Suatu awal bermula dari ketiadaan, untuk kemudian menuju akhir. Tak ada akhir tanpa awal dan tak ada awal tanpa akhir. Tak ada awal dan akhir – tanpa ketiadaan.
Cinta – pun, bermula dari ketiadaan. Menatapmu, yang kala itu kupikir sekadar rasa suka anak remaja. Menatapmu, yang kala itu kupikir mataku salah, ketika menyadari milikmu mencuri pandang, balik menatap, bola mataku yang kemudian menghindar malu.
Dan cinta mengendap. Menjerit-jerit luka, mengimani kepastianNya, untuk kemudian memahami bagaimana menjadi bahagia dengan menatapmu, dari tempat dan hati yang paling jauh yang pernah terbayang.
Hingga Tuhan, akhirnya merestui. Hingga kita, akhirnya maju mengakui. Hingga cinta, akhirnya melingkar menaungi.
Awal permulaan, aku menatap dan menyukai, bagaimana kau pandangi aku layaknya bidadari.
Awal permulaan, aku mendalami dan menyukai, bagaimana kau bernyanyi menghadiahi lirik-lirik surgawi.
Awal permulaan, aku berjingkat dan menyukai, bagaimana kau menarikku dalam rengkuh peluk dan bisikkan hati.
Awal permulaan, aku berdegup dan menyukai, bagaimana kau mengucap rindu tanpa ingat telah mengulangnya berulang kali.
Pandangi aku lagi.
Bernyanyilah kembali.
Peluk aku usah henti.
Dan rindukan aku tanpa tepi.
Meski bukan lagi awal mula, kini.
Segala awal pada permulaan, dimana aku menyukai segala yang kupikir memang telah dicipta untuk kusukai, masih selalu kusukai – masih selalu kunanti – kunikmati.
Segala awal pada permulaan, dimana kau pun menyukai segala yang kau pikir telah dicipta untuk kau sukai, kuharap, masih selalu kau sukai – masih selalu kau nanti – kau nikmati.
Tentang kamu, cinta, hati, dan segalamu.
Tentang aku, cinta, hati, dan segalaku.
Segala awal pada permulaan, hingga kini, hingga akhir nanti, seandainya saja, semoga – Tuhan masih tetap merestui. Hingga kita, akhirnya maju mengakui. Hingga cinta, akhirnya melingkar menaungi.

