Kembali terpejam, menyadari betapa karena cinta, bahkan sampai saat itu, kita masih saling menghidupi.

Pada cinta yang akan semakin dalam, aku ingin kita tidak saling lupa untuk mengingatkan. Tidak membiarkan hal yang salah. Tidak tenggelam pada ego dan keburukan masing-masing. Mengingatkan yang terlupa, melupakan yang tak perlu diingat.

Pada bentukan buah hati kita, aku ingin menatap bola matanya, memastikan kehidupannya dipenuhi kecukupan. Cukup cinta kasih orang tua. Aku ingin melihat sosokmu, seorang ayah yang tak hanya menafkahi, tapi juga memberinya ilmu agar tinggi citanya, agar luas pemahamannya. Aku ingin melihat diriku, seorang ibu yang tak hanya merawat jasmaninya, tapi juga memupuk rohani jiwanya agar tak hanya cukup dengan bekal ilmu, tapi juga dimampukan menjadi manfaat bagi dirinya dan sesama.

Pada keseharian, aku memahami tidak selamanya tawa akan mengelilingi aura masing-masing dari kita. Namun satu yang terpenting, betapa beruntungnya, jika di antara suka duka, sinar Allah SWT selalu memancar dan menaungi atap rumah kita.



Sebaik-baiknya tempat pulang hanyalah sebuah rumah. Sebaik-baiknya rumah hanyalah sebuah hati yang dipenuhi kebaikan dan berkah Sang Illahi Rabb.


Maka tengah kupersiapkan rumahmu.
Bagi kesederhanaan.
Bagi sebuah rumah yang tengah pula dipersiapkan bagiku.