Dari detik ini, aku tak pernah tahu kapan kematianku ditetapkan. Tapi, mengingatnya adalah kebiasaan yang tak kubiasakan.
Siapa yang tidak takut mati? Pun beberapa dari kita berucap tak takut, hati kecil tak mampu dibohongi. Tidak, jangan dicela dulu. Bukan artinya menolak takdir Allah. Bukan artinya tak siap menerima segala hukuman atas dosa. Tapi, rasa takut itu berdasar kepada iman atas Allah. Atau atas Tuhan masing-masing. Kita merasa takut karena percaya akan kekuatan terbijak. Sekotor-kotornya manusia, hati kecil pasti percaya, ada zat yang telah mengatur baik buruk. Ada balasan atas yang lalu. Tapi kita, manusia, sengaja atau tak sengaja, lupa. Berdosa lagi. Berdosa lagi.
Jika surga dan neraka tak pernah ada. Masihkah kau sujud kepadaNya?
Bait yang selalu gue kagumi. Pemikiran menarik. Keberadaan surga dan neraka telah tetap dalam Al-Quran. Tapi seandainya tak ada, apa jadinya manusia? Ada saja, banyak kerusakkan.
Tapi tak usahlah dipusingkan. Untuk pahala dan dosa, itu tabungan kita. Untuk surga dan neraka, itu hadiah kita. Caranya, kita masing-masing yang tentukan. Iya, kita sendiri. Tolong dibold, italic, underline sekaligus. Kita sendiri. Bukan orang lain. Tapi gue tuh yah bingung, banyakkkkkkk yang repot ngurusin orang lain dan terbawa kata-kata orang lain atas diri kita sendiri.
Orang islam atau bukan, kerudungan atau engga, tua atau muda, pake peci atau pake topi koboy, laki-laki atau perempuan, itu bukan penentu kebaikan. Lalu apa? Hati. Allah telah tetapkan. Dari hati yang teramat benderang, sampai hitam kelam sekalipun, itu takdir Allah. Tapi banyak manusia yang sok tahu. Beda sedikit, dicela. Salah sedikit, dicela. Dan yang aneh ini, bener aja, dicela. Kebayang pas hisab nanti, mulut yang paling banyak ngaku dosa, hihihi.
Gue itu simpel. Engga suka sama yang kurang baik, itu aja. Mau dia beda agama, budaya, ras, negara, kasta, atau apapun, yang gue lihat pertama kali, insyaAllah pasti hati. Pembeda yang macem-macem itu buatan manusia. Tapi pembeda hati, itu buatan Allah.
Cuma hati yang mampu membuat kebaikan kita ingin dilihat atau tidak. Cuma hati yang mampu membuat mulut kita terjaga dari yang seharusnya tak terucap atau tidak. Cuma hati yang mampu membuat keputusan-keputusan hidup sudah benar atau belum. Cuma hati yang mengelola jiwa raga.
Tapi jangan salah kaprah. Jangan mentang-mentang yang penting hati, yang lainnya seenaknya.
Kasus satu.
"Ah, yang penting hati yang diliat, mabok gapapa dong, asal hatinya tetep baik."
Orang berhati baik, mana demen mabok. Ga baik buat kesehatan, dan dilarang sama agama. Tapi ada juga, misal, orang yang suka mabok tapi rajin sedekah. Nah, rajin sedekahnya sudah baik nih, yaa tinggal maboknya yang coba dihilangkan. Begitupun kasus lain di kehidupan. Yang sudah baik ditingkatkan, yang belum, dirubah agar baik.
Kasus dua.
"Nih kayak gue, gue tiap hari pake celana di atas mata kaki dan peci/hijab menutupi seluruh tubuh, udah pasti baiklah gue."
Baik kok pamer. Udah pasti baik kok sama anak suka pukul. Udah pasti baik kata-kata kok kayak engga pernah sekolah. Malu dong sama yang lihat peci kita/hijab kita. Sama nih, yang sudah baik ditingkatkan, yang belum, dirubah agar baik.
Got it, Guys?
Penampilan kita, sangat baik kalau dijaga, tapi akan jauh lebih baik disertakan dengan terjaga pula kata-kata, pun perilaku.
Sudahlah yuk, kita semua itu penuh dosa. Bedanya, banyak tidaknya. Boleh mengajak, tapi mohon, dengan cara yang baik, bukan mencela. Nabi Muhammad adalah sebaik-baik teladan. Ingat itu aja. :)
Seperti apapun orang lain, yuk ajak kepada kebaikan dengan cara yang baik pula.
Seperti apapun kita dalam kata-kata orang lain, yuk pedulikan apa yang baik bagi kita saja. Yang tidak bermanfaat, cuekkin ajalah, jangan pusing sendiri.
Sebaik-baik penilai itu Allah ta'ala. Bagaimana ikhlas benar-benar menjadi penentu hati, karena ikhlas adalah poros setiap individu. Ikhlas dalam perilaku pun kata-kata, pasti membuat kita dengan sendirinya dicintai Allah. Pribadi yang dicintai Allah, hatinya akan menyetir kata-kata pun perbuatan kepada yang baik.
Yang membuat kita masih dilihat sebagai orang baik di mata manusia bukan karena kebaikan itu sendiri, tapi karena Allah masih menutupi aib kita. Coba Allah buka sedikiiiitt saja, mau dimana kita sembunyikan muka?
Jadi, yuk bareng-bareng, terus perbanyak istighfar atas gunungan dosa dan terus tingkatkan yang sudah baik.
Sembunyikan ibadah kita, sembunyikan aib sesama, seperti kita menyembunyikan aib diri sendiri.
Well, sudah kepada tingkatan apa hati kita? Sssst, cukup siapa sebagai penilai? Iyaaaaaaaa, Allah. Itu gaji pokok kita. Penilaian manusia, anggap bonus dari Allah. Namanya bonus, bisa ada bisa engga. :)
Jadi, masih takut mati? Bagus, dengan begitu, kita takut berbuat yang kurang baik. Dengan begitu, insyaAllah, kita lebih apik merawat hati.
Siap tidak siap, kematian itu dekat. Semoga ketika ia menyergap, hati kita pun telah taat.
Penutupnya, lagu Aa Gym cocok nih.
Jagalah hati, cahaya Illahi.
:)