Pada satu kasih, terlembut dan tertulus. Pada satu cinta, terbaik pun terdalam. Pada apapun bentuk yang mampu kuungkap, tak satupun dapat menerangkan bangganya aku memiliki sosokmu, Ibu. Namun setinggi-tingginya cinta ini, kau akan selalu lebih mencintaiku.
Matamu; bercahaya menguatkan. Mengurai arti sebenar-benarnya kasih. Membuka mata hatiku jikalau aku tengah tersesat. Namun sedihnya aku, ketika disadarkan bahwa waktu membuatnya semakin sayu.
Senyummu; melengkung menenangkan. Membuat aku mengerti cara memandang dunia agar tak meninggi aku dibuai prestasi; tak hancur disentak cobaan. Dan pedihnya aku, ketika disadarkan waktu terlalu cepat mengukir lekukan kerut-kerut.
Lenganmu; halus menjaga. Kuat menghalau segala duka yang mungkin akan membuatku terluka; lembut membelai dan mendekap ketika aku terlanjur dibalut asa. Namun betapa teririsnya aku, ketika disadarkan waktu menghisap energimu; dan kau melemah.
Langkahmu; tulus menapak. Menuntunku mempercayai pada satu-satunya kekuatan terbesar, kelembutan terindah, ketinggian akidah, dan kemurnian cinta. Mengingatkanku untuk tetap berjalan lurus pada satu cahaya; kemilau surga. Namun tertunduklah aku, ketika disadarkan bahwa waktu tak selamanya mengizinkanmu berdiri tegap di sampingku.
Dengan sedemikian rupa, waktu mempersiapkanmu menemui ajalmu. Namun sampai saatnya tiba, engkau telah berusaha memastikan aku telah kau jadikan mampu menghadapi angkuh dunia; menelan dengan mudah kepahitannya; lalu menjadi pencipta segala kebaikan, bercahaya bagi pribadiku dan orang-orang sekitar. Engkau telah berusaha memastikan aku didampingi sebaik-baiknya pendamping. Engkau telah berusaha memastikan kehidupanku akan tetap sempurna, meski dirimu telah tiada.
Aku begitu memahami engkau telah begitu menua, namun aku tetap merasa tak siap kau tinggalkan. Karena sungguh, Ibu, tak kumiliki satupun yang teramat berharga kecuali engkau. Namun tak ingin pula aku melihatmu terlalu lama berjuang memerangi kehidupan. Tak ingin pula aku menatapmu memikirkan lebih banyak cara membuatku tetap bahagia. Maka dengan kecintaanku yang telah teramat; teruntukmu, akan kulapangkan engkau beristirahat dengan tenang. Jangan khawatirkan aku, kehidupanku telah kau persiapkan; sebagaimana aku akan mempersiapkan kehidupan anak-anakku kelak. Jangan khawatir, Ibu. Satu yang ingin pula kupastikan bagi berjalannya kebaikan untukmu meski telah tiada nanti; doa kami putra-putrimu, insya Allah ‘kan selalu memberimu cahaya.
Dan sebelum masa itu tiba, ingatkan aku untuk banyak meminta maaf. Ingatkan aku untuk lebih gigih memperjuangkan kebaikan-kebaikan kehidupan. Ingatkan aku untuk tak malu memelukmu, meski sekadar mengucapkan, betapa aku mencintaimu.
Betapa aku...sangat mencintaimu.
Teruntukmu,
Sebuah cahaya dalam cahaya,
Ibu Ratna Diningsih Zainal
:’)


